Lombok Post
Headline Metropolis

TGB : Pancasila Penangkal Radikalisme Paling Ampuh

Ceramah : Gubernur NTB Dr HM Zainul Majdi memberi siraman rohani kepada ribuan jamaah Salat Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (8/6/2017) malam. (Foto ; Humas Pemprov NTB)

JOGJAKARTA-Pancasila merupakan model ideal untuk menangkal perilaku radikalisme di tengah masyarakat. Pancasila merupakan konsensus nasional untuk menciptakan kestabilan, kenyamanan lahir batin, persaudaraanA�di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Hal itu katakan Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi saat Dialog Nasional di Cafe Suka Resto, Laboratorium Agama, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta, Sabtu (17/6).

 

Dalam dialog yang mengusung tema “Radikalisme, Korupsi dan Pancasila” tersebut juga hadir narasumber lain seperti Direktur Pascasarjana UIN Jogjakarta Prof Noorhaidi Hasan, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Jogjakarta, Dr Zuly Qodir, dan aktivis masjid Dikit Ahmad.

 

Di hadapan ratusan mahasiswa UIN, TGB mengajak semua pihak untuk mewujudkan model ideal yang merujuk pada konsensus masyarakat sebagai bangsa. “Di sinilah letak Pancasila itu,a�? ungkap gubernur NTB dua periode itu.

 

Menurut TGB, kondisi idealA� yang diharapkan masyarakat adalah model yang memiliki pijakan dan tautan, dan itu adalah Pancasila. Sebab nilai-nilai dalam Pancasila menghindarkan masyarakat dan anak-anak bangsa dari radikalisme atau ekstrimisme. Di mana ujung dari perilaku itu adalah terorisme.

 

Karena itu, ia menekankan perlunya mencari sebab atau latar belakang terjadinya perilaku menyimpang sehingga memperoleh solusi terbaik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Menurut ahli tafsir, terdapat beberapa sebabA�munculnya sikap radikalisme. Diantaranya adalah bacaan yang salah terhadap teks-teks agama. IaA� menyontohkan, gerakan ISIS yang saat ini marak, merupakan gerakan yang lahir dari bacaan yang memutarbalikkan teks-teks yang selama ini sudah benar. Jika penyebab radikalitas adalah bacaan, maka responsnya juga harus dengan bacaan yang memadai. “Disertai argumentasi-argumentasi ilmiah untuk meletakkan kembali teks itu dalam konteks yang benar,a�? jelas doktor jebolan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu.

 

Penyebab kedua munculnya radikalitas menurut TGB adalah depresi sosial. DepresiA� muncul akibat tata nilai yang lebih banyak melarang ketimbang membolehkan. Di dalam depresi sosial, terdapat keputusasaan yang melahirkan kemarahan. Dan akan terakumulasi menjadi perlawanan yang menyebabkan lahirnya ekstrimitas.

 

Penyebab ketiga akibat tekanan ekonomi. Banyaknya orang terdidik yang tidak menemukan tempat untuk mengaktualisasikan ilmunya dalam dunia kerja. Dalam konteks ini, faktor pekerjaan menurutnya berkaitan dengan kemampuan keuangan negara untuk menciptakan lapangan kerja.

 

Keempat, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah akibat hilangnya pendidikan budaya yang baik. Sekolah, masjid, pranata adat, tatanan sosial yang baik harus melahirkan pendidikan budaya yang baik. “Sekolah merupakan institusi untuk menciptakan pendidikan yang baik,” tegasnya. (ili/r7)

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost