Lombok Post
Headline Metropolis

Lamban Bergerak, Bakal Calon Gubernur NTB Siap-Siap Gigit Jari

TGH Hazmi Hamzar. Dewi/Lombok Post

MATARAM-Tahapan pendaftaran pasangan calon menuju Pilgub NTB 2018 kian dekat. Bagi calon perseorangan, pendaftaran dilaksanakan pada bulan November 2017. Sementara calon dari partai politik, digelar pada bulan Januari 2018.

 

Meski masih dalam hitungan bulan, waktu berjalan amat singkat. Sebab itu, para bakal calon gubernur/wakil gubernur diharapkan jangan sampai ketinggalan kereta. Atau menjomblo hingga hari pendaftaran tiba.

 

a�?Sekarang ini waktunya cepat-cepatan, jangan tertinggal dengan yang lain,a�? ungkap Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) TGH Hazmi Hamzar, kemarin (4/7).

 

Ia melihat, hingga kini tak sedikit para bakal calon diam di tempat. Saling menunggu antara satu dengan yang lain. Memantau pergerakan para rival yang akan maju memperebutkan posisi satu atau dua di NTB.

 

a�?Jika terlambat mengambil sikap, bisa-bisa menjomblo hingga akhir,a�? tambahnya.

 

Anggota Komisi II DPRD NTB ini menuturkan, bukan waktunya lagi bagi bakal calon untuk duduk diam manis. Harus ada perkembangan yang lebih baik dari sebelumnya. Khususnya terhadap pasangan calon dan partai politik koalisi.

Memang dalam menentukan pasangan calon yang akan mendampingi tidaklah mudah. Namun, semakin banyak pertimbangan akan semakin banyak menguras waktu. Bahkan tanpa disadari, saat pendaftaran tiba ternayata belum memiliki pasangan.

 

a�?Bisa saja terulang kembali pada pilkada sebelumnya, tidak punya pasangan akhirnya sesama kader partai, itu harus jadi pembelajaran,a�? papar Hazmi.

 

Hal lain yang harus segera ditindaklanjuti adalah kepastian arah dukungan partai politik. Walau bakal calon sudah memiliki pendamping untuk maju, perlu diperhatikan restu dari partai politik. Sebab akan percuma, bila bakal calon gembar-gembor pasangan tetapi di tingkat pusat tidak disetujui.

 

a�?Posisi politik di pusat pun harus dilihat, ke mana arah dukungan partai kepada kita,a�? terangnya.

 

Tak segan Hazmi menyinggung sikap politik yang dilakukan politisi Golkar H Umar Said. Umar yang berencana maju di Pilbup Lobar 2018, secara sportif mengatakan tidak ikut dalam pertarungan. Itu dilakukan karena Umar menyadari tidak ada dukungan dari partai politik.

 

a�?Lebih baik mundur, tidak maju, kalau tetap maju kemudian pilih independen sudah tidak bisa, kecuali sudah dipersiapkan sejak awal,a�? kata Hazmi.

 

Terpisah, pengamat politik NTB Agus membenarkan, fenomena partai politik atau bakal calon ketinggalan kereta harus diantisipasi. Karena itu, proses komunikasi antar partai politik dan bakal calon harus mulai lebih mengerucut. Seiring dengan semakin dekatnya masa pendaftaran calon di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

 

a�?Sekarang masuk semester kedua, masa pendafatran kian dekat, artinya para bakal calon berlomba-lomba dengan waktu menuju masa pendaftaran,a�? jelas Dosen Ilmu Politik dari UIN Mataram ini.

 

Menurutnya, beberapa partai politik besar seperti Golkar, Demokrat, dan gerindra akan lebih cepat memutuskan bakal calon. Sementara partai politik lain bisa jadi sampai garis finis masa pendaftaran, masih akan terus melakukan komunikasi politik.

 

a�?Fenomena ini sudah biasa terjadi, bahkan pada Pilkada 2013 lalu ada partai tidak bisa mengajukan pasangan karena ketinggalan kereta,a�? tutupnya. (ewi/r7)

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost