Lombok Post
Feature Headline

Theo Setiadi Suteja, Warga Ampenan yang Membuat Rumah dari Kertas

SIBUK: Tampak pemilik rumah dan Griya Lombok Theo Setiadi Suteja, yang terkenal karena kepeduliaanya pada lingkungan. Terlihat sedang sibuk menata hasil olahan limbah kertas menjadi sebuah pajangan. Hasil olahan limbah kertas bahkan hampir 30 persen limbah kertas itu dijadikan bahan baku rumah asrinya di jalan HM Ruslan (Ex Layur) Nomor 777, Karang Buyuk, Ampenan Selatan, Mataram, kemarin (6/8). IVAN/LOMBOK POST

Dari tangan tekun Theo Setiadi Suteja, mimpi manusia untuk tinggal dan hidup di dalam rumah kertas benar-benar mewujud. Tidak main-main. Theo membangun rumah kertas tiga lantai di Ampenan, Kota Mataram. Dibanding rumah berbahan batu bata dan semen, rumah kertas rupanya biayanya lebih murah lho. Kok bisa?

***

ALUNAN gamelan menyambut tetamu begitu menjejak rumah besar nan asri di Jalan HM Ruslan, Nomo 777, Karang Buyuk, Ampenan Selatan, Mataram itu. Bunyi ritmis gamelan itu berpadu dengan suara ombak yang berdebur-debur.

Rumah itu cuma berjarak 20 meter dari pesisir pantai Ampenan. Namun, tak ada aroma khas angin laut di rumah tersebut.

Memasuki gerbang, pandangan di halaman rumah akan langsung terantuk pada ukiran-ukiran batu alam dan tanaman hijau. Pepohonan-pepohonan hijau tinggi yang rimbun bersisian dengan berugak, pilar-pilar yang berukir indah, gazebo, dan taman terbuka yang dikeliling tembok, macam taman kaputren untuk para putri-putri di istana zaman dahulu.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Di sebelah kiri pintu masuk, terdapat sebuah kolam air mancur. Gemericik airnya benar-benar menenangkan. Menjadikan siapa saja yang menjejakkan kaki di rumah itu, mungkin tak akan mengira sedang berada di sebuah rumah di tengah pemukiman padat penduduk. Orang akan merasa tengah berada di sebuah resort atau cottage indah yang dikeliling hutan asri, dengan embusan angin yang sejuk.

Di depan gerbang rumah, di atas sebuah papan, sang empunya rumah memasang sebuah penanda dari sebuah tulisan. a�?Welcome to The Griya Lombok.a�?

Theo Setiadi Suteja adalah sang empunya rumah indah ini. Griya Lombok, nama yang disematkan di papan bagian depan gerbang, adalah branding dari usaha yang digeluti Theo saat ini. Di rumahnya itulah, Theo mengelola bengkel kreatif, punya galeri sekaligus showroom bagi karya-karya seni buah tangan kreatifnya.

Dan sebagian dari karya-karya itu langsung bisa dinikmati, dirasakan dari dekat oleh siapa saja yang datang bertandang ke sana. Termasuk Lombok Post yang bertandang ke rumah Theo akhir pekan lalu. Di tengah kesibukannya, Theo pun bertutur banyak soal aktivitasnya itu.

Dan inilah yang mencengangkan. Anda mungkin tak akan pernah percaya. Bahwa seluruh karya seni yang ada di rumah itu, bahannya adalah kertas limbah. Iya, kertas! Tuuu kaannn, masih gak percaya. Benar-benar kertas!!!

Ada kursi dan meja tamu, terbuat dari kertas. Ada kursi dan meja taman, terbuat dari kertas. Ada pajangan-pajangan, tempat hiasan lampu, semuanya dari kertas. Kertas apa? Kertas bekas. Antara lain koran bekas, bekas kotak jajan, bekas kotak nasi dan lainnya. Dan limbah-limbah kertas itu dibeli Theo secara kiloan dari para pemulung. Harganya murah meriah.

Untuk dibentuk menjadi kursi, meja, dan perabot lainnya, kertas-kertas bekas itu oleh Theo terlebih dahulu dilebur dengan air hingga menjadi bubur kertas. Bubur kertas itu kemudian dicampur dengan lem. Perbandingannya 1 kg lem dicampur dengan 4 kg bubur kertas. Atau kadang 1 kg lem dicampur 2 kg bubur kertas.

