Lombok Post
Giri Menang

Bupati Fauzan Harus Berani Tunda Lima Hari Sekolah

BELUM SIAP: Kebijakan lima hari sekolah seminggu bakal mulai diterapkan Juli nanti. Namun di Lobar, kemungkinan besar kebijakan tersebut belum bisa diterapkan tahun ini. ZAINUDDIN/LOMBOK POST

GIRI MENANG-Rencana kebijakan sekolah delapan jam sehari, dan lima hari dalam sepekan terus bergulir. Jelang mulai diterapkan Juli mendatang, dibeberapa daerah sudah mulai mempersiapkan sekolah yang akan menjadi rujukan alias pilot project.

Namun di Lombok Barat, hampir dipastikan tidak ada sekolah yang bakal menerapkan rencana Mendikbud tahun ini. Sebab, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lobar berencana akan mengirim surat ke Bupati terkait permohonan menunda penerapannya. Dan, diharapkan bupati berani mengambil kebijakan melawab arus itu.

“Nanti kita akan bersurat ke Pak Bupati supaya ditunda saja,a�? ungkap Kepala Dikbud Lobar M Hendrayadi yang ditemui di salah satu acara di Kediri, kemarin (15/6).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”86″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Meski demikian, Hendra tak menapik jika nanti pemerintah pusat yang bakal menetapkan setiap sekolah rujukan. Diakuinya, di Lobar beberapa sekolah memang secara persyaratan dan sarana prasarana memadai.

Dari catatan Dikbud, sedikitnya ada tiga sekolah dasar yang siap menerapkan. Yakni SDN 1 Labuapi, SDN 1 Gerung Utara, dan SDN 1 Rumak. Dikbud sendiri telah berkoordinasi dengan sekolah tersebut, membahas wacana itu. Terutama masalah konsumsi siswa. Karena jika delapan jam sehari, artinya siswa akan berada di sekolah mulai jam 07.30 Wita hingga 15.30 Wita.

Biaya konsumsi ini, rencananya akan dikembalikan ke wali murid. Sistemnya, apakah nanti wali murid yang mengantar atau salah satu dari mereka menjadi koordinator. a�?Yang jelas bukan dari sekolah, kalau di sekolah nanti dikira pungli,a�? ujarnya mantan sekretaris Dikbud ini.

Jika saja wacana lima hari sekolah dimunculkan dua tiga tahun lalu oleh pemerintah pusat, kata Hendra, kemungkinan besar pihaknya lebih siap. Sebenarnya, siswa masuk sekolahA�limaA�hari sepekan sudah lama diterapkan di Lobar. Terutama sekolah sekolah swasta. Penerapannya pun tidak ada perdebatan dikarenakan kebijakannya disesuaikan dengan kondisi.

Salah satu sekolah swasta yang cukup lama menerapkan adalah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Mulia di Kediri. Sejak berdiri empat tahun lalu, sekolah ini sudah menerapkan lima hari sekolah. Hingga saat ini tidak ada masalah, baik terhadap siswa maupaun orang tua.

Pembina SDIT Insan Mulia Hj Nurul Adha menerangkan masalah lima hari sekolah, tergantung bagaimana komunikasi dengan wali murid.

Jika karena alasan siswa jenuh karena terlalu lama di sekolah, menurutnya tergantung bagaimana masing-masing guru dan sekolah. Seperti disekolahnya, tidak pernah ada paksaan untuk siswa belajar. Sehingga kebijakan lima hari sekolah berlangusng lancar.

Sementara untuk biaya konsumsi anak di sekolah, ia kembalikan ke wali murid. “Soal itu wali murid yang siapkan,a�? imbuhnya. (zen/r5)

Berita Lainnya

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost

HUT SMAN 1 Gerung Meriah

Redaksi LombokPost