Lombok Post
Bima - Dompu

Mantan Kades Tawali Jadi Saksi Kasus Sengketa Tanah

SIDANG : Tergugat H Muhamad Bola masuk ruang sidang didampingi dua buah hatinya, Senin (7 YETY/ RADAR TAMBORA

KOTA BIMA a�� Sidang sengketa tanah menantu vs mertuaA� kembali digelar, Senin (7/8), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Mantan Kepala Desa Tawali Kecamatan Wera Ahmad menjadi saksi dari pihak penggugat.

Pantauan Radar Tambora (Lombok Post Group), sidang dimulai sekitar pukul 12.01 Wita di ruang Kartika Pengadilan Negeri Bima. H Muhamad Bola sebagai tergugat, terlihat masuk ruang sidang didampingi dua buah hatinya. Begitu juga halnya dengan H Arsyad Sulaiman sebagai penggugat.

Sidang dipimpin oleh Ketua PN Bima Sutaji. Seperti biasa, di awal sidang majelis hakim kembali meminta dua belah pihak untuk berdamai. Menyelesaikan permasalahan dengan cara musyawarah. Namun lagi a�� lagi, tidak ditemukan kata damai dan perkara dilanjutkan. Sebelum memberikan keterangan, saksi disumpah.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”579″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Dalam sidang tersebut, mantan Kepala Desa Tawali Ahmad menjelaskan, lahan yang disengketakan adalah tanah pekarangan seluas 32 are. Sebelah barat tanah tersebut berbatasan dengan sawah, sebelah utara dengan tanah negara. Kemudian sebelah timur dengan jalan dan sebelah selatan dengan tanah milik M Saleh.

a�?Tanah itu berada di watasan Desa Tawali dan dikuasai oleh H Arsyad Sulaiman,a�? jelasnya depan majelis hakim.

Diakui Ahmad, di lokasi tersebut terdapat bangunan penggilingan. Hanya saja ia tidak tahu kapan penggilingan itu dibangun.

a�?Berdasarkan cerita H Arsyad, tanah itu diberikan oleh kepala Desa Tawali sebelum saya yakni bapak H Jamaludin. Saya tidak tahu tahun berapa. Saya tahunya ketika H Arsyad mengajukan pengukuran tanah tahun 1998 saat saya jadi kepala desa,a�? bebernya.

Diakui Ahmad, permintaan pengukuran disampaikan secara lisan. Saat itu pengukuran dilakukan oleh kades, sekdes H Anwar H Abdurahman dan Kaur Pemerintahan Bijrin H Arsyad. Saat pengukuran tanah tersebut, menurutnya H Muhamad Bola dan istri juga ada. Mereka tidak ada yang menyampaikan keberatan.

a�?Seingat saya saat pengukuran itu hanya ada bangunan pengilingan padi, tidak ada rumah. Kalau sekarang saya tidak tahu, karena tidak pernah ke sana,a�? ujarnya.

Sepengetahuan saksi, H Muhamad Bola sebagai tergugat selama ini tinggal di sawah. Saksi mengaku tidak tahu dimana tergugat tinggal sekarang.

a�?Tanah sengketa bukan di Dusun Suka Maju, tapi di Desa Tawali. Ada dokumen pendukungnya kok. Memang hingga tahun 2013 di akhir masa jabatan saya, tanah itu belum memiliki SPPT,a�? tegas Ahmad menjawab pertanyaan kuasa hukum tergugat, Yusran.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, sidang tersebut ditunda pekan depan (14/8). Dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak tergugat. Sebelum menutup sidang, pihak tergugat mengajukan beberapa dokumen pendukung.

a�?Sidang ditunda pekan depan. Semua pihak harap hadir tanpa diundang,a�? pungkas Sutaji sembari mengetuk palu menutup sidang. (yet/r4)

 

Berita Lainnya

IKKB Papua Barat Bantu Korban Gempa

Redaksi LombokPost

Etos Kerja Harus Meningkat selama Ramadan

Pemkot Bima Lanjutkan Perbaikan Infrastruktur Sisa Banjir

Redaksi LombokPost

Miliki Sabu, IRT Diringkus

Ops Ketupat Gatarin 2018 Dimulai

Masih Ditemukan Makanan Kedaluwarsa

Penataan Ama Hami Dilanjutkan

Berkas Ketua PDIP Kota Bima Dilimpahkan ke Kejaksaan

Redaksi LombokPost

KPU Kota Bima Mulai Lipat Surat Suara