Lombok Post
Headline Metropolis

Waspada Teror Gagal Ginjal! Tren Meningkat setiap Tahun

GAGAL GINJAL: Seorang pasien tengah berada tengah menjalani proses cuci darah di Gedung Hemodealisis, RSUD Kota Mataram, Selasa (4/7). Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM-Kasus gagal ginjal di Kota Mataram disebut tinggi. Dari data yang diperoleh Lombok Post, penanganan hemodealisis (HD) atau cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, menunjukan peningkatan dalam setiap tahun.

a�?Data pasien, karena ada yang rutin mengikuti cuci darah ada yang tidak tetapi dari penanganan terus meningkat,a�? kata Kepala ruangan Gedung Hemodealisa RSUD Kota Mataram Rendra Prasetya.

Tetapi bisa dipastikan peningkatan ini, menandai jika kasus gagal ginjal di Kota Mataram cukup tinggi. Hal ini ditegaskan Kepala Bidang Pelayanan dan Medik RSUD Kota Mataram dr Emirald Isfihan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

a�?Cukup tinggi,a�? jelas dr Emir.

Angka ini, diyakini bisa semakin bertambah banyak. Jika seluruh pasien HD di Kota Mataram yang dirawat di berbagai rumah sakit diakumulasi jadi satu.

Bahkan di luar sana, bisa jadi ada warga yang terdeteksi mengalami gagal ginjal. Di prediksi angkanya ratusan kasus. “Ini belum lagi ditambah warga yang belum punya kesadaran berobat,a�? ujarnya.

Dijelaskan Emir, layanan cuci darah hanya bagi pasien yang mengalami gagal ginjal. Bukan bagi penderita kanker. Walau tidak menutup kemungkinan, karena kanker darah akhirnya ginjal seseorang ikut mengalami masalah. “Harus cuci darah secara rutin, karena ginjal tidak berfungsi,a�? jelasnya.

Menyikapi tingginya angka warga kota alami gagal ginjal, RSUD Kota Mataram saat ini tengah berupaya meningkatkan fasilitas layanan cuci darah. Dikatakannya, RSUD berencana ingin jadi pusat hemodealisis dengan fasilitas alat cuci darah sebanyak 60 unit.

Saat ini RSUD Kota telah memiliki gedung cuci darah sendiri. Dengan alat yang baru tersedia sebanyak 15 unit. Dalam waktu dekat 45 unit lagi akan didatangkan guna memenuhi kebutuhan permintaan layanan kesehatan dari warga yang trennya terus meningkat.

a�?Di rumah sakit lain tentu saja ada, tetapi jumlahnya masih terbatas,a�? ujarnya.

Terkait persoalan biaya, diakui Dr Emir, memang relatif mahal. Kisaran harga untuk layanan cuci darah Rp 900 ribu. Sementara, bagi penderita gagal ginjal paling tidak dalam satu minggu tiga kali cuci darah secara rutin. Ia menduga inilah yang jadi salah satu alasan warga, enggan berobat. Walau kasus gagal ginjal sangat berbahaya.

a�?Tapi ini bisa ringan kalau masyarakat punya kartu BPJS,a�? jelasnya.

SementaraA� itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi juga mengaku tidak punya data berapa jumlah warga kota alami kasus gagal ginjal. Walau kasus ini cukup berbahaya bagi kesehatan, pihaknya belum terfikir mentabulasi penderita penyakit ini. a�?Datanya ada di RSU,a�? kata dr Usman.

Kasus gagal ginjal juga masuk dalam Program Penanganan Penyakit Kronis yang harus ditangani Rumah Sakit. Namun demikian ia mengimbau pada masyarakat untuk waspada pada penyakit ini. Dari beberapa kasus penyebab gagal ginjal, karena masyarakat lalai dan abai pada kesehatan dirinya.

a�?Ini penyakit (gagal ginjal) karena komplikasi, bisa karena hipertensi yang tak terkendali atau diabetes yang tak terkendali,a�? jelasnya.

Masyarakat banyak yang abai dan menyepelekan penyakit yang diderita. Tetapi panik saat penyakit berubah akut dan menimbulkan komplikasi pada fungsi organ tubuhnya. Dalam kasus ini yakni gagal ginjal.

a�?Saat ginjalnya tidak bisa menyaring, akhirnya produksi urine berlebih,a�? jelasnya.

Dikatakan dr Usman, tren penyakit masyarakat perkotaan saat ini juga cenderung ke penyakit dalam. Bukan lagi penyakit menular. Seperti penyakit stroke, jantung, diabetes, hipertensi, kanker dan lain sebagainya.

a�?Walau ada penyakit menular seperti tifus dan DBD, tetapi tidak banyak,a�? ujarnya.

Khusus untuk penyakit gagal jantung baik karena diabetes atau hipertensi, penangannya bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan rutin melakukan cuci darah di rumah sakit. “Lalu dengan cara kedua transplantasi (cangkok),a�? cetusnya.

Hanya saja, cara kedua ini kerap dapat pro dan kontra. Selain itu harga, mahal organ ginjal juga membuat kasus jual beli organ ginjal selain susah didapat juga kerap jadi komoditi ilegal jual beli organ manusia. (zad/r5)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost