Lombok Post
Headline Metropolis

Proyek Ikan Patin Dinas Perikanan Kota Mataram Diduga Merugikan Negara Puluhan Juta

DALAM PLASTIK: Salah satu pekerja di Balai Benih Ikan Batu Kumbung, Lingsar, Lombok Barat menunjukan benih ikan Patin yang di budidaya di sana, Kamis (13/7). Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM-Aroma mark up harga diduga terjadi pada proyek pengadaan paket budidaya ikan Patin di Kolam 1.000 meter persegi perunit. Proyek ini ditangani oleh Dinas Perikanan Kota Mataram dengan Surat Perintah Kerja (SPK) 523/085/PPK-Diskan/SPN/IV/2017 pada tanggal 14 April 2017 lalu.

Pada proyek itu, ada tiga item yang menjadi sorotan. Diantaranya harga benih ikan dan dua pelet ikan dengan spesifikasi pengadaan yang tidak jelas.

Sumber Lombok Post menyebutkan, harga benih ikan Patin dinilai terlalu mahal. Idealnya untuk bibit ikan Patin dengan ukuran seperti yang disebutkan, paling mahal Rp 1.700 perekor.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

“Harga, perkilogram ikan Patin saja di kisaran Rp 23 ribu rupiah, itu bisa berisi tiga-empat ikan Patin. Berarti harga Rp 6.600 itu seharusnya bukan harga bibit tetapi harga ikan (Patin) yang siap jual,a�? kritik sumber ini.

Jika diasumsikan, seperti harga yang disebutkan sumber, maka harga benih ikan patin untuk pengadaan sebanyak 11.250 ekor, hanya butuh anggaran Rp 19.125.000. Berarti ada potensi kerugian negara mencapai Rp 55.125.000.

“Kasihan rakyat, tidak boleh dibodohi seperti ini,a�? kata sumber ini.

Belum lagi persoalan item pengerjaan untuk pengadaan pakan ikan. Dua item itu, dijelaskan sumber ini, tidak dicantumkan secara jelas, jenis pelet seperti apa yang diadakan. Jika tidak jelas spesifikasinya seperti apa, maka ada kemungkinan, jenis pelet yang harganya sangat murah.

a�?SPK tidak boleh seperti itu, jadi harus jelas. Hal ini untuk menghindari pengadaan jenis pelet yang tidak sesuai dengan harapan,a�? jelasnya.

Dari data SPK yang diberikan sumber pada Lombok Post, dijelaskan di sana waktu pelaksaaan pekerjaan dimulai dari tanggal 14 April sampai 28 April 2017. Total nilai proyek sebesar Rp 182,226 juta.

Karena nilainya masih di bawah Rp 200 juta, maka mekanisme proyek tidak melalalui lelang. Melainkan Penunjukan Langsung (PL) dengan menunjuk CV. Bambu Runcing. SPK juga telah ditanda tangani oleh Kepala Dinas Perikanan Kota Matam Hj Baiq Sujihartini dan telah didistribusikan pada kelompok penerima bantuan.

a�?Proyek PL memang rentan seperti ini, jadi perlu diawasi,a�? ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Kota Mataram Hj Baiq Sujiartini enggan mengomentari terlalu jauh. Ia mengaku belum mendalami proyek PL yang dimaksud. Mengingat banyaknya proyek pengadaan benih ikan di dinasnya.

a�?Iya saya memang tanda tangan, tapi belum saya pelajari lebih detail,a�? jelas Hartini.

Ia memperkirakan harga benih yang mencapai Rp 6.600 itu, kemungkinan besar karena berkaitan dengan kualitas dari bibit yang di beli. a�?Tetapi saya tidak komentar lebih lanjut, khawatir salah beri keterangan,a�? imbuhnnya.

Hartini mengaku harus mempelajari dulu.Termasuk meminta keterangan dari kabidnya, terkait standar harga yang tercantum dalam SPK itu. Ia berjanji hari ini, akan memberi keterangan lebih detail soal proyek itu.

a�?Saya juga sudah hubungi kabid saya, dia juga harus lihat berkasnya lagi,a�? jelasnya.

Sebagai perbandingan harga, Lombok Post lalu mendatangi Balai Benih Ikan (BBI), Batu Kumbung, Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Pengelola BBI Sabara Putra menjelaskan jika harga benih Patin yang dijual dengan ukuran 8 cm di tempatnya, dihargai hanya seribu rupiah.

a�?Ya kalau sekitar 8 cm atau lebih, seharga seribu rupiah,a�? kata Sabara.

Harga ini, disebutnya sudah mentok. Mengingat, daya tawar benih ikan Patin di Lombok masih sangat kurang. Masyarakat pada umumnya 60-70 persen masih lebih suka mengkonsumsi ikan Nila. Ukuran ini, sudah termasuk aman untuk dijual lalu dibudidaya masyarakat.

a�?Ikan Patin itu ada dua jenis, Patin Siam dan Ikan Jambal Siam. Tetapi harganya tidak jauh beda,a�? jelasnya.

Karena itu, peluang untuk menaikan harga di kisaran itu masih sulit. Kecuali, jika masyarakat sudah mulai tertarik mengonsumsi ikan Patin. Sehingga permintaan bisa meningkat yang mendorong harga juga bisa naik lebih baik.

“Penjualan benih dalam 1.000 ekor saja, dalam sebulan belum tentu habis. Ya, kita memang dituntut untuk bisa mengkreasikan Patin, sebab saat ini belum prospek,a�? tandasnya. (zad/r5)

 

Berita Lainnya

ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost

Uang Nomor Dua, Paling Penting Lingkungan Bebas Sampah

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

Redaksi LombokPost

Bangunan Tua Itu Perlu Direnovasi

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post

Pintu Beasiswa Eropa Terbuka Lebar untuk Pelajar NTB

Redaksi Lombok Post