Lombok Post
Metropolis

Alih Fungsi Lahan Pasti Berlanjut

ALIH FUNGSI LAHAN: Seorang petani di lingkar selatan, tengah merawat tanaman padi di sawahnya yang dikelilingi perumahan. Ivan/Lombok Post

MATARAMa��Alih fungsi lahan di Kota Mataram, diprediksi akan lebih masif lagi, setelah draf revisi perda RTRW ditetapkan sebagai produk hukum oleh pemerintah pusat. Saat ini draf revisi masih dikaji Bagian Hukum, Pemerintah Provinsi NTB.

a�?Walau tidak bisa intervensi tetapi selalu terus kita pantau,a�? kata Kepala Bappeda Kota Mataram H Amiruddin yang ditanya mengenai a�?nasiba�? draf revisi perda tersebut.

Yang menarik, jika revisi ini nantinya telah sampai di Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/BPN lalu menjadi produk hukum yang sah, alih fungsi lahan diprediksi semakin masif lagi. Sementara, dalam kurun tahun 2016 saja, alih fungsi lahan di Kota Mataram, capai 89 hektare (ha) sehingga luas lahan yang tersisa saat ini tinggal 1.973 ha.

a�?Tapi yang jelas sudah ada batasan alih fungsi lahan (dalam LP2B),a�? jelasnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Sesuai dengan hasil revisi yang telah disepakati, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), mengharuskan sisa lahan di kota paling tidak 1300 ha. A�Walau begitu, dampaknya akan terasa sekali pada wajah kota. Begitu juga, merosotnya hasil pertanian karena lahan pertanian menyempit.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli, sudah menyiapkan cara mengakali gelombang alih fungsi lahan pertanian. Salah satunya dengan membangun rumah hijau atau green house. Cara ini merupakan sistem bertani di lahan sempit (sitalas).

a�?Di Udayana akan dibangun di atas lahan seluas 10 are,a�? jelas Mutawalli.

Rumah hijau ini nanti akan dikembangkan oleh kelompok tani dengan sistem hidroponik. Mereka akan menanam berbagai macam sayuran. Jika percontohan ini berhasil, diharapkan dapat mendorong motivasi petani lain untuk membangun sistem tanam yang efektif dan efisien.

a�?Kita beri dukungan dana sekitar Rp 200 juta,a�? jelasnya.

Dijelaskan Mutawalli, ada banyak jenis tanaman yang bisa dikembangkan di green house. Seperti sawi, pakcoy, kangkung dan selada. Tidak hanya itu, para petani juga rencananya ingin mencoba untuk menanam semangka, melon dan lain sebagainya.

a�?Cara tanam ini sangat aman dan tidak perlu menggunakan pestisida,a�? jelasnya.

Selain hidroponik, pihaknya juga telah menyiapkan langkah lain yang cocok dikembangkan untuk kawasan sitalas. Yaitu dengan pola tanam hortikultura. Seperti yang telah dikembangkan di Kelurahan Banjar, Kecamatan Ampenan.

a�?(Jika berhasil) nanti di sana (Kelurahan Banjar) kita kembangkan teknologi hidroponik juga,a�? janjinya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost