Lombok Post
Feature Headline

Cara Australia Mengangkat Derajat Peternak Sapi : Sukses Berkat Persahabatan para Peneliti

BAHAS SAPI : Dosen di University of Queensland Dr Max Shelton (tengah), peneliti ternak dari UNiversitas Mataram Prof Yusuf Akhyar Sutaryono (dua dari kiri) dan Dr Dahlanudin (tiga kanan) bersama para peserta International Media Visit (IMV) 2017 diskusi tentang program sapi di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Fathul/Lombok Post

Hubungan pemerintah Indonesia dengan Australia kerap kali panas-dingin. Tapi tidak banyak yang tahu, para peneliti dan peternak sapi di kedua negara ini memiliki ikatan batin yang kuat. Peternak di Idonesia, khususnya di Lombok dan Sumbawa banyak mendapat pengetahuan dalam penggemukan dan pengembangbiakan sapi.A� Wartawan Lombok Post berkesempatan bertemu para pakar yang terlibat membantu peternak NTB di University of Queensland Australia, Sabtu (6/5).

***

LEBIH MUDAH : Seorang perempuan pemilik ternak di kelompok ternak Ngiring Datu, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU) memberikan pakan pada ternaknya.
Fathul/Lombok Post

PADA 2011, suatu hari yang hujan, kandang sapi di kampung itu becek. Atap kandang yang terbuat dari ilalang dan daun kelapa tak mampu menghalangi air hujan masuk ke dalam kandang. Tanah yang becek ditambah kotoran sapi bercampur jadi satu. Beberapa pemilik ternak menuangkan rumput di dalam kandang yang sudah mereka kavling. Rutinitas itu dilakukan setiap hari. Saat itu isi kandang kelompok yang diberi nama a�?Ngiring Datua�? itu masih bisa dihitung dengan jari. Belum semua peternak mau bergabung. Lebih memilih mengandangkan sapi mereka di dekat rumah. Boleh dibilang rumah peternak satu tempat dengan kandang sapi.

Murdah, salah seorang peternak di awal-awal pendirian kelompok itu mengingat betapa sulitnya meyakinkan warga agar mau mengandangkan ternak mereka di dalam kandang kolektif. Setelah melakukan pendekatan dan hasilnya terlihat, warga di sekitar kampung itu berduyun-duyun masuk menjadi anggota kelompok. Kandang yang lebih bagus dan lebih luas menampung seluruh peternak. Kini tidak ada lagi peternak yang tinggal serumah dengan ternak mereka.

a�?Ternak lebih aman dan rumah lebih sehat,a��a�� kata Murdah.

Murdah, di tahun 2011 itu adalah peternak biasa. Seperti peternak lainnya dia memberikan makan sapinya dengan rumput dan dedaunan. Saat musim padi, pakan dari sisa batang padi berlimpah. Saat kurang pakan, dia memberikan batang pisang. Yang penting sapi kenyang peternak sudah bisa tidur nyenyak. Tapi Murdah keliru. Memberikan makanan semaunya dan banyak bukanlah cara yang tepat.

Tahun 2013,A� peneliti dari University of Queensland Australia, Universitas Mataram, BPTP Balitbang Pertanian NTB mulai turun melakukan pendampingan. Setelah para peneliti ternak ini melihat kondisi kelompok ternak, memetakan semua masalah, dan mendata semua potensi, program pun dimulai. Mereka tinggal bersama para peternakA� dan tidak mengguyur dengan berbagai bantuan yang lazim diberikan pada kelompok tani. Para peneliti ini ingin mengubah cara pandang petani. Mereka akan meningkatkan pemahaman para peternak tentang potensi sekitar mereka.

Para petani didisiplinkan. Mereka diajar untuk tidak memberikan makan sembarangan pada sapi mereka. Banyak makan akan cepat gemuk dikoreksi. Pakan sapi harus diatur. Kapan harus banyak makan pakan tertentu, kapan cukup diberikan makanan tertentu, termasuk juga mengatur kapan harus kawin. Sesuatu yang tidak lazim pada peternak. Jadwal kawin, masuk ke jadwal bunting harus disesuaikan dengan ketersediaan pakan. Saat bunting sapi harus diberikan pakan yang sudah diajarkan , agar kelak anak sapi keluar dalam keadaan sehat dan berat badan ideal. Saat musim kering, ada cadangan pakan yang sebenarnya sudah lama dimanfaatkan petani, tapi tidak menyadari manfaatnya. Petani hanya tahu tumbuhan itu disenangi sapi. Belakangan mereka tahu, tumbuhan itu mengandung gizi paling tinggi. Tumbuhan itu adalah lamtoro, turi, dan kelor. Program pembiakan sapi berjalan beriringan dengan budidaya lamtoro.

a�?Jauh lebih efektif cara yang kami diajarkan. Sapi kami lebih sehat, kami juga tidak terlalu susah mengatur pakan,a��a�� kata Murdah saat ditemui Lombok Post, Sabtu (4/5). Murdah pun meminta pada wartawan Lombok Post untuk menceritakan bagaimana kondisi kelompok mereka pada tahun 2011 itu, saat kali pertama Lombok Post berkunjung.

Di hadapan peserta International Media Visit (IMV) 2017 yang berkunjung ke kandang kolektif Ngirin Datu, Murdah menjelaskan sangat detail. Dia hafal komposisi masing-masing pakan, kandungan gizi, kapan pemberian pakan itu, dan dampak pakan itu pada sapi. Beberapa kali Murdah menyebut angka-angka : bobot sapi dan nilai jual yang fantastis. Begitu juga dengan kandang yang setiap tahun selalu bertambah. Dari awalnya 86 kepala keluarga (KK) yang terlibat dengan aset sapi masing-masing satu atau dua ekor, kini jumlah sapi milik anggota kelompok mencapai 245 ekor. Belum termasuk yang dijual rutin setiap minggu atau setiap gelaran hari besar.

a�?Murdah ini sekarang sama jagonya seperti mahasiswa S3 peternakan,a��a�� timpal peneliti dari BPTP Balitbang Pertanian NTB Dr Tanda Sahat Panjaitan. Tanda menemani kami saat berdiskusi dengan kelompok Ngiring Datu dan memberikan kesempatan lebih banyak untuk kelompok menjelaskan program. Bagi Tanda, para peternak di Ngiring Datu kini kemampuan dan pengetahuan mereka sudah jauh meningkat. Pendampingan selama tiga tahun dinilai Tanda sukses. Sebagai salah satu tim dia merasa bangga.

a�?Kami tidak datang dengan bantuan, tapi membantu meningkatkan pengetahuan. Pengetahuan lokal yang sebenarnya sudah ada,a��a�� katanya.

Nyaris tidak ada unsur teknologi dalam program pendampingan. Pakan yang dipakai adalah pakan yang tumbuh di sekitar. Para pendamping hanya memberikan a�?rahasiaa�? pakan yang kadang disepelekan. Seperti manfaat kelor, ketujur, lamtoro. Mengatur makan sapi, mengatur kandang, dan termasuk mengatur kawin. Para peneliti menjelaskan manfaat jika melakukan cara-cara yang diajarkan. Setahun berjalan hasilnya kelihatan, dan berbondong-bondonglah peternak yang belum bergabung ikut dalam Ngiring Datu.

a�?Ini murni peningkatan kapasitas berbasis pengetahuan lokal, tidak ada teknologi,a��a�� kata Tanda.

******

Matahari bersinar sempurna. Sabtu siang menjelang sore (6/5) Dr. Max Shelton sudah menunggu di kawasan Fakultas Pertanian. Kawasan itu terdiri dari beberapa program studi yang satu rumpun. Max mengajak kami berkeliling kampus dan menjelaskan bangunan-bangunan yang ada. Bangunan menjulang tinggi dengan halaman luas dan bersih membuat para mahasiswa asyik rebahan di halaman kampus. Sementara kami, para rombongan IMV 2017 bersama perwakilan Kedutaan Besar AustraliaA� Jakarta dan Konjen Australia Bali menikmati kopo di salah satu kantin di pojok kampus.

Tamu yang ditunggu tiba. Dan wartawan Lombok Post langsung terkejut dengan tamu yang ditunggu. Dia adalah Prof Yusuf Akhyar Sutaryono. Dosen peternakan Universitas Mataram. Selama ini Prof Akhyar memang kerap muncul di media lokal NTB sebagai narasumber untuk isu peternakan. Prof Akhyar datang bersama rekannya sesama dosen Universitas Mataram Dr. Dahlanudin.

Max begitu senang mendengar cerita kami para peserta IMV yang berkunjung ke kelompok ternak Ngiring Datu di KLU. Max mengajak kami berajak dari meja kantin. Diskusi akan lebih serius digelar di dalam ruangan. Kami para peserta IMV dari media NTB, Bali, dan Jakarta bersyukur Max cepat-cepat mengajak masuk ruangan. Matahari terik, tapi udara dingin sudah mulai menyelimuti Queensland. Suhu 190C di luar ruangan, bagi kami yang tinggal di daerah tropis sudah terasa dinginnya.

Raut wajah Max terlihat gembira saat menjelaskan program yang mengubah nasib peternak di KLU, seperti Murdah, dan peternak di Sumbawa, dan Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT). Tiga daerah itulah yang menjadi sasaran program penggemukan dan pembiakan sapi jenis sapi Bali.

Praktek memberikan makan lamtoro pada sapi sebenarnya sudah lama dilakukan peternak di Australia, khususnya di bagian Northern Australia. Max menunjukkan peternakan sapi yang sangat luas. Di dalam peternakan itu berjejer tumbuhan lamtoro, yang bagi para peneliti ini disebut sebagai emas hijau di lahan kering.

Peternak di Lombok, Sumbawa, dan NTT sebenarnya sudah memberikan pakan lamtoro. Tim peneliti ini hanya membantu meningkatkan kapasitas dan pengetahuan petani. Max berulang kali menekankan bahwa peternakan Australia yang begitu terkenal juga memberikan pakan yang sama dengan peternak di NTB.

Para peneliti ini meriset komposisi pakan terbaik, termasuk juga mencarikan jenis lamtoro yang paling bagus kuaitasnya. Akhirnya ketemulah lamtoro jenis Tarramba. Awalnya bibit lamtoro ini dari Haiti. Dikembangkan di Australia, dan kemudian dikembangkan di NTB dan NTT. Tidak sekadar ditanam, para petani juga didampingi untuk budidaya pakan ternak paling mujarab untuk penggemukan sapi ini. Hasilnya puluhan ribu bibit lamtoro kini mampu disediakan secara mandiri oleh peternak.

a�?Kami sudah bekerja bersama lebih dari 1.000 peternak di NTB dan lebih dari 900 peternak di NTT,a��a�� kata Max.

Max yakin setelah program pendampingan berakhir, peternak dampingan di Lombok, Sumbawa, dan Sumba akan tetap disiplin dengan ilmu yang diberikan para peneliti. Mereka merasakan manfaat program pendampingan. Mereka mengajak rekan mereka sesame peternak. Berbagi ilmu, dan menjadi guru bagi peternak yang baru bergabung. Di Australia, kata Max, juga seperti itu. Pengetahuan dan pengalaman terus dibagikan ke peternak lainnya. Max tidak khawatir setelah tim Australia tidak lagi kembali ke Indonesia, para peternak akan kembali ke cara lama. Selain masih banyak tim dari NTB dan NTT yang selalu bersama peternak, keberhasilan yang dirasakan langsung para peternak akan membuat mereka bertahan.

a�?Malahan sekarang kami sedang merayu agar bibit lamtoro jenis baru yang lebih bagus bisa kami bawa sebagai oleh-oleh,a��a�� kata Prof Akhyar.

Ya. Sekarang pemerintah Australia sedang mengembangkan lamtoro jenis baru. Lebih kuat dan lebih bergizi dibandingkan Turramba. Tapi jenis baru ini belum boleh keluar dari Australia. Kebijakan Australia, jika ada tanaman baru yang bagus harus dinikmati dulu peternak Australia, baru kemudian dibawa ke negara lain. Jalur persahabatan inilah yang mempercepat transfer pengetahuan termasuk bibit itu.

Prof Akhyar menuturkan selama menjalankan program ini, para peneliti Australia, NTB, dan NTT bekerja dalam diam. Tidak banyak publikasi, termasuk juga tidak banyak dukungan pemerintah pusat. Bahkan nyaris tidak ada.

a�?Kami tidak punya akses ke pemerintah pusat,a��a�� kata Prof Akhyar.

Para peneliti ini telah menjembatani dan memperkuat persahabatan kedua negara. Kadang saat hubungan antara pemerintah Australia dengan Indonesia memanas, para peneliti ini menjadi juru damai. Hubungan emosional peternak Australia dengan Indonesia dijembatani oleh peneliti kedua negara. Hubungan memanas kedua negara tidak memengaruhi komitmen mereka untuk mengadikan ilmu kepada para peternak. Mereka akan terus menjalin persahabatan, dan Max, walaupun sudah pensiun mengaku akan selalu rindu untuk turun bersama para peternak di Lombok, Sumbawa, dan Sumbawa. Sementara Prof Akhyar dan Dr Dahlanudin selalu berharap persahabatannya dengan Max dan tim peneliti Australia akan mempercepat transfer pengetahuan dan pengalaman peternak Australia ke peternak Indonesia. Termasuk juga mempercepat bibit-bibit yang unggul di Australia kelas tumbuh di Indonesia. (FATHUL RAKHMAN, Australia/r8)

Berita Lainnya

Jaksa SP3 Kasus Izin Hutan Sekaroh

Redaksi LombokPost

Pengerukan Dermaga Labuhan Haji Terancam Molor

Redaksi LombokPost

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost