Headline Lapsus Metropolis

Berkah Ramadan, Perputaran Uang di NTB Capai Rp 2,9 Triliun

Ramadan benar-benar menggendong berkah. Selama bulan suci, ekonomi NTB tumbuh begitu bergairah. Bank Indonesia memproyeksikan, sejak hari pertama puasa hingga nanti jelang Idul Fitri, perputaran uang di Bumi Gora bakal tembus hingga Rp 2,9 triliun. Lebih dari setengah APBD NTB selama setahun. Jumlah ini melonjak hingga 60 persen dibanding Ramadan tahun lalu. Uang siapa ini?

—————————————————

KALKULASI telah dihitung. Sangat-sangat cermat. Dan pengalaman berbilang tahun membuktikan, hitungan di atas kertas Bank Indonesia Perwakilan NTB tak pernah meleset.

Pun tahun ini. Tatkala para analis Bank Indonesia membuat kalkulasi perputaran uang semenjak awal Ramadan hingga jelang Idul Fitri yang akan tembus hingga Rp 2,9 triliun. Maka Bank Indonesia pun memastikan menyiapkan uang sejumlah itu di Khazanah mereka.

Khazanah, adalah sebutan untuk a�?gudanga�? tempat penyimpanan uang milik Bank Indonesia di NTB. Tak ada orang yang tahu dimana gudang ini berada, selain orang Bank Indonesia. Dari gudang inilah, pasokan uang di sekujur Bumi Gora bermula.

a�?Kami sudah menyiapkan Rp 2,9 triliun itu,a�? kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB Prijono kepada Lombok Post.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Kaget? Anda tak sendiri. Banyak khalayak juga terloncat-loncat manakala mendengar jumlah angka yang fantastis itu. Uang Rp 2,9 triliun pastilah bukan jumlah yang sedikit.

Asal Anda tahu, jumlah itu lebih dari setengah APBD NTB tahun 2017. Tahun ini, APBD NTB nilainya Rp 4,9 triliun. Dan untuk menghabiskan uang sebesar itu, pemerintah memerlukan waktu berbelanja selama setahun. Itu pun uang tersebut kadang tak habis. Paling banter, yang berhasil dibelanjakan berkisar di angka 92 persen. Itu saja, pemerintah sudah tepuk tangan jika berhasil mencapainya.

Namun, rupanya urusan belanja, warga NTB jauh lebih jago dari pemerintah dengan segala perangkat birokrasinya. Bayangkan. Di bulan Ramadan, masyarakat NTB hanya perlu waktu tak kurang dari 30 hari untuk memutar uang hingga Rp 2,9 triliun. Jumlah yang oleh pemerintah mungkin perlu waktu dibelanjakan lebih dari setengah tahun.

Jika harus dirata-ratakan, maka selama 30 hari bulan Ramadan ini, total uang yang berputar sedikitnya Rp 96,6 miliar sehari. Uang yang sekali lagi amat fantastis.

Entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja, selama Ramadan gairah orang untuk berbelanja tiba-tiba melonjak. Segala macam mau dibeli. Jangankan yang ada embel-embel kebutuhan pokok. Terkadang, kebutuhan yang kurang pokok pun dibayar juga. Tanpa komando, rasanya gairah berbelanja ini telah menjangkiti semua orang.

Kalap sih nggak. Disebut keranjingan berbelanja tidak tepat juga. Apalagi kalau dibilang menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tak perlu alias boros. Tapi, tahu-tahu, perputaran uang rupanya sudah sebegitu pesatnya.

Prijono mengatakan, prediksi pihaknya, tahun ini peningkatan perputaran uang selama Ramadan melonjak hingga 60 persen dibanding perputaran uang Ramadan tahun lalu.

Boleh dibilang, peningkatan yang mencapai 60 persen tersebut adalah rekor. Mengingat, tahun lalu, saat pertumbuhan ekonomi NTB menjadi juara se-Indonesia saja, peningkatan perputaran uang selama puasa dan lebaran, hanya 20 persen.

Hadirnya event Pesona Khazanah Ramadan yang digelar semenjak tiga hari sebelum Ramadan dan berlangsung selama sebulan penuh, ternyata ikut andil terhadap peningkatan perputaran uang pada puasa dan lebaran tahun ini.

a�?Event Ramadan ini salah satu faktor yang menaikkan jumlah kebutuhan uang,a�? kata Prijono.

Hanya itu? Tentu saja tidak. Selain banyakA�event, pola konsumsi masyarakat yang cenderung mengalami peningkatan, juga telah memberi andil yang paling besar.

Bank Indonesia juga mencatat, pemberian Tunjangan Hari Raya Idul Fitri kepada karyawan pada bulan Juni 2017 dan rencana pembayaran gaji ke-13 oleh pemerintah kepada Pegawai Negeri Sipil pada bulan Juni 2017 juga di perkirakan akan meningkatkan permintaan uang kartal.

Prijono menyodorkan hasil analisa Bank Indonesia. Kata dia, saat puasa terjadi net outflow. Artinya, arus uang kartal yang masuk ke BI selalu lebih sedikit dibanding uang kartal yang keluar BI. Fenomena ini selalu begitu. Sudah terjadi dalam tiga Ramadan terakhir.

Hal ini kata Prijono merupakan fenomena musiman, yang antara lain dipengaruhi oleh budaya pada saat momen bulan puasa dan lebaran dimana konsumsi meningkat.

Banyak faktor yang menyebabkan peningkatan konsumsi ini. Misalnya dengan membeli sesuatu yang baru, berbelanja lebih banyak dari biasanya, budaya mudik atau pulang kampung, bersedekah, memberi hadiah, atau pembayaran Tunjangan Hari Raya. Itu semua, menjadikan pengeluaran masyarakat meningkat selama bulan puasa dan lebaran.

Dalam tiga tahun terakhir kata Prijono, rata-rata net outflow sebesar Rp 538 miliar. Dan angka itu, meningkat hingga 300 persen dibandingkan bulan sebelum Ramadan.

Data BI menunjukkan, di luar periode puasa dan lebaran, dalam tiga tahun terakhir rata-rata terjadi net inflow sebesar Rp 77,86 miliar. Uang kartal yang ditarik dari Bank Indonesia tersebut, sesuai dengan pola historis dalam tiga tahun terakhir, akan kembali ke perbankan pada bulan berikutnya atau satu bulan kemudian. Ini ditandai dengan peningkatan inflow yang cukup besar masuk ke Bank Indonesia.

Apakah ini kabar gembira? Arus perputaran uang seperti yang terjadi saat Ramadan ini, bakal berdampak baik terhadap perekonomian. Sebab akan turut mendorong perekonomian atau PDRB Provinsi NTB.

Meningkatnya konsumsi rumah tangga bakal berimbas pada terkereknya pertumbuhan ekonomi NTB di triwulan II 2017. BI memperkirakan ekonomi NTB akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang ditopang salah satunya oleh konsumsi rumah tangga.

Angka-angka sudah berbicara. Indeks Ekspektasi Konsumen dalam Survei Konsumen bulan Desember 2016 misalnya, menunjukkan bahwa dalam enam bulan ke depan tepatnya Juni 2017 ekonomi diyakini akan mengalami peningkatan. Diperkirakan dari indeks sebesar 127,4 di November 2016, menjadi 128,5 di Desember 2016.

Berdasarkan pola triwulanan, saat bulan puasa dan lebaran konsumsi rumah tangga tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya.A� Dari sisi sektoral, kenaikan konsumsi masyarakat pada periode puasa dan lebaran akan mendorong pertumbuhan sektor perdagangan pada triwulan tersebut.

Peredaran uang yang dikeluarkan Bank Indonesia itu antara lain melalui penarikan oleh perbankan di Bank Indonesia. Juga penyaluran melalui kas titipan Bank Indonesia di Pulau Sumbawa, yaitu di Kota Bima dan Kabupaten Sumbawa bekerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah NTB sebagai penyelenggara kas titipan. Kas titipan di Kabupaten Sumbawa baru dibuka pada Maret 2017. Di luar itu, ada penukaran uang melalui kegiatan kas keliling.

Tentu saja, Bank Indonesia memberi garansi tingginya permintaan uang kartal tetap bisa dilayani sepenuhnya oleh Bank Indonesia. Bahasa sederhananya, BI tak pernah khawatir bakal kehabisan stok. Berapapun pecahannya, BI menyiapkannya.

Hanya saja, Bank Indonesia tetap mengimbau masyarakat untuk berbelanja pada bulan puasa dan lebaran dengan bijak yaitu dengan mengutamakan kebutuhan daripada memenuhi keinginan. Selain itu, transaksi wajib menggunakan rupiah. Dalam bertransaksi, hendaknya dilakukan dengan cermat, tepat jumlah, dan pecahan.

a�?Masyarakat juga harus memperlakukan uang kartal dengan baik agar tidak mudah rusak sepert tidak melipat, distaples, atau dicorat-coret,a�? katanya mengingatkan.

Oh ya. Bank Indonesia juga mendorong masyarakat untuk terbiasa bertransaksi secara non tunai. Sejak 2014, Bank Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).A�Ada banyak keunggulan dari pelaksanaan transaksi secara non tunai. Lebih aman karena sebagai alat pembayaran non tunai menggunakan sandi rahasia (PIN) yang hanya diketahui oleh pemiliknya. Lebih praktis karena transaksi non tunai tidak ada fisik uang yang harus dibawa dan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Juga hemat ruang karena uang akan terlindungi di sistem keuangan dan cukup menggunakan kartu atau aplikasi mobile, sehingga tidak perlu menyiapkan ruang khusus penyimpanan uang. Lebih nyaman karena dalam bertransaksi tidak perlu antre di bank dan jauh lebih cepat. Terakhir lebih transparan karena setiap transaksi non tunai tercatat oleh sistem dan tersimpan dalam riwayat transaksi pada aplikasi atau website.

A�

Kerek Inflasi

 

Di sisi lain, pola konsumsi yang besar saat Ramadan berimbas pada munculnya inflasi. Dan hal ini selalu terjadi pada Ramadan. Tak pernah meleset. Pun pada Ramadan tahun ini.

Badan Pusat Statistik NTB melihat tren peningkatan peredaran uang setiap tahun jelang puasa dan lebaran memang selalu mengundang inflasi. a�?Permintaan meningkat, menyebabkan terjadi kenaikan harga yang mengakibatkan inflasi,a�? kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS NTB NiA�Kadek AdiA�Madri pada Lombok Post kemarin.

Dia memberi contoh. Tahun lalu, pada bulan Juni sebelum puasa, Inflasi NTB mencapai 1,08. Dan hal ini terus bertahan pada bulan berikutnya dengan inflasi 1,07 persen.

Tahun 2017 ini, sebelum puasa pada Mei lalu, BPS mencatat ada inflasi 0,52 persen. Dan saat puasa dan lebaran, jumlah itu diprediksi meningkat.

Tentu saja kata Kadek Adi, peningkatan inflasi ini normal. Sejauh peningkatannya yang tidak kelewat batas. Hal ini disebabkan terutama untuk bahan makanan. Rupanya, polah masyarakat yang pada bulan puasa dan lebaran ingin mengkonsumsi menu yang istimewa dan penggunaan transportasi yang lebih banyak dikarenakan kebiasaan mudik atau silaturahmi, menjadi pendorong.

a�?Apalagi masyarakat juga biasanya mengandalkan THR untuk menanggulanginya,a�? katanya.

Pun begitu, tetap ada juga faktor lain. Misalnya, kebijakan pemerintah yang menarik subsidi listrik khususnya di tahun 2017 ini juga punya andil dalam hal mendorong inflasi.

A�

Mal Padat

 

Bergairahnya minat masyarakat untuk berbelanja dirasakan di pusat-pusat perbelanjaan modern. General Manager Lombok Epicentrum Mall Salim Abdad mengatakan, LEM telah mencatatkan peningkatan angka kunjungan dan jumlah transaksi yang signifikan selama puasa. Dan hal ini akan terus memuncak saat lebaran.

a�?Kami melihat semuanya hampir mengalami peningkatan 100 persen. Puncaknya seminggu sebelum lebaran,a�? katanya.

Ia memperkirakan peningkatan ini selain karena bulan puasa juga atas andil pameran dan diskon yang disiapkan di LEM. Sehingga animo masyarakat berbelanja ke mal meningkat. Selain tentu kemudahan akses, fasilitas dan juga keberagaman tenant.

Apa yang paling diburu konsumen? a�?Fashion dan makanan kering lebaran menjadi incaran konsumen saat ini. Selain itu yang paling laku juga kebutuhan mempercantik rumah dan kosmetik juga meningkat pembeliannya,a�? tambahnya.

Salim Abdad memperkirakan, angka kunjungan dan transaksi pada puasa dan lebaran tahun ini akan meningkat hingga 50 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Ia menjelaskan, tahun lalu customer yang datang perbulan sekitar 500 ribu pengunjung. Jelang puasa dan lebaran meningkat menjadi 700 ribu pengunjung. Kunjungan per harinya di hari biasa 15 ribu pengunjung, dan puasa jelang lebaran sekitar 25 ribu pengunjung. a�?Tahun ini hampir sebulan grafik tinggi terus dimana perharinya bisa menyentuh 16 ribu pengunjung, dan saat puasa dan jelang lebaran ini pada kisaran 26 ribu pengunjung,a�? tandasnya.

 

Jangan Terlena

 

Sementara itu, pengamat Ekonomi Universitas Mataram Doktor Firmansyah mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada Ramadan tergantung dari kebutuhan konsumen. Namun, menggeliatnya ekonomi jangan sampai membuat para pemangku kepentingan terlena.

Pemerintah diingatkan harus menjaga konsentrasi. Jangan sampai ada penimbunan terutama terkait bahan kebutuhan pokok. Ketika pedagang menaikkan harga, pemerintah harus memberi respon cepat. Sebab, kenaikan akan merugikan masyarakat bawah. a�?Masyarakat menengah kebawah tidak mampu membeli dengan harga tinggi,a�? katanya.

Di sisi lain, Firmansyah juga mengajak seluruh pihak mencermati tingginya perputaran uang. Memang secara makro ekonomi menggeliat. Namun, dia punya catatan yang terkait apakah tingginya belanja masyarakat berimbas pada peningkatan di dalam daerah atau justru menguntungkan pihak luar daerah.

a�?Kalau belanjanya dihabiskan di tenant-tenant besar yang dari luar, ya berarti pertumbuhan tidak meningkat. Tapi kalau belanjanya di pasar maka akan terjadi peningkatan,a�? ucapnya.

Firmansyah mengatakan, peningkatan arus uang juga disebabkan lantaran masyarakat juga memiliki tabungan. Ketika puasa dan lebaran, maka uang yang awalnya tersimpan kemudian dikeluarkan.

Sementara itu, pengamat ekonomi lainnya Mujahid memperkirakan, kendati ada perputaran uang yang tinggi, dia tetap yakin bahwa masyarakat juga mengerem diri. Ini terutama lantaran setelah Ramadan, masyarakat dihadapkan pada tahun ajaran baru. Saat itu, kebutuhan juga biasanya tinggi. Karena itu, uang tabungan juga pasti masih ada yang disimpan maysarakat.

Ia mencontohkan untuk pembelian pakaian seragam misalnya. Masyarakat pasti cenderung membeli selesai Ramadan. a�?Kalau sekarang harganya mahal,a�? ujarnya.

Di tempat terpisah, Rektor Universitas Islam Negeri Mataram Dr H Mutawalli menegaskan, kebiasaan warga berbelanja jelang lebaran memang tidak bisa dilarang. Sebab, itu merupakan hak setiap orang yang memiliki harta. Apalagi jika itu sudah menjadi kebiasaan setiap hari raya.

Hanya saja, tenaga pengajar Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam ini mengingatkan agar sifat konsumtif itu perlu direm sehingga tidak berlebihan. a�?Sebaiknya menggunakan uang sewajarnya saja,a�? katanya.

Menurutnya, perilaku boros jelang lebaran bukan sesuatu yang menyimpang, tapi perlu diarahkan ke hal yang lebih bersifat sosial. Misalnya dengan memperbanyak sedekah. Di sana ada pembentukan nilai-nilai sosial yang bisa mengatasi masalah kesenjangan di tengah masyarakat. Bila belanja-belanja itu dikonsentrasikan kepada belanja sosial maka akan lebih baik.

a�?Semangat puasa dan lebaran mestinya bisa menjadi jembatan mengatasi kemiskinan,” katanya.

Ia mencontohkan, ketika terlalu berlebihan dalam berbelanja sementara tetangga mengalami kekurangan, maka akan menimbulkan kecemburuan sosial. Hal semacam itu perlu dihindari agar ibadah puasa menjadi ajang untuk meningkatkan amal saleh. (nur/jay/ili/r8)

Related posts

Genting Cruise Jual Paket Wisata Mengarungi Lautan Indonesia

Redaksi Lombok Post

Khalid: Kami Hanya Jalankan Keputusan

Redaksi Lombok post

NTB Ingin Dapat 12 Kursi di DPR RI

Redaksi Lombok Post