Lombok Post
Headline Metropolis

Gawat, Buruh Tani di Dompu Mulai Terjangkit Tramadol

tramadol
OBAT BERBAHAYA: Inilah Tramadol, obat keras daftar G yang kini mengancam generasi muda Kota Mataram.

MATARAM-Peredaran obat daftar G seperti Tramadol tidak hanya menyasar kalangan pelajar. Obat berbahaya itu juga mulai beredar di kalangan petani. Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Dompu.

Dinas Kesehatan menemukan ada kecenderungan para buruh petani maupun petani mengkonsumsi tramadol. Alasannya untuk menghilangkan rasa lelah saat bekerja. a�?Lama-lama mereka jadi kebiasaan,a�? ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB dr Nurhandiri Eka Dewi, kemarin (9/6).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”1748″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Ia mengaku cukup terkejut dengan laporan yang diterima. Para buruh tani itu selalu membawa tramadol dan mengkonsumsinya saat mendapat borongan pekerjaan. Lambat laun penggunaan obat daftar G itu menjadi kebiasaan, bahkan bisa kecanduan. Tidak heran, akhir-akhir ini para petani dan buruh tani selalu membawa tramadol.

Kondisi ini menurutnya sangat berbahaya. Sebab dampak dari obat itu sangat besar dan mengancam keselamatan bila tidak dikonsumsi dengan benar. Sebab tramadol sebenarnya dipakai sesuai kebutuhan. Tapi kalau dikonsumsi terus menerus maka pengguna akan mengalami ketergantungan. Dalam jangka panjang akan merusak organ tubuh sendiri. Seperti kasus di Bima, pengkonsumsi tramadol mengalami kelainan di bagian tubuhnya. a�?Dia tidak tahan dengan obat itu sehingga terjadi kelainan di organ tubuhnya,a�? ujar dr Eka.

Orang yang sudah mengalami ketergantungan maka mereka cenderung akan menambah dosis. Sehingga lama-lama otak orang tersebut rusak, dan tidak bisa berpikir normal lagi. Apalagi tramadol yang beredar saat ini bukan yang disalurkan melalui jalur resmi. Akan tetapi selundupan-selundupan yang tidak bisa dipertanggungjawabannya.

Mengingat dampak yang begitu merusak, ia mengusulkan agar sanksi yang diberikan kepada mereka lebih tegas. Tapi karena tramadol tidak masuk dalam obat jenis narkoba, maka pemberian sanksi masih lemah. Akibatnya para pengedar tidak akan pernah jera. Dengan keuntungan yang cukup besar, mereka dengan semaunya menjual belikan obat itu.

Karena itu, ia mengusulkan tramadol dimasukkan sebagai jenis narkoba. Sehingga sanksi akan lebih tegas lagi. Narkoba menurutnya merupakan singkatan dari narkotika, obat-obatan dan zat aditif.A� a�?Harus dimasukkan sebagai jenis narkoba,a�? sarannya. (ili/r7)

Berita Lainnya

Tunggu Hasil Hitung KPU

Redaksi Lombok Post

Ayo Kawal Rekapitulasi Suara!

Redaksi Lombok Post

Petugas Kaget, Surat Suara Capres Kosong

Redaksi Lombok Post

Berhenti Saling Bully! Yang Menang Jangan Sombong

Redaksi Lombok Post

Kemenangan dengan ’’Clean Sheet’’ Paslon 01 dan 02 di Sejumlah TPS

Redaksi Lombok Post

Pemilu di NTB Aman tapi Belepotan

Redaksi Lombok Post

Lembaga Survei Unggulkan Jokowi, Prabowo Klaim Kemenangan

Redaksi Lombok Post

BANSOS KORBAN BENCANA SULTENG DAN NTB SIAP DICAIRKAN

Redaksi Lombok Post

Kotak Suara Rusak Terkena Air Hujan

Redaksi LombokPost