Adonan lem dan bubur kertas itu kemudian dibentuk sendiri oleh Theo dengan tangan. Tanpa cetakan. Sehingga bentuknya pun kadang tidak rata. Semacam adonan pasir campuran semen lembek yang diratakan dengan tangan. Hasilnya tak halus.

Kalau mau jadi meja, maka adonan itu dibentuk seperti meja umumnya. Sesuai ukuran yang diinginkan pula. Mau tinggi atau pendek. Pun begitu kalau hendak dibentuk menjadi kursi. Atau hiasan lampu tidur, atau hiasan lainnya.

Setelah terbentuk, hal itu kemudian dibiarkan kering. a�?Biasanya butuh waktu tiga hari,a�? kata Theo pada Lombok Post. Setelah kering, bahan-bahan itu sudah bisa dipakai. Tak ada yang mengira, campuran kertas dengan lem rupanya menghasilkan bahan sekeras batu. Dibanting pun, kursi-meja, dan perabit-perabit itu tak akan patah.

Oleh Theo, perabot-perabotan yang dibuatnya itu kemudian di beri cat, sehingga benar-benar indah. Dijamin dah, siapa saja yang melihatnya, akan langsung tertarik. Mupeng kata anak muda zaman sekarang.

Mulai 2011

Ide kreatif Theo yang membuat hasil karya seni dari kertas itu dimulai semenjak tahun 2011. Theo meninggalkan pekerjaan mapannya sebagai pemimpin distributor minuman ternama di NTB untuk memulai usahanya. Dan itu semua berangkat dai keprihatinannya akan banyaknya limbah kertas yang terbuang percuma. Padahal, membuang kertas-kertas itu adalah sama saja dengan membuang pepohonan. Sebab, bahan baku kertas adalah kayu yang dilebur menjadi bubur lalu dicetak menjadi kertas.

Dan mungkin tak ada yang percaya, persentuhan Theo dengan bubur-bubur kertas bekas itu bakal seperti sekarang. Dia tidak hanya membuat perabotan dari bubur kertas. Dia bahkan membuat rumah yang temboknya terbuat dari bubur-bubur kertas bekas. a�?40 persen rumah saya ini terbuat dari kertas,a�? katanya.

Rumah besar yang sekaligus sebagai galeri milik Theo dibangun tiga lantai. Dan pondasi rumah, seluruhnya dari bubur kertas dicampur lem. Lantai I yang menapak tanah dinding-dindingnya sebagian masih ada yang terbuat dari adonan limbah kertas bercampur lem. Sebagian masih ada yang dari batu bata. Namun, plesterannya seluruhnya dari limbah kertas.

Sementara di lantai II, seluruh dindingnya terbuat dari kertas. Tapi lantai tetap dari beton. Demikian pula dengan rumah di lantai III. Terbuat dari kertas semua dindingnya. Cuma lantai dari kayu.

Di lantai I, selain galeri, ada kamar tidur, kios kelontong, taman dan ruang terbuka, bengkel kreatif dan sejumlah ruang keluarga. Di lantai II, Theo punya tempat ibadah. Bersisian dengan ruang mirip tempat latihan yoga yang terhubung dengan balkon berhias taman-taman hijau. Ada pula ruang entertaniment keluarga dan dan kamar-kamar.

Sementara di lantai III, adalah tempat untuk bersantai. Punya balkon dengan pemandangan utama menghadap pesisir Pantai Ampenan. Kalau sore, dari sana, kala langit cerah, bisa menikmati sunset jingga yang indah bersisian dengan pemandangan Gunung Agung di Pulau Bali yang berwarna kebiruan.

Kata Theo, untuk dinding rumah yang terbuat sepenuhnya dari campuran bubur kertas dengan lem, ketebalannya sama dengan membangun tembok dari batu bata. Sementara untuk dinding tembok batu bata yang diplester dengan bubur kertas yang sama, ketebalannya bisa mencapai 2 centimeter. Nah yang ketebalan dua centimeter ini kering dua hingga tiga hari.

a�?Sama saja, seperti ketika kita membuat plesteran rumah. Yang membedakan hanya bahanya saja. Saya menggunakan perbandingan satu banding dua, satu kilogram lem, dan dua kilogram limbah kertas,a�? katanya.

Tapi kalau tembok dengan ketebalan 10 cm, kata Theo, memakan waktu satu minggu keringnya. Tak cuma tembok. Kusen dan daun pintu pun terbuat dari adonan bubur kertas dan campuran lem.

Theo pun menuturkan kala dia membuat daun pintu utama rumahnya. Butuh 20 kilogram bubur kertas dan 10 kilogram lem. Limbah korannya dia beli dengan harga Rp 2500 per kilogram di pemulung, sedangkan untuk lem seharga Rp 12 ribu per kilogram. Total, untuk membuat daun pintu utama setidaknya menghabiskan biaya tak kurang dari Rp 200 ribu. Jauh lebih murah ketimbang orang membuat pintu dari bahan kayu yang harganya di atas Rp 1.000.000. Dan setelah kering, daun pintu itu memang benar-benar membatu. Keras tiada tanding.

Untuk membuktikannya, Lombok Post mengetok daun pintu itu. Keras. Memang, ketika diketuk, masih berbunyi, layaknya kertas keras yang telah beruba menjadi batu. Hampir tak ada yang percaya, bahwa daun pintu itu terbuat dari bahan baku kertas koran-koran bekas.

Masuk lebih dalam, berada di rumah Theo bikin kerasan. Apalagi rumah milik Theo bersih bukan main. Berada di dalam rumah pun terasa adem.

Dan ini yang istimewa. Theo menjamin, selain lebih murah, membangun rumah berbahan bubur kertas juga bikin biaya pemeliharaan lebih irit. Sebab kata dia, dinding adonan kertas dan lem itu tidak mudah terbakar. Dinding pun tidak disukai jamur. Tidak rusak dan tidak mudah pecah atau retak.

Tak percaya, Lombok Post membuktikannya. Sejumlah perabotan yang terbuat dari bubur kertas coba dibakar. Dan bear, tahan api. Coba dibanting sekeras-kerasnya, bentuknya tetap utuh. Dan di galeri milik Theo, ada ribuan pernak-pernak yang dipamerkan di sana.

Theo juga membangun kamar mandi dengan bahan seluruhnya dari kertas. Dan terbukti, tak ada jamur sedikitpun di sana. Dinding-dinding pun tak lapuk terkena air. Benar-benar keren.

Oh ya. Salah satu yang menyedot perhatian kalau ke rumah Theo adalah tiang-tiang pilar yang disebut Theo sebagai tiang bumi. Tiang itu diukir indah dengan tinggi tiga meter. Dan saat ini kata Theo tiang bumi itu banyak dipesan hotel-hotel berbintang sebagai hiasan. a�?Jadi tak perlu lagi menebang pohon untuk hiasan,a�? kata pria kelahiran 1963 ini. Tiang ini dibuat dengan campuran 50 kilogram limbah kertas koran dengan beberapa kilogram lem.

Untuk hasil-hasil karyanya itu, Theo membuatnya dibantu oleh istrinya, anak dan menantunya. Kadang dibantu pula oleh para tetangga.

Hingga kini, tantangan baginya hanya dua. Pertama terik matahari. Sebab, pengeringan karya seni Theo tidak menggunakan oven, jadi murni dijemur secara alami. Kedua, ada beberapa orang yang tidak percaya pada benda-benda hasil limbah kertas ini akan sangat sulit untuk rusak.

Kini, dengan ribuan sampel barang-barang dari limbah kertas yang ada di rumahnya, Theo masih punya obsesi menjadikan rumahnya sebagai salah satu museum pertama di NTB bahkan di Indonesia yag memiliki Museum of Paper Art, dengan memanfaatkan limbah kertas.

a�?Niat saya itu membuat Museum of Paper Art di rumah ini. Selain itu, saya juga ingin mencoba membantu warga-warga yang ingin mempunyai rumah, bisa menggunakan salah satu bahan rongsokan, yakni limbah kertas untuk menjadi pondasi rumah,a�? katanya.

Apa yang dilakukan Theo sungguh adalah aksi nyata. Theo bahkan yakin, impian orang-orang tidak mampu memiliki rumah-rumah layak huni, bisa diwujudkan hanya dengan memanfaatkan limbah kertas. Dan dia jamin, biayanya jauh lebih murah dibanding membangun rumah berdinding batu bata, dicampur semen. (NATHEA CITRA SURI, Mataram/r8)

Berita Lainnya

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost