Lombok Post
Metropolis

Pemkot Mataram Jangan Diam Saja dengan Maraknya Galian

TAK LAGI MULUS: Sisa galian kabel FO di Jalan Airlangga yang menyisakan gundukan tanah dan separator jalan yang terbuka tak dipasang kembali, kemarin. Wahyu/Lombok Post

MATARAMA�– Pemkot Mataram masih belum bertindak atas berbagai galian yang terus-terusan terjadi di kota ini. Padahal keluhan dari berbagai lapisan masyarakat terus bermunculan atas gangguan yang kini membayangi.

“Mereka berizin semua kok,a�? alibi Kasatpol PP Kota Mataram Chairul Anwar.

Terbaru, keributan hampir terjadi di Pagutan karena galian yang dilakukan secara serampangan. Keributan bermula ketika penggalian yang dilakukan di area itu justru melebar ke pekarangan warga.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”8″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Pekerja lapangan yang mendapati aspal hotmix sukar digali, berusaha mencari jalan mudah. Namun ketika bergeser sedikit, ternyata sudah masuk bagian dari tanah warga.

“Sempat ribut itu, untungnya kericuhan bisa dicegah,a�? kata Anggota DPRD Kota Mataram I Gede Wiska menceritakan kejadian itu.

Kerusakan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos/fasum) juga disorotinya. Karena para pemilik proyek umumnya tak mengembalikan kerusakan yang ditimbulkan seperti sedia kala.

Tengoklah Jalan Catur Warga, bekas galian yang ditutup alakadarnya dengan tanah justru menimbulkan masalah baru. a�?Jadi berdebu jalan ini,a�? keluh sejumlah pengguna jalan.

Kendati betul bekas galian ditutup, namun tak ada yang ditutup sempurna. Hanya menggunakan tanah sisa galian. Pekerja umumnya meninggalkan proyek tersebut dalam keadaan jalan yang menjadi bergunduk atau lekuk.

Di Jalan Airlangga kondisinya tak lebih baik. Separator jalan yang dibuka saat penggalian, tak ada satu pun yang dipasang kembali seperti sedia kala.

Ditambahkan Wiska, keadaan itu menjadi gambaran adanya mis koordinasi antara pemerintah dan swasta yang memiliki proyek. Padahal sebelumnya daerah sudah mengeluarkan anggaran yang tak sedikit untuk membangun jalan dan trotoar, namun dengan mudah dirusak.

Celakanya, tak dikembalikan seperti sedia kala. Padahal, aturan mewajibkan hal itu. a�?Kalau dulunya trotoar itu pakai batu sikat ya kembalikan dengan batu sikat, kalau dulunya mulus, ya kembalikan mulus lagi,a�? serunya.

Jika saja ada koordinasi lebih baik, ia meyakini masalah ini tak akan terjadi. Misalnya saja, pemerintah yang setiap hari membangun diberitahukan terlebih dulu oleh pihak yang hendak menggali jalan. Sehingga proyek pemerintah bisa disesuaikan jadwalnya, baru dilakukan setelah penggalian usai.

“Ini tidak, pemerintah baru hotmix jalan, setelahnya proyek lain datang merusak jalan itu, ini uang Negara,a�? katanya.

Tak hanya pada pihak swasta, ia juga mengeluhkan minimnya koordinasi dengan pihak PDAM dan PLN yang belakangan juga cukup rutin melakukan penggalian. a�?Catatan saya, koordinasi, hemat uang Negara, jangan merusak fasilitas public, bekerja yang professional,a�? tutupnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost