Lombok Post
Headline Metropolis

Ini Gawat, Penderita Sipilis pun Laku Keras

TERTUNDUK: Sejumlah pasangan yang terjaring razia menundukkan kepalanya saat awak media mengambil gambarnya saat turun dari truk operasional beberapa waktu lalu.

Bisnis prostitusi kelas teri masih marak di Kota Mataram. Karena murah meriah, tempat penyaluran hasrat tidak bisa pilih-pilih. Pasar pun jadi tempat favorit. Berikut penelusuran Lombok Post.

***

MALAM perlahan turun. Sumber Lombok Post, membantu menunjukan salah satu warung kopi yang kerap dijadikan tempat transaksi bisnis lendir. Warung itu ada di pinggir jalan Umar Maye, Cakra, Kota Mataram.

a�?Di sana,a�? terang sumber tersebut.

Warung itu milik ibu E (inisial, Red). Dari cerita sumber ini, ibu E juga pelaku bisnis esek-esek. Perkiraan usia wanita itu sekitar 37 tahun. Ia bertubuh montok. Dulunya ia berasal dari Pulau Jawa. Tetapi kini memilih menetap di Cakranegara dengan status janda.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

a�?Orangnya cantik kan? Tapi sudah jadi janda beberapa kali,a�? bisiknya.

Suasana ngopi di warung itu berjalan biasa. Ada tawa dan canda khas. Beberapa wanita terlihat menemani. Mereka masing-masing berinisial NI, AN, AT. Tiga orang itu juga pemain lama di bisnis lendir di tempat itu.

NI berasal dari Gunung Sari, Lombok Barat. Ia termasuk PSK lama. Kulitnya putih dan kerap lebih banyak menerima order karena dinilai lebih menggoda. Ia pernah terjaring razia dan dari hasil pemeriksaan tim kesehatan NI mengidap penyakit sifilis yang sudah stadium empat.

Lalu ada, AT berkulit hitam manis. Tetapi tubuhnya lebih montok dibanding NI dan ia juga lebih bersih dari segi penampilan. Sedangkan AN, termasuk pemain baru sebagai pedagang seks komersil (PSK) di tempat itu.

a�?Sebenarnya ada satu lagi DW, dia mainnya kotor bahkan juga sering disebut idiot, ia tak pernah peduli siapa pelanggannya,a�? ungkapnya.

Suasana berjalan santai. Sampai seseorang pria dewasa di antaranya, berujar dengan enteng. Tanpa sungkan ia, mengisyarakatkan hasrat menyalurkan birahi. Ajakan a�?bercintaa�� memang tidak fulgar. Tetapi menggunakan bahasa isyarat yang semua orang yang duduk di warung kopi itu, bisa mengerti maksudnya.

a�?Maeh melet beranget! (Mana saya mau berhangat),a�? ujarnya dalam bahasa Sasak, sembari tersenyum santai.

Dengan kata lain, pria itu ingin menyalurkan syahwatnya. Tetapi N sang pemilik warung terlihat santai mendengar permintaan itu. Dengan profesional ia menawarkan diri melayani. Tetapi, bapak itu malah mencari NI. Gadis ini walau mengidap penyakit, rupanya lebih menggoda hasratnya.

Kulitnya yang putih dan make up tebal mampu mengubah penampilan NI di malam hari. Apalagi jika hanya diterangi lampu hemat energi. Ia terlihat seperti yang paling berkelas dibanding wanita penghibur lain.

Keduanya lalu berjalan ke luar warung lalu berjalan menuju pintu masuk Pasar Cakranegara di sebelah timur. Langkah mereka terlihat lebih cepat, sepertinya didorong libido luar biasa. Sumber Lombok Post lalu menuturkan, tidak ada patokan harga mati untuk layanan seksual di tempat itu. Pelayanan akan disesuaikan dengan tarif. Layanan paling istimewa sudah bisa didapat dengan hanya Rp 40 ribu.

a�?Kalau cuma punya Rp 10 ribu atau 15 ribu, ya dilayani sambil berdiri,a�? tuturnya.

Harga murah meriah itu membuat bisnis esek-esek di kawasan Jalan Umar Maye tidak pernah sepi. Dalam semalam para wanita penghibur, pernah bahkan sampai melayani sebanyak 8 pelanggan. Mereka tidak akan segan-segan bercerita itu pada pelanggan yang kerap menikmati layanan birahinya.

a�?Ya mainnya di dalam pasar di atas tong atau di sampingnya,a�? jelasnya.

Sumber Lombok Post yang lain menuturkan, prilaku para penyuka birahi itu, kerap keterlaluan. Acap kali, pada pagi harinya beberapa pedagang menemui lapak mereka morat-marit tak karuan. Alat kontrasepsi juga kerap ditemui tercecer di tempat itu.

a�?Ya wajar, kalau pada akhirnya pedagang jadi jijik, itu (alat kontrasepsi) diyakini bisa mendatangkan sial sehingga banyak pedagang jadi uring-uringan,a�? jelasnya.

Kepala Bidang Trantibumlinmas Kota Mataram Bayu Pancapati membenarkan ada praktik prostitusi di tempat itu. Dari penuturannya, sebenarnya para PSK di tempat itu, sudah ada bahkan sejak bisnis esek-esek di Pasar Panglima, Cakranegara juga menggeliat kala itu.

a�?Mereka bukan pelarian dari pasar beras (Pasar Panglima), mereka memang sudah ada sejak lama,a�? tuturnya.

Dari informasi yang diperolehnya, usai geliat esek-esek di Pasar Panglima ditutup pemerintah kota, sempat terpantau para pelakunya beralih ke kawasan Sapta Marga dekat sebuah pabrik rokok. Di tempat itu, mereka mulai membuka layanan birahi sekitar pukul 10 malam.

a�?Tetapi aparat sudah berulang kali turun dan kini sudah tidak diketahui kemana mereka pergi,a�? bebernya.

Sementara, di Jalan Umar Maye, berulang kali pihaknya melakukan penertiban. Tetapi Bayu mengaku heran, setiap kali para pelaku ditangkap lalu diserahkan ke Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Budi Rini NTB, tidak berselang lama para PSK itu kembali dilepas dan berkeliaran di tempat itu lagi.

a�?Kami akhirnya enggan bawa ke sana, karena prosedurnya ribet sekali,a�? ungkap Bayu.

Ia mengeluhkan keharusan syarat-syarat administratif dan yang menguatkan yang bersangkutan benar-benar PSK. Padahal, lanjut Bayu, sudah sangat jelas protap penertiban yang dilakukan satpol PP saat membawa para penjaja seks ke Budi Rini.

a�?Kita bertindak berdasarkan laporan masyarakat, karena ada keresahan kami harus turun,a�? terangnya.

Tetapi nyatanya, saat para pelaku itu dibawa ke sana, satpol PP malah dimintai sejumlah persyaratan yang memusingkan. Dari keharusan mengisi berita acara, sampai harus bisa membuktikan dengan data dan fakta di lapangan bahwa yang bersangkutan benar-benar PSK.

a�?Makanya kami lebih suka turun dengan Dinas Sosial, biar pembuktian bisa dilihat langsung (bahwa mereka benar-benar PSK),a�? jelasnya.

Bayu menolak disebut pihaknya lepas tangan dalam kasus prostitusi di Jalan Umar Maye. Berbagai upaya telah dilakukan pihaknya untuk membubarkan praktik penyakit masyarakat ini. Ia mengungkapkan, sebenarnya praktik ini tidak hanya terjadi di tempat remang-remang. Tetapi sudah jadi rahasia umum lagi, terjadi di tempat-tempat yang lebih elit, semisal hotel melati.

a�?Tetapi apa yang kami dapat, kami bahkan diprotes pemilik hotel, mereka bilang ke satpol PP, selama kegiatan ini tidak meresahkan warga, kenapa harus ditertibkan,a�? ungkap Bayu.

Sikap ini, sebenarnya menunjukan ada beberapa pemilik hotel kelas melati yang tidak kooperatif dan ikut memuluskan maraknya praktik prostitusi di kota yang bermoto Maju, Religius dan Berbudaya ini. Karenanya jika persoalan ini ingin segera tuntas, tentu dibutuhkan keterlibatan semua pihak untuk menyelesaikan persoalan penyakit masyarakat ini tidak semakin merajalela.

Mantan Kepala Pasar Cakranegara Mustakim membenarkan praktik prostitusi di Cakranegara sudah berlangsung lama. Bahkan sejak ia masih jadi kepala pasar di tempat itu. Saat itu, cara mengurangi praktik esek-esek di dalam pasar yakni dengan menutup 23 pintu pasar dengan menggunakan gembok.

a�?Iya memang ada, tetapi dulu saya usahakan dengan menutup pintu-pintu pasar dengan gembok,a�? jelasnya.

Belakangan, sebelum ia dipindahtugaskan ke Pasar Kebon Roek, pintu-pintu itu malah dijebol oleh oknum yang masih menginginkan tempat itu jadi kawasan pemuas birahi pada malam hari.

a�?Iya gemboknya di rusak lagi, jadi marak lagi,a�? terangnya.

Kepala Pasar Cakranegara Nengah Sukardi mengklaim praktik esek-esek itu sudah mulai berkurang. Namun ia tak menepis wilayahnya menjadi tempat favorit untuk bisnis lendir selama ini. Karena itu, langkah yang tengah ia upayakan bersama pihak keamanan dengan mengganti pintu lama yang terbuat dari bedek (anyaman bambu, Red) dengan bahan yang lebih permanen dan kuat.

a�?Gimana tidak rusak, itu dari bedek,a�? jelasnya.

A�a�?Kalau pintunya lebih kuat, tentu mereka tidak bisa lagi masuk ke dalam,a�? sambungnya.

Sebelumnya, penggantian pintu pernah diupayakan 10 orang petugas keamanan yang ditunjuk menjaga pasar. Langkahnya dengan memungut pada para pedagang, untuk membeli bahan pengganti pintu.

a�?Tetapi karena ada pengarahan, kalau cara itu termasuk pungli, kami jadi khawatir meminta sumbangan perbaikan pintu dari pedagang,a�? jelasnya.

Nengah mengaku sudah menyampaikan persoalan ini pada Dinas Perdagangan Kota Mataram. Harapannya, anggaran bisa dialokasikan dari dinas untuk perbaikan pintu di 23 pintu pasar yang kerap dijadikan jalan masuk para penikmat birahi.

a�?Ya perbaikannya pelan-pelan jadinya, mau tidak mau harus tunggu sampai ada anggaran,a�? tandasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost