Lombok Post
Feature Headline

Mitos Ini Buat Takut Pasangan Muda Mudi untuk Mengunjungi Taman Mayura

PENUH SEJARAH : Salah satu bangunan di Taman Mayura yang terlihat asri, kemarin (9/7). THEA/LOMBOK POST

Walau berada di tengah kota, Taman Mayura tetap menawan. Keindahannya bercampur dengan mitos yang berkembang. Seperti apa?

***

WALAU cukup sore, penikmat taman legendaris itu rupanya tak pernah sepi. Selalu ada saja, orang yang datang sekadar melepas penat pikiran di kepala. Dari yang datang lengkap dengan tikar dan rantang sampai yang hanya melenggeng dengan tangan kosong saja.

Tiket masuk hanya Rp 5 ribu rupiah. Itu sudah termasuk biaya masuk dan upah bagi penjaga taman yang setia merawat taman tua itu. a�?Saya rasa tidak mahal kok,a�? kata guide Taman Mayura, Andi pada Lombok Post siang itu.

Pria itu, berbaik hati juga mengantarkan Lombok Post, berkeliling di taman yang kini sudah berusia 2 abad lebih 73 tahun itu. Bisa dibilang, usianya nyaris tiga abad. Telah banyak generasi yang di lalui situs peninggalan kerajaan Hindu itu.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

a�?Kecuali, untuk turis pendatang dan para pemancing, kita kenakan Rp 10 ribu,a�? ungkapnya.

Pria itu terlihat semangat. Ia juga sepertinya banyak mengetahui beberapa sejarah di balik situs-situs yang berada di lingkar Taman Mayura. Walau saat itu tengah hujan, Andi terlihat masih bersemangat untuk bercerita banyak hal tentang taman itu.

A�a�?Mayura itu dari Bahasa Sansekerta, punya arti Burung Merak,a�? terangnya.

Taman seluas 2 hektare (ha) itu dibangun oleh penguasa yang sangat tersohor di Pulau Lombok. Dia adalah Raja Anak Agung Ngurah Karangasem. Persisnya pada tahun tahun 1744.

a�?Awalnya dulu taman diberi nama Taman Kelepug,a�? jelasnya.

Nama kelepug, kata Andi diambil dari suara-suara air yang mengalir deras dari dalam telaga di taman ini. Tetapi pada tahun 1866, taman ini rupanya mengalami renovasi oleh Raja Mataram, lalu berimbas pada penggantian nama Kelepug menjadi Mayura.

Pemilihan nama Mayura tidak lepas dari banyaknya burung merak di tempat itu dulu. Merak-merak ini memangsa ular yang banyak berkeliaran di semak belukar taman.

a�?Bentuk taman saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya yang dulu, tidak banyak perubahan,a�? jelasnya.

Tangan Andi mengarah ke tempat lain. Ia menunjuk sebuah kolam yang diberi nama Rat Kerate. Dulunya, lanjut Andi tempat itu disebut Bale Kambang. Sebab, kerap dijadikan tempat berkumpul para pemimpin kerajaan untuk melakukan rapat.

a�?Bahkan untuk menerima tamu kerajaan,a�? tuturnya.

Uniknya, di dalam bagian Bale Kambang, ternyata ada beberapa patung. Patung-patung itu, dikatakan Andi, memiliki simbol toleransi antar umat beragama.

a�?Dari Islam, Budha, Hindu, bahkan lintas etnis,a�? jelasnya.

Multifungsinya Bale Kambang, konon juga pernah digunakan sebagai tempat mengadili suatu perkara. Hebatnya lagi, disana juga ada enam patung tokoh Islam asal Pakistan yang disebut-sebut merupakan simbol balas jasa raja kepada teman karib yang rupanya asal Pakistan.

a�?Kalau ini, namanya Bale Pererenan,a�? jelasnya.

Ada mitos unik yang berkembang seputar pura. Konon, jika ada sepasang muda mudi yang belum menikah mengunjungi taman itu, maka hubungan mereka tidak akan berlangsung lama. Tetapi, Andi sendiri saat ditanya soal itu, malah tertawa lebar. Ia mengaku itu hanya rumor yang berkembang.

a�?Sebab semua tentu kembali pada diri kita sendiri,a�? tepisnya.

Kewingitan taman tidak selesai di situ. Kali ini, Andi sendiri yang mengungkapkan jika Taman Mayura kerap menyisakan banyak kejadian misterius bagi beberapa pengunjungnya. Banyak pengunjung yang mengaku didatangi orang-orang besar di dalam taman.

a�?Kalau yang ini anda percaya atau tidak, ada bahkan yang melapor pada kami melihat sosok tokoh nasional seperti Presiden Soekarno,a�? ungkapnya. (NATHEA CITRA SURI, Mataram/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost