D'LADIES Feature Headline

Perjuangan Fitri Nugrahaningrum, “Lentera” Bagi Anak-anak Putus Sekolah di Lombok

SAMARA Lombok

GIRI MENANG – Memiliki keterbatasan bukanlah penghalang untuk menggapai cita-cita bahkan menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Fitri Nugrahaningrum, mengalami kebutaan akibat A�sindrom Steven Johnson mampu memberikan sinar terang bagi anak-anak di sekitarnya.

Sindrom ini menjangkitinya saat duduk di bangku kelas V SD. Perlahan penglihatan Fitri mulai kabur dan benar-benar hilang saat duduk di bangku SMA.

Perjuangan Fitri berawal saat ia mengikuti orang tuanya pindah dari Lampung ke Kota Solo. Waktu itu, Fitri sedang sedang jalan kaki. Tiba-tiba datang sebuah mobil yang hendak menabraknya. Beruntung ada gerombolan anak jalanan menolong dan menuntunnyaA� ke pinggir jalan.

Sejak itu ia pun berkenalan dengan anak-anak tersebut. Dari perkenalannya, hati Fitri tergerak untuk berbuat sesuatu. Muncul niat untuk mengajak anak-anak tersebut belajar di rumahnya. Terlebih setelah mengetahui sebagian diantara mereka tidak bisa melanjutkan sekolah dan merupakan anak jalanan.A�Ia berinisiatif mendirikan sebuah tempat pendidikan anak, di tempat tinggalnya yang sederhana. Yayasan tersebut bernama Al-Fitrah.

Selain mengajarkan Alquran, Fitri menggabungkan berbagai konsep dan metode pendidikan formal dan non formal. Anak-anak juga diberi muatan tentang moral dan budi pekerti, keterampilan, teater, serta kegiatan luar ruang. Mereka juga diajari kewiraswastaan agar nantinya bisa mandiri secara ekonomi.

Tahun 2009 Fitri memutuskan pindah dan menetap tinggal di Lombok Barat setelah menikah dengan pria asli daerah itu. Meski menjadi warga baru, tak lantas menyurutkan usahanya memerangi kebodohan. Sebuah prestasi yang mungkin saja orang normal tanpa kekurangan akan sulit mewujudkannya. Ia pun akhirnya mendirikan yayasan Satelit Masa Depan Negara (SAMARA) Lombok

Berdirinya SAMARA Lombok dilatarbelakangi kepeduliannya terhadap nasib anak Lombok yang putus sekolah. Masih banyak anak bangsa yang belum bahkan tidak dapat mengenyam pendidikan formal.A� Khususnya mereka yang berada di pelosok pulau Lombok.

SAMARA Lombok
AURA KEIBUAN : Fitri Nugrahaningrum (berjilbab) memberi motivasi kepada anak-anak didik SAMARA Lombok.

Mereka tidak mengenyam pendidikan karena beragam alasan seperti faktor biaya, jarak yang cukup jauh serta sulit diakses dan lain-lain. Jika realitas tersebut dibiarkan maka masa depan mereka yang merupakan masa depan bangsa masih dipertanyakan. Mereka yang tidak melanjutkan sekolah tetap menjadi buruh migran yang hanya mengandalkan fisik untuk mencari uang.

a�?Tidak sedikit di antara mereka yang hanya mengandalkan menjadi TKI/TKW sebagai solusi untuk keluar dari belitan ekonomi,a�? ujarnya.

Tidak hanya berpengaruh dari segi ekonomi, minimnya pendidikan agama juga menimbulkan dampak rendahnya moral mereka. Generasi bangsa ini kemudian akan tumbuh menjadi pemuda yang amoral dan melakukan penyimpangan sosial. Bahkan tidak jarang sekali kita mendengar kasus kenakalan remaja dan pergaulan bebas yang berujung pada pernikahan dini.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa satu masalah di bidang pendidikan, tidak melanjutkan sekolah misalnya, akan menimbulkan masalah yang lebih kompleks lagi di bidang yang lain.

