Lombok Post
Metropolis

Pemkot Mataram Diminta Cepat Cari Solusi Hadapi Banjir

SAMPAI JALAN: Kondisi Jalan Panji Tilar yang tak luput dari serangan banjir saat bencana tersebut menerjang Kekalik Jaya. Wahyu/Lombok Post

MATARAM-Dua kali banjir besar menerjang Mataram dalam waktu enam bulan terakhir harusnya dijadikan pelajaran. Banjir itu secara tak langsung telah menguak titik-titik masalah penataan kota.

Kendati alam memang sedang tak bersahabat, namun jika ada upaya serius, pemerintah pasti bisa mengatasi masalah tersebut.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Pengamat Tata Kota, Agus Muliadi berulang kali mengingatkan, sejumlah masalah krusial harus dituntaskan. Pertama, tentu saja persoalan sampah. Ya, kendati ada klaim penanganan sampah Mataram sudah membaik, namun banjir tak bisa dilepaskan dari persoalan tersbeut.

Coba saja tengok keruk dasar sungai yang ada di Mataram. Sedimentasi yang ada mayoritas berasal dari tumpukan sampah. a�?Pemerintah juga harus bisa menggerakkan masyarakat untuk itu,a�? ujarnya.

Dengan peran serta bersamalah, sampah bisa diatasi. Pemerintah saja, jelas tak akan bisa maksimal. Masalah kedua yang tak kalah krusial adalah berkurangnya daerah resapan. Ya, nyaris tak ada bantaran sungai di Mataram yang masih “perawana�?.

Kondisi itu semakin diperparah dengan minimnya aksi yang dilakukan pemerintah. Sepanjang tahun, belum terdengar ada garapan pembuatan sumur resapan atau bahkan biopori yang dapat dikatakan tak memakan biaya sepeser pun. Selanjutnya tentu saja kondisi saluran yang tak lagi mumpuni terkait kondisi kekinian.

Hal itu tak dibantah Kadis PUPR Kota Mataram H Mahmuddin Tura. Sedimentasi diakibatkan sampah di berbagai titik menurutnya memang sangat parah. Karenanya pengerukan menjadi solusi terbaik.

Sedangkan terkait daerah resapan juga memang terus berkurang. Air kini sepenuhnya mengalir di permukaan. Air yang meresap ke dalam tanah dan mengalir lewat bawah terus berkurang seiring sedimentasi yang berkurang tersebut.

Kondisi saluran di Mataram juga dibenarkan tak dalam keadaan prima. Banyak yang sudah uzur dengan penampang kecil yang tak lagi sanggup menahan debit. a�?Masalah-masalah yang ada ya harus diselesaikan,a�? ucapnya.

Anggota DPRD Kota Mataram Syamsul Bahri mengatakan salah satu solusi adalah pemerintah harus kembali fokus pada penerapan aturan. RTRW yang baru disahkan menurutnya harus jadi acuan. Tak boleh ada pelanggaran yang terus dibiarkan seperti kejadian-kejadian terdahulu.

Banjir kali ini dampak penyimpangan juga,a�? kata politisi Nasdem tersebut.

Sehingga ia mendorong seluruh yang tertuang dalam RTRW dapat dijalankan maksimal. Misalnya bantaran sungai, harus steril dari perumahan, daerah resapan tak boleh beralih fungsi.

Begitu juga dengan pembangunan yang tak memperhatikan aspek lingkungan harus diselesaikan masalahnya. a�?Jangan terus biarkan rakyat menderita,a�? ujarnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost