Lombok Post
Headline Sumbawa

Warga Minta Kades Poto Dipecat

GEREBEK : Hz (dua dari kiri) dan SA (tiga dari kiri) saat diamankan setelah digerebek oleh ZA dari sebuah kamar hotel di seputaran Labuhan Badas RANDY/RADAR SUMBAWA

SUMBAWA– Puluhan warga Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir mendatangi kantor desa setempat Senin pagi (7/8). Mereka menuntut agar Kades Poto Hamzah dipecat dari jabatannya. Tuntutan warga ini merupakan buntut dari digerebeknya Hamzah bersama seorang wanita bersuami di sebuah hotel, pekan lalu.

Menurut informasi yang dikumpulkan Radar Sumbawa (Lombok Post Group) , warga mencoret dinding kantor desa dengan kalimat-kalimat yang tidak simpatik. Mereka juga meminta bupati Sumbawa segera menebitkan surat pemberhentian atas Hamzah. Karena perbuatan Hamzah itu sangat tidak terpuji.

Tidak lama setelah aksi mencoret kantor desa, anggota Polsek Moyo Hilir datang ke lokasi. Polisi kemudian mengajak warga berdialog. Setelah menyampaikan aspirasinya, massa kemudian membubarkan diri dengan tertib.

Kapolsek Moyo Hilir Iptu Hurfan yang dikonfirmasi mengatakan, memang benar ada warga yang datang dan mencorat-coret tembok kantor desa. Namun kantor desa setempat tidak sampai disegel.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”87″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

”Tidak ada penyegelan. Tapi memang ada tulisan-tulisan dan spanduk yang ditempel di kantor desa setempat. Intinya masyarakat meminta agar kades setempat diberhentikan,” ujar Hurfan.

Dia sudah bertemu dengan kelompok massa yang melakukan aksi corat-coret tersebut di aula kantor desa. Pihaknya juga sudah mendengar apa aspirasi kelompok massa tersebut. Massa meminta agar Kades Poto diberhentikan. Karena dirasa sudah tidak layak menjadi pemimpin.

Terkait aspirasi tersebut, menurut Hurfan, Ketua BPD Poto juga sudah langsung membuat surat dan dilayangkan ke Bupati Sumbawa agar segera mencopot kepala desa.

Dalam pertemuan itu, ada juga masyarakat yang bertanya terkait proses hukum atas Hamzah. Massa mempertanyakan kenapa Hamzah tidak ditahan. Hurfan menjelaskan bahwa persoalan yang menjerat Hamzah memiliki ancaman hukuman di bawah lima tahun. Adapun ancaman hukuman maksimalnya hanya sembilan bulan penjara. Jadi sesuai ketentuan yang bersangkutan tidak ditahan. Selain itu, kasus yang menjerat Hamzah ini sifatnya delik aduan. Jika sewaktu-waktu pelapor mencabut laporanya, maka perkara ini dinyatakan selesai.

Sementara itu,Kepala Inspektorat Sumbawa H Hasan Basri mengatakan, pihaknya saat ini mengumpulkan info dan data dari kasus ini. Tim Inspektorat akan segera turun lapangan. Termasuk pengumpulan data dari pihak kepolisian yang tengah menangani kasus ini.

“Biasanya dalam satu kasus kami membutuhkan waktu selama delapan hari dalam menindaklanjutinya,” katanya.

Diakui, setelah semua data rampung termasuk hasil pemeriksaan, pihak Inspektorat akan mengeluarkan rekomendasi yang ditujukan ke bupati Sumbawa. Karena semua keputusan khususnya terait sanksi bila kasusnya terbukti, wewenangnya ada di kepala daerah.

“Nanti Pak Bupati yang akan mengeluarkan keputusan,” katanya. (run/aen/r4)

 

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost