Metropolis

Bersihkan NTB dari Pendakwah Radikal

MATARAM-Sebagai provinsi dengan penduduk mayoritas Islam, NTB menjadi magnet para pendakwah. Namun, NTB harus waspada. Harus dipastikan, bahwa Bumi Gora tidak menjadi tempat bagi para pendakwah yang berniat memecah belah kedamaian. Berdakwah di NTB, tak boleh memisahkan Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Basyariah dan Ukhuwah Wathaniah.

a�?Kita tidak punya tempat bagi para pendakwah yang membranding dirinya pendakwah tapi datang memecah belah. Datang merusak kedamaian,a�? tandas Anggota Dewan Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi NTB TGH Najamudin kepada Lombok Post, kemarin (21/8).

Dia mengatakan, gelagat seperti itu sudah mulai muncul di NTB saat ini. Karena itu, apa yang disampaikannya menjadi semcam sistem peringatan dini, untuk memastikan NTB tidak menjadi tempat bagi suburnya dakwah-dakwah yang justru memupuk radikalisme.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Najamudin mengatakan, NTB memang perlu dakwah. Namun, sama sekali daerah ini tidak memerlukan dakwah yang mencabik-cabik toleransi umat yang sudah sangat baik. Yang dibutuhkan NTB adalah pendakwah yang Ukhuwah Islamiyahnya seiring sejalan dengan ukhuwah basyaraiah dan ukhuwah wathaniyah.

Ukhuwah Islamiyah adalah konsep seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena sama-sama memeluk agama Islam. Umat Islam yang dimaksudkan bisa berada di belahan dunia mana pun. Sementara Ukhuwah Basyariyah adalah konsep seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari umat manusia yang satu yang menyebar di berbagai penjuru dunia. Dalam konteks ini, semua umat manusia sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan.

Sementara Ukhuwah Wathaniyah adalah konsep seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari bangsa yang satu. Yakni bangsa Indonesia. Konsep ini mengedepankan pentingnya cinta tanah air.

a�?Jadi ketika ada pendakwah yang datang ke NTB untuk menyerukan umat melepas tiga ukhuwah itu, maka sepatutnya kita semua tidak setuju,a�? tandas Najamudin.

Ditegaskan, Lombok dan Sumbawa, sudah terbukti mampu menjalankan syariat agama dengan sangat bagus. Karena itu, NTB sama sekali tidak butuh para pendakwah yang justru datang untuk membuat NTB terkotak-kotak.

Apalagi kalau seruan-seruan dakwah yang memecah belah tersebut memanfaatkan simbol-simbol Islam di NTB semisal Masjid Islamic Center. Najamudin mengingatkan, sama sekali tak ada ruang bagi dakwah yang mengenyampingkan cinta tanah air di masjid kebanggaan masyarakat NTB ini.

a�?Ingat, Masjid Islamic Center ini namanya Hubbul Wathan. Ini adalah perwujudan kecintaan umat Islam NTB bagi bangsa dan negaranya,a�? tandas dia.

Najamuddin yakin, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi yang juga ulama, tidak akan membiarkan kedamaian di NTB terusik oleh aktivitas dakwah yang memecah belah tersebut. Dan karena itu, Najamudin mengingatkan pengelola Islamic Center agar benar-benar tidak memberi ruang, bahkan wajib memfilter Islamic Center dari aktivitas dakwah yang demikian.

a�?Sekali lagi. Kita tidak sudi, ada aktivitas berkedok dakwah, tapi isinya justru menyerukan disharmonisasi di NTB,a�? tandasnya.

Bagaimana pun kata Najamudin, cinta tanah air menjadi sendi utama, sehingga umat Islam di negara ini bisa beribadah dengan begitu baik. Dia memberi contoh, bagaimana sejumlah negeri di Timur Tengah yang tercabik-cabik karena sedari awal gagal memupuk gerakan cinta kepada tanah air. Akibatnya, nikmat menjalankan ibadah seperti yang dinikmati umat Islam di Indonesia saat ini, di sejumlah negara Timur Tengah, justru adalah kemewahan luar biasa.

Karena itu kata Najamudin, NU, sebagaimana Nahdlatul Wathan dan Muhammadiyah sangat setuju dengan langkah pemerintah untuk menertibkan negara ini dari suburnya paham-paham yang hendak memecah belah tersebut. Dan menurut Najamudin, para ulama di NTB dipastikan akan bahu membahu bersama umat menjadi garda depan, untuk mengawal hal tersebut.

a�?Kenapa kita bangun infrastruktur. Mengapa kita berkhidmat untuk daerah, itu semata dilandasi bahwa kita benar-benar mencintai Indonesia. Kita mencintai negeri Pancasila. Kita mencintai NKRI,a�? tandas Najamudin. (kus/r8)

 

Related posts

Jelang Lebaran, Ini Titik-titik Kemacetan di Mataram

Redaksi Lombok Post

Insenerator atau Tungku Sampah, Pilih Mana?

Redaksi Lombok Post

Pajak Parkir Capai Target, Biasa Aja

Redaksi Lombok post