Lombok Post
Metropolis

Ahyar Pastikan Deklarasi 23 Agustus

H Ahyar Abduh. Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM-Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh ingin membuat gebrakan lagi. Santer terdengar Ahyar bakal segera mendeklarasikan diri bersama pasangannya sebagai bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB. Artinya pasangan ini bisa menjadi pasangan bakal calon kepala daerah NTB yang pertama kali dideklarasikan.

Bukan kali ini saja Ahyar menjadi yang pertama. Sebelumnya dia merupakan bakal calon gubernur pertama yang menyatakan kesiapannya maju dalam Pilkada NTB. Ahyar juga merupakan bakal calon pertama yang mendapat dukungan dari partai politik.

Ahyar sendiri menyebut, bakal mendeklarasikan diri bersama pasangannya 23 Agustus mendatang. a�?Iya, saya rencanakan tanggal 23 Agustus,a�? kata Ahyar.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Namun saat ditanya siapa pasangannya, Ahyar memilih tetap merahasiakannya. Dia beralasan rekomendasi dari partai pendukungnya belum keluar.

a�?Sampai sekarang belum keluar keputusan (dari parpol pendukung),a�? imbuhnya. Namun ketika disebut nama Mori Hanafi sebagai pasangannya, Ahyar tidak membantahnya.

Saat diwawancara Ahyar juga mengklarifikasi berbagai isu dan hembusan miring tentang dirinya yang disebut-sebut berpindah haluan partai politik. a�?Sampai saat ini saya masih kader Golkar, ini kartu anggota saya,a�? ujarnya, sembari menunjukan KTA yang ia miliki.

Hal ini perlu ia tegaskan, guna mengklarifikasi tudingan dan isu dirinya berpindah partai. Nyatanya sampai saat ini, ia menyebut dirinya adalah kader yang loyal dan terus menjaga nama besar dan kehormatan partai.

a�?Baru saja kita selesai jadi ketua (DPD II Golkar NTB),a�? ujarnya.

Harusnya, itu sudah cukup sebagai bukti dirinya adalah kader partai yang terus berupaya membesarkan nama partainya. Apalagi berbagai prestasi sudah berhasil ia capai selama menahkodai Golkar Kota Mataram.

a�?Pada pemilu kemarin, saya berhasil mendapatkan sembilan kursi legislatif di DPRD Kota, dimana di NTB seperti itu coba?a�? tandasnya.

Ahyar mengatakan, dirinya tidak bermaksud menyombongkan diri. Hanya saja, catatan-catatan positif yang berhasil yang diwujudkan, ditambah predikat PDLT (prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela) juga didapatnya. Harusnya itu, menunjukan bahwa ia kader Golkar yang sangat mementingkan nama besar partai.

a�?Apa saya pernah bikin ribut? Ndak ada kan?a�? cetusnya.

Sampai saat ini ia tetap patuh dan loyal pada partai. Karena itu, harusnya lanjut Ahyar, dirinya diberi kesempatan yang sama. Guna menyampaikan visi dan misinya, sebagai bakal calon Gubernur NTB 2018.

a�?Jadi harusnya peluang ini diberikan kesepatan yang sama,a�? terangnya.

Ia yakin, banyak kader Golkar lain yang mengetahui track record-nya. Serta sangat memahami visi-misinya yang tetap mengusung nama besar partai. Tetapi ia tetap patuh pada keputusan partai, apapun itu.

a�?Saya rasa banyak pengurus Golkar yang tahu bagaimana saya itu seperti apa,a�? tandasnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Institute Agama dan Kebudayaan (INSAN) NTB DR Asrin melihat peta politik jelang Pilkada NTB saat ini sangat merata. Siapapun bakal calon wakil gubernur yang nantinya diambil dari Pulau Sumbawa, tidak berdampak besar mendongkrak tingkat elektabilitas bakal calon gubernur pasangannya.

a�?Karena, di Pulau Sumbawa banyak sekali muncul tokoh-tokoh yang memiliki popularitas dan elektabilitas yang bersaing,a�? kata pria yang lebih senang disapa Bajang Asrin ini.

Banyak tokoh yang menyatakan diri maju dalam Pilkada NTB, mengakibatkan peta suara di Pulau Sumbawa terpecah-pecah. Karena itu, Asrin melihat hal ini justru memberi keuntungan bagi para kandidat calon gubernur yang menggandeng pasangan dari Pulau Lombok.

Namun peta politik ini dinilai masih berubah. Saat ini lembaga survey masih fokus melihat elektabilitas bakal calon gubernur. Belum fokus mensurvey pasangan calon.

a�?Dalam hal ini saya lihat, Ahyar cukup bagus posisinya,a�? imbuhnya.

Ahyar bersaing dengan HM Suhaili FT, DR Zulkieflimansyah dan Ali BD. Di tengah ketatnya persaingan suara berdasarkan hasil survei, pemenang sebenarnya bisa melakukan sejumlah manuver politik. Dengan merangkul ormas baik yang berbasis agama maupun kedaerahan.

a�?Saya mengamati, peluang Ahyar untuk memegang tokoh-tokoh sentral di dalam ormas seperti di NW baik Anjani atau Pancor tetap ada. Mungkin bukan keputusan organisasi, tetapi dalam tanda kutip, ia bisa mengambil beberapa tokoh yang berpihak padanya,a�? urainya.

Begitu juga kedekatan yang berhasil dibangun Ahyar dengan Ormas Nahdlatul Ulama (NU). Jika, pecahan-pecahan dari ormas, baik yang berbasis agama atau kedaerahan, ia melihat pigub 2018, cendrung berpihak pada Ahyar dan pasangannya.

a�?Iya, tentu peluang sangat terbuka lebar bagi Ahyar,a�? tandasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost