Lombok Post
Headline Kriminal

Bhabinkamtibmas Desa Taman Indah, Loteng Brigadir Dahmanto Diundang Presiden ke Istana Negara

PERPUSTAKAAN KELILING: Brigadir Dahmanto membuat perpustakaan keliling dari mobil pribadinya, di Desa Taman Indah, Lombok Tengah. Gerakan kecil yang dibuat Brigadir Dahmanto mendapat apresiasi dari Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. DIDIT/LOMBOK POST

Meski hanya Polisi berpangkat rendah, Brigadir Dahmanto pernah diundang Presiden Joko Widodo untuk makan siang bersama. Bukan itu saja, Bhabinkamtibmas Desa Taman Indah, Lombok Tengah ini, diberikan perhargaan oleh Presiden dan Kapolri atas prestasinya menumbuhkan budaya membaca di desa binannya.

***

Suatu siang usai melaksanakan ibadah salat Jumat (28/4), telepon genggam milik Dahmanto berdering. Satu nomor, yang tak ia kenal, muncul di layar handphonenya. Sejenak ia ragu menjawabnya. Namun setelah cukup lama berdering, Dahmanto akhirnya mengangkat panggilang tersebut.

Rupanya panggilan itu berasal dari Sekretarian Kepresidenan. Mereka mengundang Brigadir Dahmanto untuk terbang ke Jakarta. Menemui dan makan siang bersama dengan Presiden Jokowi.

Mendengar kabar itu, Dahmanto tak begitu saja mempercayainya. Apalagi dia merasa tidak ada hal istimewa yang pernah ia kerjakan, hingga bisa diundang ke istana negara. Bahkan bertemu dengan kepala negara.

a�?Karena memang tidak ada informasi dari komandan saya. Kalau kepolisian kan seperti itu, perintahnya melalui atasan,a�? kata Brigadir Dahmanto menceritakan awal ia bertemu dengan Jokowi.

Setelah melakukan koordinasi dengan atasannya, Brigadir Dahmanto berangkat menuju Jakarta. Selain menemui Presiden, Dahmanto juga diundang untuk menemui pimpinan tertinggi korps Bhayangkara, Jenderal Tito Karnavian.

a�?Dapat apresiasi juga dari Kapolri,a�? ujarnya.

Saat berada di Jakarta, pria yang tiga kali ikut tes polisi ini baru mengetahui penyebab ia hingga diundang untuk menemui Presiden dan Kapolri. Ini berkat idenya yang membuat perpustakaan keliling menggunakan mobil pribadinya, di Desa Taman Indah, Loteng.

Kata Dahmanto, tercetusnya ide perpustakaan keliling ini berawal dari penertiban administrasi Kepala Dusun (Kadus) di Desa Taman Indah. Saat penertiban itu, rupanya ada sejumlah kadus yang tidak memiliki ijazah SMA.

Dari sana, dia mendapatkan fakta jika banyak warganya yang memang putus sekolah karena faktor ekonomi. Kemudian minat baca yang rendah karena terbatasnya buku bacaan.

Guna mengatasi kondisi tersebut, Dahmanto berusaha untuk membantu. Dia memutuskan mengubah mobil pribadinya menjadi perpustakaan. Berkeliling dari dusun ke dusun membawa ratusan buku bacaan.

a�?Memang tidak bisa membantu untuk warga sekolah lagi. Tapi dengan perpustakaan keliling ini, paling tidak minat baca warga bisa terdongkrak,a�? katanya.

Memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan. Terutama menumbuhkan minat baca. Hal ini dirasakan Dahmanto ketika ia pertama kali membawa buku.

Sejumlah warga yang melihat Dahmanto dengan mobil berisi buku, berpikir jika ia menjual buku-buku tersebut. Saat ditawarkan, beberapa warga malah berujar jika mereka tidak memiliki uang untuk membeli buku tersebut.

a�?Tapi saya bilang, kalau buku itu gratis. Bisa dipinjam untuk dibaca tanpa harus mengeluarkan biaya,a�? ujarnya.

Tugas sebagai Bhabinkamtibmas tak menyurutkan Dahmanto untuk berkeliling menjajakan buku bacaan. Meski sebagai Bhabin memiliki tugas yang cukup banyak, Dahmanto selalu menyempatkan diri untuk turun dengan perpustakaan kelilingnya.

Sekarang ini, banyak warga yang antusias menunggu kedatangan Dahmanto dengan buku bacaannya. Di setiap dusun, dia memiliki tempat tongkrongan yang menjadi lokasi perpustakaan kelilingnya. Kedatangannya selalu ditunggu warga di tempat tersebut.

a�?Warga minta untuk dibuatkan jadwal perpustakaan keliling. Tapi saya tolak, karena takut berbenturan dengan tugas. Tapi kalau tidak ada tugas, saya pasti berkeliling,a�? kata pria satu anak ini.

Antusiasme warga memang sedikit membuatnya semangat untuk berkeliling dengan buku bacaannya. Namun di sisi lain ia cukup kewalahan menghadapi permintaan warga.

Seiring dengan tumbuhnya minat baca warganya, Dahamanto kesulitan dalam memenuhi buku bacaan yang diminta warga. Setiap harinya, rata-rata 30 orang di setiap dusun, yang meminjam buku darinya. Sementara buku yang ia punya di perpustakaan kelilingnya, hanya ada sekitar 300 buku.

a�?Disini ada 10 dusun, yang baca banyak, tapi stok bukunya sedikit,a�? ujarnya.

Bukan hanya stok buku yang membuat Dahmanto kewalahan. Beberapa permintaan buku bacaan dari warganya, membuat ia harus merogoh kocek dalam-dalam. Banyak warga request buku mengenai sejarah tokoh nasional dan cerita nabi.

Buku-buku itu memang belum ada dalam koleksi perpustakaan kelilingnya. Karena itu, dia harus membeli sendiri dengan menggunakan uang pribadinya.

a�?Beli bukunya pakai dana pribadi. Kemarin saat ke Jakarta, itu sempat dapat sumbangan buku juga, jadi cukup terbantu menambah koleksi,a�? bebernya.

Di sela-sela kegiatannya menumbuhkan minat baca, dia menyelipkan pesan-pesan kepada warganya, terutama mereka yang masih remaja dan tengah duduk di bangku sekolah. Kata dia, apapun yang terjadi, anak-anak muda harus tetap sekolah.

a�?Meski terlihat sederhana, tapi saya harapkan ini bisa menjadi penggerak revolusi mental terutama untuk minat baca,a�? pungkasnya.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost