Lombok Post
Headline Kriminal

Melihat Dapur Para Penghuni Lembaga Pemasyarakatan Mataram

SIAP ANTAR: Petugas dapur Lapas Mataram dilengkapi seragam khusus yang membedakan mereka dengan narapidana pada umumnya. Seragam ini pula yang digunakan sehari-hari saat meracik bahan makanan menjadi makanan layak saji untuk penghuni Lapas. DIDIT/LOMBOK POST

Kaburnya ratusan narapidana (Napi) dan tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Sialang Bungkuk, Pekanbaru Riau beberapa hari lalu menggegerkan masyarakat. Sejumlah media melansir penyebab kaburnya tahanan akibat perlakuan petugas yang tidak memanusiakan mereka. Potret ini bisa menjadi ancaman bagi lapas lainnya di Indonesia. Bagaimana di NTB?

***

Kalapas Mataram Gun Gun Gunawan sadar betul akan hal itu. Mantan Karutan Bandung ini mengatakan, banyak hal yang ia ubah ketika menjabat sebagai kalapas baru. Salah satunya adalah makanan kepada napi dan tahanan.

Meski terlihat sepele, perubahan tersebut dinilai Gun Gun akan membawa efek besar. Salah satunya protes dari penghuni lapas akibat mendapat makanan yang tidak layak.

Masalah makanan, kata dia, memiliki dampak yang cukup luas. Bukan sekadar masalah menu dan pembagian jatah makanan kepada setiap warga binaan. Tetapi juga menimbulkan pengaruh sangat besar terhadap keamanan.

Jika makanan tidak layak, bisa saja menimbulkan protes dan keributan dari warga binaan. Selain itu, warga binaan yang mengkonsumsi makanan tidak layak tidak berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi mereka.

Karena itu, saat menginjakkan kaki pertama kali di Lapas Mataram, yang pertama diubah adalah dapur. Jika sebelumnya satu ruangan dimanfaatkan sebagai tempat memasak, memotong bahan makanan, dan mencuci peralatan kotor, kini tidak seperti itu.

Dapur lapas setidaknya memiliki tiga tempat berbeda untuk memproses bahan makanan menjadi makanan layak saji. Dua ruangan terletak di luar, difungsikan sebagai tempat mencuci alat dapur dan sayur mayur, serta untuk memotong bahan makanan. Satu tempat lainnya, digunakan untuk memasak.

Di ruang memasak itu, alat memasak milik Lapas Mataram juga terbilang modern. Mereka menggunakan empat unit steam penanak nasi. Dengan steam itu, membantu kerja petugas dapur lebih cepat. Selain itu, nasi yang dihasilkan dengan memasak menggunakan steam, terasa lebih enak dan sangat layak untuk dimakan.

a�?Saya selalu ingatkan kepada petugas dapur, bahwa yang di dalam (warga binaan di dalam sel, Red), yang diberi makan adalah sahabat, keluarga kita, yang harus layak diberi makan,a�? terang mantan Karutan Bandung ini.

Tidak sampai disana, setiap makanan yang disajikan, harus ia coba lebih dulu. Jika tidak layak, maka ia akan meminta pengurus dapur untuk membuat ulang.

a�?Kalau kurang sesuatu, misalnya garam, ya saya suruh tambahkan,a�? ujarnya.

Aktivitas memasak di Lapas Mataram sendiri dimulai sejak dini hari. Setiap paginya, sekitar pukul 09.00 Wita, bahan makanan untuk menu masakan akan diantarkan rekanan Lapas. Seperti yang terlihat (7/5) lalu, satu unit mobil boks parkir di depan pintu masuk Lapas Mataram. Salah seorang tahanan, memakai baju kaos berkerah berwarna biru, mendekati bagian belakang mobil. Dia terlihat membuka pintu belakang dan menurunkan sejumlah bahan makanan berupa sayur.

Sayur-sayuran itu lantas ditaruhnya ke dalam keranjang plastik. Bertumpuk-tumpuk hingga penuh. Satu alat pengangkut beroda, disiapkan. Digunakan untuk membawa keranjang plastik berisi sayuran ke bagian dalam Lapas.

Asmaul Husnandar atau Maul, pria pembawa bahan makanan itu mengarahkan alat pengangkut ke pojok kanan Lapas. Disanalah dapur Lapas Mataram.

Begitu bahan makanan tiba, sebanyak sembilan petugas dapur, termasuk Maul, langsung bekerja. Beberapa sayuran diambil dan dicuci dengan bersih menggunakan air mengalir. Di tempat khusus, yang terpisah dari tempat memasak.

Setelah bersih, sayur-sayur itu dipotong. Petugas dapur pun terlihat lincah. Memainkan pisau dapur untuk memotong sayuran dan bahan makanan lainnya.

Saat Lombok Post memperhatikan lebih detail, ada yang berbeda dari penampilan petugas dapur di Lapas Mataram. Rupanya mereka diberikan seragam khusus untuk bekerja di dapur. Bentuk seragamnya pun serupa dengan yang dipakai para chef dan koki di hotel. Satu celemek berwarna hitam dengan tulisan kitchen Lapas Mataram, tak pernah lepas dari mereka.

Mengenai seragam itu, Gun Gun Gunawan mengatakan, seragam itu memang ia bikin khusus untuk petugas dapur. a�?Seperti koki di hotel,a�? kata Gun Gun.

Menurut Gun Gun, ada tujuan khusus dengan dibuatkannya seragam tersebut. Dia menilai, dengan pakaian yang rapi dan bersih, akan berpengaruh pada lingkungan dapur. Muaranya juga pada makanan yang disajikan kepada warga binaan di dalam Lapas Mataram.

a�?Kalau asal-asalan mereka berpakaian, yakin gak makanan itu hieginis?,a�? terang dia.

Bagaimana dengan kapasitas lapas yang membludak, apakah mempengaruhi jatah makanan? Masalah kapasitas penghuni dengan alokasi makanan, diakui Gun Gun menjadi atensinya. Dia harus memutar otak menyiasati anggaran makanan untuk disesuaikan dengan jumlah warga binaan.

a�?Kapasitas kita 264 orang tapi penghuninya sekitar 850 orang, jelas kita berpikir terkait makanan,a�? jelas dia.

Meski demikian, Gun Gun memastikan tidak mengubah menu. Makanan yang diberikan kepada warga binaan, memiliki ketentuan ukuran gram sesuai gizi. a�?Misal satu telur rebus untuk satu orang, karena kekurangan makanan kita bagi dua, itu tidak bisa seperti itu,a�? ucapnya.

Karena itu, untuk menyiasatinya agar kebutuhan makanan kepada warga binaan tetap terpenuhi, Lapas Mataram terpaksa ngebon (berhutang) kepada rekanan yang menyuplai bahan makanan. a�?Ngebon dulu, dibayarnya tahun depan,a�? terang dia.

Sementara itu, mengenai bahan makanan, Maul yang diamanahkan sebagai pemuka dapur mengatakan, setiap bahan makanan yang diolah selalu segar. Sehingga setiap warga binaan menerima makanan yang layak untuk dimakan.

a�?Tidak ada bahan makanan yang disimpan, selalu habis untuk dimasak setiap hari,a�? kata dia.

Maul menjelaskan, bahan makanan yang di drop setiap hari untuk dapur lapas, disesuaikan dengan menu hariannya. Yang pasti, setiap harinya, mereka menghabiskan 15 karung beras dengan berat satu karungnya 25 Kg.

a�?Semua bahan makanan kita segar, karena memang dibeli setiap hari tergantung menunya,a�? terang Maul yang tiga tahun terakhir ini bekerja di dapur Lapas.

Pria asal Lingsar ini merasakan betul perubahan pola kerja di dapur Lapas Mataram. Terutama terkait kebersihan dan kelayakan makanan untuk warga binaan.

Kata dia, perubahan yang paling terlihat adalah nasi. Dulunya, nasi yang disajikan masih banyak berupa etak (beras yang belum terkelupas kulitnya, Red).

Pernyataan Maul diperkuat Jaelani, salah satu warga binaan. Dia memuji perubahan kebersihan dan rasa nasi yang disajikan dapur Lapas Mataram. Perubahan itu pula membuat ia tak selalu menitip makanan kepada keluarganya untuk dibawa ke Lapas Mataram.

a�?Rasa nasinya yang terlihat perubahannya, lebih enak untuk dimakan,a�? pungkas dia.(wahidi akbar sirinawa)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost