Headline Metropolis

Patgulipat Izin Gudang Semen

Gudang semen Holcim ditolak warga di Tembelok, Kelurahan Mandalika. Selain karena alasan lingkungan, gudang itu juga disebut warga tak memenuhi semua perizinan. Ada apa?

A�****

PULUHAN warga sejak Kamis (17/8) hingga Minggu (20/8) kemarin, memblokir akses jalan masuk di salah satu gang Lingkungan Tembelok, Kelurahan Mandalika, Sandubaya, Kota Mataram. Mereka bersikeras menolak pembangunan gudang semen Holcim milik PT Tetra Mitra Abdi.

Warga menuding perusahaan itu tidak memiliki perizinan yang kuat. Bahkan syarat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) juga dinilai jauh dari harapan.

a�?Saya termasuk yang menolak,a�? kata salah seorang warga, Wajdi kepada Lombok Post.

Pria bertubuh kekar ini terlihat kesal. Ia menceritakan, gudang semen itu dipaksa dibangun di tengah-tengah permukiman warga. Akibat pembangunan gudang tersebut, rumahnya yang berada persis di timur gudang, disebutnya sampai retak-retak akibat getaran dari kendaraan pengangkut semen. a�?Itu baru sekali trontonnya masuk, bagaimana kalau berkali-kali,a�? sesal Wajdi.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Ia lalu menceritakan betapa janggalnya proses dari perizinan gudang semen itu. Awalnya, lahan di mana gudang itu berdiri dikuasai pemilik Bali Motor, yakni Nengah Sujane. Lalu oleh Nengah Sujane, lahan seluas 6.949 meter persegi itu dijual pada Melany.a�?Ini dibuat sebagai gudang bahan bangunan,a�? tuturnya.

Oleh Melany, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) lahan itu diurus pada BPM2T (Sekarang DPMPTSP) A�dengan nomor IMB yakni, 0068/BPM2T/IMB/SBY/II/2015. Diterbitkan pada tanggal 4 Februari 2015.

Tetapi keberadaan gudang ini jadi persoalan setelah berpindah tangan. Belakangan gudang ini akhirnya diakuisisi oleh PT Tetra Mitra Abadi. Dengan IMB yang sama, pada tanggal 1 Juli 2015, izin gangguan (HO) perusahaan dengan nomor 045.2/0467/HO/BPMP2T/VII/ 2015 terbit. Dengan A�peruntukan gudang sebagai perdagangan bahan konstruksi. a�?Sepertinya mereka hanya meneruskan IMB yang lama untuk dapat HO, tetapi untuk peruntukan yang beda,a�? kata Musleh, warga lainnya.

Warga baru tahu, ketika akhirnya tempat yang semulanya biasa digunakan untuk penyimpanan material berupa besi dan baja, berubah menjadi tempat penyimpanan semen. Kontan saja, hal itu membuat warga sekitar resah. Apalagi debu dari semen berterbangan hingga dikwatirkan dapat mengganggu kesehatan warga sekitar. a�?Ternyata mereka bawa semen, debunya sampai ke mana-mana,a�? sesalnya.

Sejumlah warga langsung menyuarakan penolakan. Dengan alasan tidak mau kesehatan mereka terdampak oleh debu-debu semen. Lalu rumah-rumah warga, khususnya di RT 4, 5, dan 6 yang persis berada di sekitar gudang, terancam ambruk oleh getaran mesin tronton yang masuk membawa semen ke dalam gudang. a�?Setelah penolakan itu, ada upaya mediasi yang coba dilakukan,a�? imbuhnya.

Ada lima orang yang mengatasnamakan warga. Mereka antara lain dua orang mantan kepala lingkungan Tembelok H Sulhan Ali dan Muhammad Maimun, Ketua RT 4 Abd. Gafur, M Abrorul K. dan H Ataillah. Tapi, menariknya dari lima nama ini, tidak ada nama Kepala Lingkungan Tembelok Ahmad Junaidi. a�?Mereka lalu membuat kesepakatan yang berani mengatasnamakan warga, dengan menyetujui itu,a�? sesalnya.

Pada saat pengumpulan tanda tangan persetujuan warga untuk perusahaan itu, juga ada yang janggal. Rupanya form tempat warga membubuhkan tanda tangan, tidak dilengkapi dengan kop surat. Hal itulah yang membuat beberapa warga lain, akhirnya ragu menanda tangani surat itu. a�?Seperti Ketua RT 1 misalnya, merasa kesal karena tanda tangannya, dimanfaatkan sebagai lampiran persetujuan warga. Padahal ia mengaku, tanda tangannya bukan untuk itu,a�? tuturnya.

Buah dari tanda tangan itu, warga mendapat a�?tali asiha�� sebesar Rp 500 ribu a�� Rp 1 juta. Setelah dihitung, total warga yang membubuhkan tanda tangan tercatat sebanyak 40 orang. a�?Ini kan aneh, jumlah warga di sini, sebanyak 1.800 orang lebih, tetapi yang setuju ada 40 orang, lalu mau dikemanakan yang lain,a�? cecarnya.

Dari salinan Kesepakatan Oprasional Gudang Semen Holcim antara PT. Tetra Mitra Abadi dengan warga Tembelok yang diterima Lombok Post, A�di pasal 1 diketahui pihak kedua antara lain Kepala Lingkungan Ahmad Junaidi, Ketua RT 4 Abdul Gafur, dan Sulhan Hadi mendapat kontribusi bersama, yaitu rehab Masjid Tembelok dengan total Rp 170 juta.

a�?Nama saya dicatut, padahal saya tidak terima apa-apa, buktinya saya tidak pernah tanda tangan dalam kesepakatan itu,a�? timpal Kepala Lingkungan Tembelok Ahmad Junaidi.

Dari pasal 2 perjanjian, diketahui Rp 170 juta, sebesar 50 persen atau setara Rp 85 juta akan diterima pihak pertama. Sedangkan Rp 85 juta sisanya untuk pembangunan masjid.A� Di draft tu, terlihat ada beberapa nama yang tidak menandatangani kesepakatan. Termasuk Kepala Lingkungan Tembelok Ahmad Junaidi.

a�?Untuk apa saya dapat uang Rp 5o juta, kalau nama baik saya rusak? Saya lihat lebih banyak warga yang menolak, jadi saya putuskan juga ikut menolak,a�? tegas Junaidi.

Tetapi keanehan kembali terlihat. Tanpa ada tanda tangan dari kepala lingkungan, rupanya pengurusan izin dari gudang Semen Holcim ini, terus berlanjut. Buktinya, pada tanggal 1o Agustus 2017 izin HO perusahaan terbit dengan nomor 530.08/0278.P/DPMPTSP/VIII/2017. a�?Tidak ada tanda tangan saya, tetapi lurah dan camat dan beberapa orang yang menyebut dirinya sebagai tokoh, tanda tangan di situ,a�? terangnya.

Secara terang-terangan, Junaidi mengaku dia beberapa kali digoda A�agar menandatangani surat itu. Hanya saja, dirinya kukuh menolak. A�a�?Saya disuruh tanda tangan, kalau mau akan dapat bingkisan, tapi saya tolak,a�? terangnya. A�a�?Saya hanya ingat, keputusan itu harus didasari dari, oleh, dan untuk rakyat,a�? jelasnya.

Karena itulah, ia mengaku bisa tenang ikut menyuarakan ketidaksetujuannya bersama warga. Termasuk pada aksi yang berlangsung Kamis (17/8) lalu. Saat itu, aparat kelurahan dan kecamatan turun dan menjelaskan pada warga rencana perbaikan jalan di sebelah utara gudang. a�?Tetapi kami tolak, karena kami khawatir, jalan itu nanti digunakan sepenuhnya oleh pemilik pabrik,a�? terangnya.

Kehawatiran Junaidi dan warga beralasan. Karena dalam pasal 4 dari perjanjian disebutkan, jalan masuk di sebelah utara akan ditingkatkan kelas dan kualitasnya, untuk dapat digunakan perusahaan. a�?Di sini jelas manfaatnya untuk perusahaan, tidak ada untuk warga,a�? tandasnya.

Menanggapi aksi penolakan warga, Lurah Mandalika Nasrudin mengatakan saat ini dalam proses mediasi. Disebutkan, sebenarnya semua sudah berjalan baik. Perwakilan warga menjamin tidak ada yang perlu dirisaukan lagi. a�?Saat itu proses mediasi berjalan lancar, tidak ada omongan yang menjurus ke arah yang tidak enak, pokoknya aman,a�? kata Lurah Mandalika Nasrudin pada Lombok Post.

Tetapi sehari pasca mediasi, ia mendapat informasi dari warga, lebih dari 50 orang berkumpul di depan bangunan pabrik Holcim. Mereka bahkan kembali memblokir jalan masuk menuju pabrik tersebut.

a�?Awalnya saya kaget, sebelumnya, adem-adem saja. Karena mediasi dari kami tidak membuahkan hasil, Insya Allah, hari Senin (hari ini), pemkot akan turun langsung melakukan mediasi pada beberapa orang yang melakukan aksi penolakan itu,a�? jelasnya.

Sampai saat ini, belum ada pihak Holcim yang bisa dikonfirmasi. Sejumlah pegawai memilih tidak memberi tanggapan karena kawatir menyampaikan informasi yang keliru. a�?Tidak bisa beri keterangan, besok saja (kalau sudah ada pimpinan atau manajemen),a�? jawab salah serang karyawan yang enggan disebutkan namanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas DPMPTSP Kota Mataram Cokorda Sudira Muliarsa hanya menjawab pendek. Ia hanya menyebut, pembangunan Pabrik Holcim sudah dilengkapi dengan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

a�?IMB-nya sudah keluar dan tidak ada masalah. Sebelumnya, bangunan itu dimiliki oleh perusahaan A, namun kemudian di jual ke perusahaan B (Holcim),a�? kata Cok. (zad/cr-tea/r3)

Related posts

Paket Wisata Lombok Laris Manis di SilkAir Roadshow 2017 Singapura

Redaksi Lombok Post

Pasar Baru Masbagik Mangkrak

Redaksi Lombok Post

Revisi Perda RTRW Lelet, Ground Breaking Hotel Batal

Redaksi Lombok Post