Lombok Post
Headline Sumbawa

Rastra Bulog Ditolak Warga Lantung Padesa

JELEK: Kondisi beras sudah tidak layak konsumsi sehingga dikembalikan ke bulog agar ditukar dengan yang baru.

SUMBAWA– Warga Desa Lantung Padesa, Kecamatan Lantung menolak beras sejahtera (rastra) yang dikirimkan Bulog Subdivre Sumbawa. Pasalnya, sebagian dari rastra tersebut berwarna kuning.

A�Salah seorang tokoh masyarakat Lantung, Abdul Rauf mengatakan, bahwa beras tersebut dikirimkan pada Selasa (1/8) lalu. Beras tersebut sampai di Desa Lantung Padesa sekitar pukul 12.00 Wita. Saat rastra itu diturunkan dari truk, langsung diperiksa oleh perangkat desa setempat. Ternyata, diketahui beras tersebut berwarna kuning. Melihat kondisi itu, camat Lantung langsung meminta agar rastra itu dikembalikan dan diganti dengan yang baru.

Rauf menyayangkan kasus ini. Seharusnya, sebelum didistribusikan kepada masyarakat, beras tersebut harus diperiksa dan diseleksi terlebih dahulu.

”Mentang-mentang beras itu untuk masyarakat tidak mampu, lantas diberikan dengan kualitas yang tidak layak dikomsumsi. Ini kan aneh,” ujar Rauf.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”87″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Dihubungi terpisah, Kepala Bulog Subdrive Sumbawa Lalu Tawang, yang dikonfirmasi mengatakan, rastra tersebut langsung ditukar saat itu juga. Jatah yang diberikan untuk Desa Lantung Padesa selama tiga bulan mencapai 1.800 kilogram. Pasalnya, rastra yang dibawa saat itu mencapai 10 ton.

”Beras yang ditolak oleh masyarakat dan kepala desa tersebut langsung ditukar dan dipilih langsung oleh perangkat desa setempat,” katanya didampingi Kasi Pelayanan Publik Syamsuddin, kemarin (2/8).

Dalam karung tersebut memang ada rastra yang berwarna kuning. Terkadang, persepsi masyarakat bahwa beras berwarna kuning itu adalah beras yang tidak layak konsumsi. Padahal jika mengacu pada aturan yang berlaku, dalam aturan penerimaan standar beras medium adalah kerusakannya 20 persen, derajat sosos minimal 95 persen, kuning rusak 3 persen dan kadar airnya mencapai 17 persen.

A�Menurutnya, beras berwarna kuning ini akibat penanganan yang kurang di tingkat petani. Diharapkan kepada penyuluh pertanian agar kedepannya bisa menerapkan sistem mekanisasi dalam pertanian. Petani juga harus segera menjual hasil panennya. Jangan terlalu lama ditumpuk karena berasnya akan kuning.

”Ini bukan beras busuk. Tapi kondisinya seperti itu. Ini Karena perlakuan pascapanen,” terangnya.

A�Dikatakan, saat ini ada alat untuk menyortir beras, namanya colour sortir. Dengan alat ini, semua beras berwarna kuning otomatis akan terbuang sendiri. Namun, hanya beberapa penggilingan di Pulau Jawa saja yang memiliki alat tersebut. Di NTB alat tersebut belum ada. Dalam proses pembelian beras di petani dilakukan oleh mitra Bulog. Bulog tidak bisa langsung membeli beras di petani. Karena nanti akan dianggap memonopoli.

A�Dalam proses sortir awal dilakukan melalui survei oleh tim tersendiri. Setiap beras yang masuk ke dalam gudang Bulog disortir. Jika memenuhi syarat, maka akan diterima. Namun jika tidak akan dikembalikan kepada mitra untuk diolah kembali.

A�Disinggung terkait sosialiasi, pihaknya mengaku selalu melakukan sosialisasi sebelum pendistribusian rastra. Namun, pihaknya belum menyosialisasikan terkait standar beras rastra tersebut.

A�”Insya Allah kedepannya akan kami lakukan sosialisasi. Memang selama ini kami belum pernah singgung terkait kualitas standar medium,” pungkasnya. (run/r4)

 

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost