Lombok Post
Headline Metropolis

Kekeringan Mulai Menyiksa, Warga Menikah pun a�?Dilaranga�?

KEKERINGAN TAHUNAN: Jasir, salah seorang warga Dusun Orong Gedang, Desa Mangkung, Lombok Tengah, berjalan diantara tanah yang kering sambil membawa ember untuk mengambil air. Warga harus berjalan hampir dua kilometer ke desa sebelah untuk mendapatkan air bersih dari sebuah sumur. IVAN/ LOMBOK POST

PRAYA-Kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Pulau Lombok benar-benar menyiksa. Di pesisir selatan Pulau Lombok, air telah menjelma menjadi barang yang sangat berharga. Mandi sekali sehari pun menjadi hal yang sudah sangat mewah.

Saking sulitnya air, warga yang hendak menikah pun kini sulit mendapat restu. Baik restu orang tua maupun restu tetua kampung. Urusan junub soalnya bisa bikin repot. Anehnya, kondisi ini terjadi saban tahun. Terus berulang. Sehingga warga kian yakin, bahwa selama ini pemerintah memang hanya menonton penderitaan mereka.

Potret kekeringan terparah di Lombok Tengah misalnya ada di Dusun Orong Gedang, Desa Mangkung, Praya Barat. Kemarin (23/8) Lombok Post ke sana. Di tempat ini, sumur sudah tak lagi bisa diandalkan. Embung apalagi. Semuanya kering kerontang. Saking keringnya, permukaan tanah embung retak. Seretak-retaknya.

Embung Mangkung ini sebetulnya luas. Genangannya bisa mencapai 4,5 hektare. Kapasitasnya 157 ribu meter kubik. Kalau sedang ada airnya, mampu mengairi lahan pertanian seluas 132 hektare. Sisanya, digunakan untuk kebutuhan sehari-hari 15 kepala keluarga (KK) yang bermukim di lingkar embung. Seperti untuk mandi dan mencuci.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Sedangkan, untuk kebutuhan air minum, warga yang bermukim di sekitar embung membangun sumur. Hanya saja, jika embung itu kering, maka sumur di lingkar embung pun ikut kering. Begitu pula sebaliknya. Dan ini bukan hanya terjadi tahun ini. Sudah berbilang tahun.

Biasanya embung baru bisa berisi air pada November-Juni. Selanjutnya, Juli-Oktober mulai mengering. Begitu berulang.

Semenjak Juli, warga pun mengurnagi jatah mandinya. Mereka harus hemat air. a�?Kalau sebelumnya, kami mandi dua atau tiga kali sehari, sekarang hanya sekali saja. Itu pun, kalau ada air,a�? kata Junaidi, salah satu warga Dusun Orong Gedang Junaidi pada Lombok Post, kemarin (23/8).

Saat ini, untuk kebutuhan minum, air diambil di dusun tetangga, tepatnya di Dusun Tojang. Jaraknya sekitar 2 kilometer. Di tempat itu, terdapat sumur bor yang airnya melimpah. Sebagian besar warga pun menggunakan motor dan mobil untuk mengangkut air ke sana. Hanya saja, dibatasi. Karena, harus berbagi dengan dusun lain.

Kondisi seperti itu pun diakui Junaidi membuat 15 KK di lingkar embung terpaksa membeli air bersih. Sudah ada yang berjualan keliling. Untuk 20 liternya ditebus Rp 10 ribu. a�?Bagi kami itu mahal. Tapi, dari pada kami tidak minum atau mandi, ya terpaksa,a�? kata Junaidi didampingi tetangga rumahnya Jasir.

Yang paling ditakutkan, kata Junaidi jika salah satu warga, mendadak meninggal dunia. Itu artinya, warga harus cepat-cepat mencari air untuk memandikan jenazah. Pengalaman seperti itu pun sudah beberapa kali dirasakan warga.

Dan paling parah, jika menyangkut urusan hubungan suami dan istri.

Jika ingin berhubungan, maka air untuk mandi besar (junub) pun harus disiapkan terlebih dahulu. Termasuk, warga yang ingin menikah. a�?Seperti itu, kondisi kami di sini (Dusun Orong Gedang),a�? ujarnya sembari tersenyum.

Para tokoh agama, bebernya seringkali mengimbau para muda mudi, agar menunda pernikahan. Jika dipaksakan, kata Junaidi maka tidak terhitung berapa banyak air yang dibutuhkan. Kecuali, menunggu embung saja. Ia merasa, dari zaman penjajahan, hingga kemerdekaan, pemerintah tidak pernah memikirkan bagaimana memutuskan mata rantai kekeringan ini.

a�?Intinya, kami sangat bergantung dengan embung ini. Tolong pemerintah turung dong, jangan duduk di belakang meja saja,a�? sambung Jasir.

Saat-saat sekarang ini, kekeringan telah menyerang sembilan kecamatan di Lombok Tengah. Lebih dari 282 ribu jiwa terkena dampak kekeringan di sana.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng H Muhamad pun mengakui hal tersebut. a�?Total kekeringan sudah melanda 82 desa. Dirasakan 13.278 kepala keluarga dengan 282.793 jiwa,a�? kata dia.

Paling parah, kata Muhamad terjadi di wilayah selatan Lombok Tengah. Meliputi Praya Barat, Praya Barat Daya, Praya Timur dan Pujut. Sebagian lagi di kecamatan di wilayah tengah.

Muhammad mengakui, permintaan bantuan air bersih sudah banyak yang masuk pada dirinya. Tapi, pihaknya angkat tangan. Alat angkut di pihaknya terbatas. Ia pun berharap, provinsi segera membantu. Termasuk, Dinas Sosial dan PDAM Loteng. a�?Mudah-mudahan, beberapa hari ke depan kita bisa bergerak,a�? katanya.

Kekeringan di Lotim

Di Jerowaru, Lombok Timur, kekeringan parah juga tak kalah menyiksa. Lombok Post kemarin mendatangi Dusun Saung, Desa Wakan, salah satu tempat dengan kekeringan parah di Jerowaru. Di dusun ini, kekeringan nyaris berlangsung sepanjang masa.

Dusun ini jauh dari pasar atau puskesmas. Untuk menuju lokasi ini pun tidak mudah. Jalan yang dilalui berliku dan rusak parah. Konturnya menanjak dengan batu dan kerikil yang bisa menyebabkan tergelincir. Dari Selong butuh waktu 1,5 hingga dua jam lebih untuk menjejak dusun ini.

Lokasinya di pinggir pantai wilayah selatan. Di sana tinggal sedikitnya 100 KK. Sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Kalau tidak, memilih menjadi TKI. Ke Malaysia paling banyak.

Nurhayati, salah seorang warga mengatakan, saat musim kering mencapai puncak seperti saat ini, tak ada air sumur yang bisa digayung. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas dan rasanya payau tak bisa diminum. Akibatnya, mau tak mau warga pun terpaksa membeli air untuk menghilangkan rasa dahaga.

a�?Kami beli dari mata air Lingkoq Tutuq. Bagi yang punya tempat penampungan air dan uang langsung beli satu tangki dengan harga Rp 200 ribu. Sedangkan kami beli per ember itu Rp 15 ribu,a�? tuturnya.

Meski ekonomi warga lemah, tak ada pilihan lain selain membeli air. Tak ada mata air atau sumber air dari sumur yang bisa diminum. Sehingga, dengan keadaan sangat terpaksa mereka pun harus merogoh kocek untuk membeli air minum dan kebutuhan memasak. Ironisnya, kondisi ini hampir terjadi sepanjang tahun. Ketika musim hujan turun, air sumur memang ada. Namun, tetap tak bisa diminum karena rasanya yang payau.

a�?Air hujan itu yang kita tampung untuk diminum,a�? tutur beberapa warga kompak. a�?Makanya jangan heran ada ember berjejer di bawah atap rumah. Itu sengaja kami taruh untuk menampung air hujan yang mungkin tiba-tiba turun,a�? aku mereka.

Bagi warga di dusun ini, air sangat berharga. Inak Koden misalnya, perempuan 70 tahun ini mengaku hanya punya seember air di rumahnya. Ini ia gunakan tidak sendirian. Melainkan bersama enam anggota keluarga lainnya. a�?Ada suami, anak saya dan suaminya,A� dan tiga cucu,a�? akunya saat dihampiri Lombok Post di pelataran rumahnya.

Tinggal di rumah kecil dengan dinding bambu ukuran 5×4 meter Inak Koden mengaku di rumah tersebut tinggal enam orang. Di dalamnya dibuat menjadi dua ruangan dengan lantai tanah dan satu ruang tamu yang sekaligus menjadi dapur. a�?Tinggal ini saja air bersih yang kami miliki,a�? ungkapnya menunjukkan ke arah ember yang berukuran cukup besar.

Air di dalam ember inilah yang dibeli dengan harga Rp 15 ribu. Ia gunakan untuk kebutuhan minum dan memasak. Sedikit juga untuk kebutuhan membilas diri. Untuk mandi, warga kadang mennggunakan air sumur yang masih tersisa. Namun jika sudah kering, terpaksa harus menggunakan air yang dibeli. Meskipun hanya sedikit. Itu sebabnya, dalam sehari warga di dusun ini lebih memilih mandi hanya sekali saja.

Meski sempat malu-malu, Ati, warga lain yang terlihat masih muda dengan dua anak akhirnya mau mengaku. Ketika ditanya Lombok Post bagaimana untuk urusan mandi junub. Sambil tertawa malu, ia mengaku untuk urusan ini ia hanya menggunakan sebotol air. a�?Sebenarnya kalau untuk mandi junub kita nyebur ke laut. Cuma satu botol untuk membilas diri dari sisa air laut,a�? bebernya tertawa.

Kondisi yang sama juga dilakukan untuk kebutuhan MCK. Karena kebanyakan warga tidak memiliki fasilitas sanitasi seperti toilet. Sehingga pantai menjadi satu-satunya alternatif. a�?Jadi kita mandi junub di laut, BAB di pantai,a�? akunya tertawa bersama warga lainnya.

Sehingga, dengan kondisi ini warga berharap pemerintah daerah, bupati maupun gubernur terketuk hatinya. Agar merespon kondisi mereka yang sudah puluhan tahun mengalami krisis air bersih ini.

a�?Dulu saat saya masih kecil usia SD dijanjikan akan ada pipa PDAM masuk sini. Tapi sampai saya punya tiga anak, nggak masuk-masuk pipa dan airnya,a�? keluh Inaq Fitri, warga lainnya.

Sehingga, warga kini sudah pasrah dengan kondisi ini. Meski bersifat sementara, mereka pun hanya bisa berharap ada bantuan air besih dari pemerintah daerah menggunakan mobil tangki air. Bantuan air seperti ini terakhir datang dua pekan lalu.

a�?Kalau tidak bisa setiap hari, minimal seminggu tiga kali.A� Karena kami tak punya banyak uang untuk membeli air terus menerus,a�? ungkap warga serentak. (dss/ton/r8)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post