Lombok Post
Kriminal

Gaya Hidup Dorong Anak Jadi Pelaku Kriminal

ANAK PELAKU KRIMINAL: Kapolres Mataram AKBP Muhammad (tengah) melakukan ekspose kasus pencurian dengan pemberatan dan kekerasan dengan pelaku dua remaja, di Polres Mataram, kemarin (31/7). DIDIT/LOMBOK POST

MATARAM-Fenomena anak menjadi pelaku kriminal terjadi di Kota Mataram. Dua pelaku yang masih remaja dengan inisial RA, 16 tahun dan HJ, 15 tahun ditangkap tim opsnal Reskrim Mataram. Keduanya menambah panjang catatan anak sebagai pelaku tindak kejahatan.

Kapolres Mataram AKBP Muhammad mengatakan, kedua pelaku remaja yang diamankan terlibat di dua kasus berbeda. RA ditangkap karena diduga sebagai pelaku pembobolan rumah, sedangkan HJ merupakan pelaku penjambretan.

a�?Ditangkap di dua lokasi berbeda, akhir pekan lalu,a�? kata Muhammad, kemarin (31/7).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Karena masih belum dewasa, kata Kapolres, maka proses hukum untuk keduanya dilakukan sesuai undang-undang perlindungan anak. Kepolisian juga akan melakukan koordinasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Mataram dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB.

a�?Kita sesuaikan dengan undang-undang anak,a�? ujarnya.

Muhammad mengatakan, fenomena anak yang menjadi pelaku kriminal, perlu menjadi perhatian bersama. Apalagi, bukan kali ini saja jajarannya menangkap anak yang terlibat tindak pidana.

a�?Orang tua juga diharapkan memberi pengawasan dan mengecek pergaulan anaknya,a�? kata dia.

Aksi pencurian yang dilakukan RA terjadi pada awal Juli lalu. Tak tanggung-tanggun, remaja asal Batujai, Lombok Tengah ini menyatroni dua rumah sekaligus di wilayah hukum Polsek Mataram dan Polsek Ampenan.

Dalam aksinya, RA beraksi sendirian. Dia memanfaatkan rumah kosong, yang ditinggalkan penghuninya. Pada aksinya yang pertama, di sebuah rumah di Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, RA berhasil membawa kabur uang tunai sebesar Rp 1,5 juta,dua BPKB, dan tiga pakaian.

Selanjutnya, RA yang ditangkap di sebuah warung di Jempong ini, kembali beraksi di Kelurahan Mataram, Kecamatan Selaparang. Di rumah milik Lilik Madiyono ini, RA menggondol satu unit televisi, satu kamera DSLR, dan satu jam tangan. Akibat perbuatannya, korban menderita kerugian hingga Rp 17 juta.

a�?Saya pakai untuk beli makan sama beli rokok,a�? kata remaja yang hanya tamat SD ini.

Sementara HJ, melakukan aksinya pada Rabu (19/7). Bersama dengan rekannya yang masih kabur, HJ menjambret Darwatiningsih di Jalan Lingkar Selatan, Kecamatan Sekarbela.

Perbuatan remaja yang masih duduk di bangku SMP kelas III di salah satu sekolah di Lombok Barat ini, mengakibatkan tangan kanan korban patah. Korban juga harus kehilangan uang sebanyak Rp 2,5 juta.

Saat ditanyakan motif jambretnya, HJ mengeluarkan pengakuan senada dengan RA. Uang yang diambilnya digunakan untuk senang-senang.

a�?Saya gak pakai untuk minum-minum. Cuma buat beli rokok saja,a�? kata RA sambil terisak.

Terpisah, fenomena anak sebagai pelaku kriminal, menurut Ketua Divisi Advokasi LPA NTB Joko Jumadi, akibat gaya hidup. Pusat perbelanjaan yang semakin menjamur di Kota Mataram, tentunya mengiming-imingi adanya peningkatan gaya hidup.

Bagi sebagian orang, membeli makan atau sekadar sebungkus rokok tentu tidak memberatkan. Tetapi tidak bagi anak dengan kondisi perekonomian orang tuanya yang tidak mampu.

a�?Mereka mau mengimbangi, tapi orang tua tidak mampu. Akhirnya ambil jalan pintas,a�? kata Joko, kemarin.

Dari sejumlah advokasi LPA, rata-rata hasil kejahatan anak dipakai untuk membeli makan, rokok, hingga minum-minuman beralkohol. Beberapa diantaranya ada juga yang digunakan untuk membeli narkoba.

a�?Ada yang beli narkoba, tapi jumlahnya tidak besar,a�? bebernya.

Apakah hukuman yang diberikan tidak memberi efek jera, sehingga anak kadangkala kembali berbuat tindak pidana? Joko mengatakan, proses hukum yang dilakukan sudah maksimal. Namun perlu ada peningkatan dalam hal rehabilitasi.

Selama ini, lanjut dia, proses rehabilitasi hanya menyasar anak sebagai pelaku kriminal. Tetapi intervensi terhadap orang tua dan lingkungan justru lalai dilakukan pemerintah.

a�?Kita tidak merehabilitasi orang tua dan lingkungannya,a�? jelas dia.

Akibat tidak ada intervensi terhadap orang tua dan lingkungan, anak yang kembali dari proses hukuman, bisa kembali mengulangi perbuatannya. a�?Harus ada keterlibatan instansi pemerintah. Karena orang tua dan lingkungan sangat mempengaruhi anak setelah menjalani hukuman,a�? tandas Joko.

Sementara itu, data yang dihimpun koran ini menyebutA� jumlah Anak yang Berurusan Dengan Hukum (ABH) mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Untuk tahun 2015, terdapat 67 anak yang ditangani Bapas Mataram. Setahun setelahnya, jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat, yakni sebanyak 144 ABH pada 2016. Sementara hingga April tahun ini, tercatat sudah ada 31 anak yang terjerat pidana.(dit/r2)

Berita Lainnya

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Gubernur Yakin Kemampuan Brimob

Redaksi LombokPost

Polda Kantongi Data Baru Kasus Pengadaan Buku Madrasah

Redaksi LombokPost

Berkas Banding Merger BPR Dilimpahkan

Redaksi LombokPost

Utamakan Langkah Preventif

Redaksi LombokPost