Moralitas generasi bangsa yang semakin parah, motivasi pendidikan yang sangat rendah, serta kebergantungan masyarakat sebagai TKI/TKW sebagai solusi keluar dari jeratan ekonomi.

Semua masalah tersebut menurut Fitri, menjadi sebuah a�?pekerjaan rumaha�? bagi kita bersama, khususnya pemerintah. Pemerintah harus serius memberantas masalah ini dan masyarakat harus ikut serta sebagai pemberi solusi (problem solver).

Selama 5 tahun SAMARA Lombok menjalankan visi misi kemanusiaan tanpa berpayung badan hukum. SAMARA Lombok lahir dari keprihatinan pendiri akan rusaknya moralitas masyarakat akibat kurangnya pendidikan. Faktor ekonomi lah yang menjadi akar dari semua permasalahan masyarakat.

Masyarakat sekitar SAMARA Lombok merupakan keluarga miskin dengan jumlah anggota keluarga 8 sampai 15 orang. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar sebagai buruh migran dengan rata-rata penghasilan Rp 2 juta per bulan dan sebagian kecil masyarakat menjadi buruh serabutan serta pedagang kecil.

Tingkat pendidikan masyarakat masih sangat rendah. Hanya sebagian kecil masyarakat yang dapat mengenyam pendidikan formal dan itu pun hanya sampai sekolah dasar (SD). Bahkan hingga sekarang masih banyak anak yang putus sekolahA� karena faktor biaya dan pernikahan dini. Pemuda dekat dengan kemaksiatan seperti mabuk, narkoba, pergaulan bebas dan lain-lain.

Dibidang kesehatan masih banyak masyarakat yang mengalami gizi buruk sehingga banyak anak yang lahir cacat. Selain anak cacat, tak sedikit anak yatim yang kurang terpelihara dan anak-anak yang kehilangan orang tuanya akibat perceraian.

Namun sayang, keberadaan SAMARA Lombok sama sekali luput dari pemerintah setempat. Ia menjelaskan sejak berdirinya sekolah tersebut baik pihak desa hingga SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) tak ada yang melirik. Tak satupun dari mereka turun memberikan bantuan. Semua dikelola sendiri oleh pihak sekolah. Mulai dari anggaran sekolah hingga untuk keterampilan siswa.

Bahkan ketika kunjungan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Prawansa ke Yayasan SAMARA beberapa waktu lalu, semua ditanggung mereka sendiri. Mulai dari pengadaan terop, kursi, hingga konsumsi. Semua itu dibiayai sendiri oleh SAMARA Lombok.

SAMARA Lombok
DIPERHATIKAN PUSAT : Menteri Sosial RI Khofifah Indar Prawansa mengunjungi Yayasan SAMARA Lombok dan menyatakan dukungan penuh atas program yang berjalan.

“Sempat ada tawaran dari Dinas Sosial NTB untuk membuat acaranya lebih besar, namun saya tolak. Kami ingin mengadakan apa adanya dari kami,” jelasnya.

Fitri mengaku heran mengapa pemerintah daerah masih enggan mendukung mereka kendati pusat telah memberi perhatian. Harapan agar pemda bisa tergugah masih terus disuarakan. Sebab gerakan SAMARA Lombok tidak hanya di Lobar tapi A�juga merangkul masyarakat sosial di daerah lainnya. Seperti di Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Dengan semua keterbatasan yang dimiliki, SAMARA Lombok akan terus melakukan gerakan positif. Fitri menyayangkan justru pihak luar lebih dahulu peduli. Seharusnya pemerintah setempat mulai dari yang terdekat memberikan inisiasi.

“Semoga dengan kunjungan Bu Mentri (Khofifah, red) dapat memberi semangat untuk menebarkan virus kemanusiaan,” harapnya. (fer/ida)

Related posts

MK Larang Nikah Beda Agama

Iklan Lombok Post

Wagub Amin Sindir Bawaslu

Redaksi Lombok Post

Tidak Jamin Lahirkan Penantang Aman

Iklan Lombok Post