Feature Headline Metropolis

Kisah Baiq Husniati, Perempuan Pembina Majelis Taklim Khusus Lansia di Mataram

 

 

Membimbing ilmu agama khusus untuk para lansia penghuni Panti Jompo, dipilih Baiq Husniati sebagai jalan hidup. Tanpa pamrih, dia melakukan hal tersebut saban hari. Melihat para lansia tersebut bisa rutin salat lima waktu secara berjamaah di musala saja, baginya, itu sudah menjadi bayaran yang tak ternilai harganya.

A�

NURUL HIDAYATI-Mataram

A�

AZAN Dzuhur berkumandang dari musala Panti Trisna Werdha. Terik matahari yang menyengat pekan lalu, menyebabkan para penghuni panti terlihat lebih banyak berada di dalam wisma. Sebagian dari mereka ada yang mulai beringsut menyiapkan diri memenuhi panggilan salat. Sebagian lain terlihat anteng.

Panti Trisna Werdha, adalah panti khusus untuk orang-orang lanjut usia. Orang menyebutnya Panti Jompo. Rambut memutih, jalan tertatih-tatih, dan badan yang sangat ringkih, adalah ciri utama para penghuni panti ini. Ada laki-laki dan ada banyak perempuan. Tak ada yang berusia di bawah 60 tahun.

Tak lama berselang setelah azan berkumandang, seorang perempuan terlihat bergegas menyambangi wisma-wisma panti satu persatu. Dari jauh, terlihat perempuan berjilbab itu tengah mengajak para penghuni panti yang muslim untuk menunaikan salat dzuhur berjamaah di musala.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”8″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Perempuan itu adalah Baiq Husniati. Dia bukan pegawai di Panti Jompo yang menjadi milik Kementerian Sosial tersebut. Bukan pula tenaga honorer di sana. Husniati sehari-hari justru berdinas di Kantor Urusan Agama Sekarbela.

Namun, telah sejak lama, kalau salat berjamaah di Panti Trisna Werdha telah menjadi urusan Husniati. Itu mengapa, dalam banyak kesempatan, Husniati sebelum waktu salat tiba, sudah berada di panti. Meluncur dari kantornya di pinggiran pantai Tanjung Karang. Lalu, dia akan mulai mengingatkan para penghuni panti untuk salat berjamaah.

a�?Mereka serasa sudah seperti kakek dan nenek saya,a�? kata Husniati pada Lombok Post, soal aktivitasnya tersebut.

Pada hari Selasa setiap pekan, Husniati bahkan akan berada di Panti Trisna Werda selama sehari penuh. Apa yang dilakukannya? Membimbing para orang lanjut usia di sana dengan ilmu-ilmu agama. a�?Selebihnya pada hari-hari biasa saya datang pagi atau datang sore,a�? kata Husniati.

Perempuan asal Gerung, Lombok Barat itu memang telah menebalkan tekad untuk mendedikasikan dirinya membimbing ilmu agama para orang tua yang sudah lanjut usia. Keluarganya pun sangat memberi dukungan atas langkahnya itu.

Dia percaya, bahwa bekal ilmu agama sangat dibutuhkan oleh para kakek dan nenek di panti tersebut. Bekal yang tidak saja berguna semasa mereka hidup, tapi juga menjadi bekal kelak bila sudah menghadap Sang Khalik.

Perempuan kelahiran 31 Desember 1972 ini biasanya pada pagi fokus mengajarkan bacaan salat tiap wisma khusus untuk para lansia perempuan. Sementara kalau sore hari, biasanya turut bergabung para lansia laki-laki untuk belajar tentang tauhid, akhlaq, akidah, dan ilmu agama Islam lainnya. “Murid saya ada 80 orang sekarang. Ada 50 nenek dan 30 kakek,” katanya.

Persentuhan Husniati dengan para lansia itu bukan dalam waktu yang sedikit. Dia telah melakukan hal ini semenjak tahun 2012. Itu artinya kiprahnya kini sudah genap lima tahun. Selama itu pula suka-duka mengiringi pengabdian Husniati untuk para lansia tersebut. Banyak pula mereka yang di bimbingnya telah dipanggil menghadap Sang Khalik. Husniati selalu mengrim doa untuk mereka.

Bukan perkara mudah memang mengajarkan para lansia ilmu agama, menghafal bacaan salat, atau melafalkan ayat-ayat suci Alquran, meski ayat-ayat pendek. Husniati benar-benar membuktikan kata-kata bijak, betapa mengajar orang tua itu bak menulis di atas air. Tak seperti mengajar anak-anak yang seperti mengukir di atas batu.

Hafalan bacaan salat kerap dilupakan oleh para lansia ini. Meski kadang sudah berkali-kali latihan, hafalan itu kerap mereka lupa. Namun, Husniati tak pernah berkecil hati. Melawan lupa, diakui adalah tantangan berat yang dihadapinya. Toh, meski begitu, risiko itu juga telah diperhitungkannya matang-matang.

Kalau pun ada yang sulit menghafal, memang perlu pendekatan yang lebih.A�Kalau sudah begitu, biasanya dirinya tidak ingin memaksakan hafalan tersebut. a�?Kalau dia mampu saya bersyukur dan senang.A� Kalau tidak saya akan terus mendampingi dalam hafalan,” tambah lulusan S1 Fakultas Dakwah Jurusan Institut Agama Islam Ibrahimy Situbondo ini.

Banyak cerita-cerita menggelitik yang dialami Husniati selama pengabdiannya mengawal Majelis Taklim khusus bagi para lansia ini. Polah para kakek dan nenek penghuni panti memang kerap mengundang gelak tawa.

Misalnya saat Lombok Post bertandang ke sana pekan lalu. Ustazah Us, biasa Husniati disapa oleh para muridnya itu, tengah menyimak bacaan salat para penghuni wisma perempuan.

Satu persatu, para murid-murid itu disimak bacaan salatnya. Rata-rata terbata-bata. Namun, bukannya memberi suport, para lansia yang lain justru menggoda temannya yang lupa bacaan salatnya tersebut.

Namun, tak lama, giliran mendapat kesempatan dicek bacaannya, para lansia yang tadi menggoda rekannya tersebut, justru juga bacaan salatnya ikut-ikutan belepotan dan lupa. Jadilah, para lansia itu saling menggoda satu sam alain. Bercandanya pun khas orang tua. Khas nenek-nenek. Alhasil, suasana pun jadi gayeng.

Mendapati hal begitu, Ustazah Us pun hanya senyum-senyum. Sembari menuntun para lansia itu terkait bacaan yang lengkap dan benar dan meminta mereka mengulangnya lagi hingga benar-benar telah bisa. Sungguh Husniati melakukannya dengan amat telaten.

Saking sehari-hari kerap berada di panti, tempat tersebut bahkan bak menjelma menjadi rumah kedua bagi Ustazah Us. Kadang, dia mengaku, kalau sedang berada di luar daerah, dia kerap kangen dengan para kakek dan nenek penghuni panti. Para penghuni panti juga biasanya kerap bertanya-tanya kepada pengurus panti, jika Husniati berhalangan datang.

a�?Begitu dekatnya, saya sudah bagaikan bersama keluarga di sini,a�? katanya.

Tak semua yang menjadi murid Husniati di Panti Trisna Werdha adalah muslim semenjak awal. Banyak pula di antara mereka yang justru menjadi memeluk Islam setelah berada di panti. Kepada mereka ini, biasanya Husniati memberi perlakuan berbeda. Biasanya, mereka memerlukan bimbingan yang lebih intensif.

Tentu saja, kepada semua penghuni panti, yang diajarkan bukanlah ilmu-ilmu agama yang berat-berat. Melihat mereka bisa beribadah tepat waktu, apalagi sampai memperbanyak dengan amalan-amalan sunnah, kemudian berbuat baik kepada sesama, itu sudah menjadi hal yang sangat membahagiakan bagi Husniati.

Selama masih mampu, Husniati bertekad akan terus mengabdi untuk para lansia tersebut. Perempuan yang pernah menjadi dai kesehatan NTB ini memang mengaku senang mengurus nenek dan kakek di sana.

Ibu tiga anak ini, tetap bisa membagi perannya mengurus rumah tangga, tanggung jawab pekerjaan di KUA Sekarbela, dan juga mengurus para lansia. Sungguh, kepada Husniati, NTB sangatlah patut berterima kasih. (*/r8)

Related posts

Najmul Akhyar Lantik 12 Kepala SKPD

Redaksi Lombok Post

Azhar, Telan Daging Mentah Demi Suara Emas di MTQ

Redaksi Lombok post

Dua Klub Terancam Dicoret

Iklan Lombok Post