Lombok Post
Kriminal

Divonis Bersalah, Taufik Budiman Melawan

DIPUTUS BERSALAH: Taufik Budiman divonis 3 tahun 4 bulan atas dugaan penggelapan uang sebesar Rp 1,5 miliar, dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri Mataram, kemarin (3/8). DIDIT/LOMBOK POST

MATARAM- Terdakwa kasus penggelapan, Taufik Budiman, dijatuhi hukuman 3 tahun 4 bulan penjara dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, kemarin (3/8). Putusan majelis hakim, hanya dua bulan lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

a�?Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan dalam dakwaan alternatif kedua pada Pasal 372 KUHP dan menjatuhkan hukuman 3 tahun empat bulan penjara,a�? kata Ketua Majelis Hakim Albertus Usada membacakan putusan, kemarin.

Sebelum pembacaan putusan itu, majelis hakim menguraikan fakta persidangan. Dalam uraiannya, kasus ini berawal ketika pelapor Nina Monica meminta bantuan kepada terdakwa untuk mengurus masalah objek tanah di Desa Meninting, Lombok Barat dengan nomor SHM 22 dan SHM 23.

Pada 27 November 2013, surat kuasa diberikan kepada terdakwa untuk mengurus tanah yang sebelumnya tertera nama orang tua dari Nina Monica. Namun, ketika itu, Nina mendengar jika tanah tersebut telah beralih nama ke Supardi.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Setelah mendapat kuasa, terdakwa melayangkan somasi kepada sejumlah pihak, yang menyatakan jika pemilik tanah adalah orang tua dari kliennya dan tidak pernah dijual kepada orang lain. Sehingga, perpindahan hak atas tanah tersebut dianggap A�tanpa persetujuan tertulis dari ahli waris merupakan perbuatan ilegal.

Mendapat somasi itu, Supardi kemudian mengajak Nina Monica untuk berdamai. Tawaran itu disambut baik Nina Monica dengan syarat, Supardi harus menyerahkan uang perdamaian sejumlah Rp 2 miliar kepada ahli waris melalui terdakwa.

Selanjutnya, Supardi menyerahkan uang kompensasi itu dalam bentuk dua lembar BG (bilyet giro) masing-masing sebesar Rp 1 miliar dan Rp 950 juta. Sedangkan sisanya sebanyak Rp 50 juta diberikan secara tunai.

Setelah mendapat uang, terdakwa meminta Supardi untuk membuat dua kuitansi. Masing-masing sebesar Rp 500 juta dan Rp 1,5 miliar untuk pembayaran biaya perdamaian.

Kepada Nina, terdakwa kemudian menyerahkan kompensasi uang Rp 500 juga. Sedangkan sisanya, kata terdakwa, akan dilunasi dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, Nina Monica akhirnya mengetahui jika Supardi telah memberikan seluruh uang kompensasi kepada terdakwa. a�?Supardi sempat bertemu dengan Nina Monica dan menyampaikan jika uang tersebut telah diserahkan tunai kepada terdakwa pada 20 Januari,a�? kata Albertus.

Perbuatan terdakwa yang tidak menyerahkan uang tersebut, membuat Nina dan Supardi merasakan dirugikan. Namun, alasan terdakwa belum menyerahkan adalah karena dalam SHM nomor 22, tercantum tiga orang sebagai pemegang hak milik. Yakni Seha Mariam, Laila Lubis, dan Husen.

Berangkat dari kondisi itu, terdakwa memutuskan untuk mengembalikan uang melalui gugatan perdata, yang telah diserahkan, kepada Supardi. Taufik juga telah menyerahkan BG senilai Rp 1,5 miliar sebagai titipan bila jatuh tempo dalam gugatan perdata itu.

Tiga hari sebelum jatuh tempo, Taufik meminta Supardi untuk jangan mencairkan. Sebab proses mediasi dalam gugatan perdata antara terdakwa dan Supardi tidak berhasil. Karena itu, uang kompensasi senilai Rp 1,5 miliar masih dalam penguasaan terdakwa, hingga sidang kemarin.

a�?Karena unsur pelaku perbuatan, maka terdakwa harus dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan dalam dakwaan alternatif kedua,a�? ujar Albertus.

Usai pembacaan vonis, saat diminta tanggapan oleh hakim atas putusan tersebut, Taufik Budiman langsung menyatakan banding. a�?Saya akan nyatakan banding,a�? kata Taufik.

Sementara JPU dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB Armansah Lubis mengatakan pada prinsipnya mereka menerima vonis hakim. a�?Tapi karena terdakwa menyatakan banding, kita akan hadapi,a�? katanya.

Ditemui usai sidang, Taufik Budiman mengatakan, masih meyakini jika dirinya tidak bersalah. Setidaknya ada dua hal penting yang disembunyikan majelis hakim terkait bukti-bukti. Salah satunya terkait SHM Nomor 22 di Desa Meninting yang terdapat tiga nama pemilik.

Kata Taufik, dari sana akhirnya uang sebanyak Rp 1,5 miliar tersebut ditahan dan tidak diserahkan. a�?Kenapa uang saya tahan, karena ada Seha Mariam dan Laila Lubis dalam SHM itu,a�? kata dia.

Menurut Taufik, dia sudah menduga jika persidangan yang dilakukan tidak fair. Ada pelanggaran dalam kode etik yang dilakukan majelis hakim. a�?Tapi untuk putusan ini, akan kita sikapi dengan menyatakan banding,a�? tandasnya.(dit/r2)

Berita Lainnya

Tilang Menurun, Laka Lantas Meningkat

Redaksi LombokPost

Rekanan Kembalikan Kerugian Negara

Redaksi LombokPost

Saksi Beberkan Percakapan Muhir

Redaksi LombokPost

Jaksa Siap Eksekusi Baiq Nuril

Redaksi LombokPost

Dana BOS Dipakai Untuk Beli Motor

Redaksi LombokPost

Musim Hujan Tiba, 122 Polisi Siaga

Redaksi LombokPost

Bukti Kejahatan 2018 Dimusnahkan

Redaksi LombokPost

Baiq Nuril Siap Ajukan PK

Redaksi LombokPost

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost