Lombok Post
Metropolis

Kisah Mahsan, Mantan Anak Jalanan yang Jadi Sarjana

SARJANA: Mahsan (tengah) foto bersama dengan ibu kandungnya (kiri) dan Nyayu Ernawati (kanan), saat diwisuda sebagai Sarjana Hukum beberapa waktu lalu. Mahsan untuk Lombok Post

Bertahun-tahun sebagai anak jalanan tidak membuat Mahsan putus asa. Dia bertekad mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Hasilnya luar biasa. Dia berhasil meraih titel sarjana.

***

Setelah berusaha keras menamatkan sekolah menengah tingkat pertama, Mahsan terpaksa harus putus sekolah karena tak mempunyai biaya masuk SMA. Ayahnya yang hanya seorang kusir cidomo telah meninggal dunia. Jangankan biaya sekolah, untuk makan sehari-hari saja sangat sulit baginya.

Selain itu, ia juga harus berperan sebagai tulang punggung keluarga, menggantikan posisi ayahnya. Karena Ibunya sudah tidak bisa bekerja. Tanggungjawab itu harus ditanggung oleh Mahsan, yang saat itu baru berusia 16 tahun.

Mahsan pun menjadi seorang kusir cidomo melanjutkan pekerjaan mendiang ayahnya. Siang jadi kusir cidomo, malam membersihkan pasar. Hampir setahun lebih pekerjaan itu ia lakukan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Namun badai belum berlalu bagi Mahsan. Cidomo peninggalan ayahnya hancur lebur ditabrak mobil. Beruntung waktu itu Mahsan selamat. a�?Tinggal sedikit saya jatuh ke sungai,a�? kenang Mahsan.

Tak ada cidomo, Mahsan tak berhenti berusaha. Dapur ibunya harus tetap mengepul. Kedua adiknya harus tetap makan. Mahsan pun jadi tukang parkir. Saat menjadi juru parkir di Cakranegara, untuk pertama kalinya ia merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi korban kekerasan anak.

Seseorang yang merasa motornya diparkir dengan tidak baik, tiba-tiba menghantam kepala Mahsan dari belakang. Tidak puas dengan pukulan, orang itu mencaci maki Mahsan habis-habisan. Mahsan kecil, hanya bisa terdiam, tidak berani melawan.

a�?Banyak lagi tindak kekerasan yang saya alami,a�? ujar Mahsan sambil tersenyum lirih, mengenang nasib pahitnya.

Selama dua tahun di jalanan, Mahsan tidak pernah berhenti bermimpi. Dia tetap berharap dapat bersekolah. Ia sadar, bahwa dia mempunyai kecerdasan sebagaimana yang dimiliki oleh anak-anak lain. Dia hanya kurang beruntung, karena tidak punya biaya. Mimpi inilah yang membuat tekadnya untuk bersekolah tetap membara.

Saat SMP, Mahsan mengaku seperti kebanyakan siswa lainnya. Namun rasa ingin tahunya sangat tinggi, sehingga ia selalu belajar. Tak heran dia selalu mendapat rangking juara di kelasnya.

Karena itulah, Mahsan sangat ingin bersekolah, meski saat itu dia harus bekerja menghidupi ibu dan adik-adiknya. Semangat dan mimpi untuk tetap melanjutkan sekolah bagi Mahsan adalah energiA� sekaligus doa yang belakangan membuat banyak perubahan dalam hidupnya.

Semangat itu juga yang membuat ia berhasil menghindar dari godaan-godaan berbuat kriminal saat menjadi anak jalanan. a�?Banyak anak jalanan yang mencuri atau minum-minum karena sudah tidak ada lagi semangat untuk sekolah atau mendapatkan kehidupan yang lebih baik,a�? jelasnya.

Dulu, mendiang ayahnya bersikukuh, Mahsan harus sekolah. Sehingga nasibnya bisa lebih baik ketimbang ayahnya. a�?Saya sangat dekat dengan almarhum ayah saya,A� itulah sebabnya saya terus berusaha agar bisa sekolah, karena itu pesan ayah sebelum meninggal dunia,a�? ujar Mahsan.

Nasib Mahsan akhirnya terangkat. Dalam sebuah kesempatan dia bertemu dengan Nyayu Ernawati yang pada saat itu menjabat sebagai anggota DPRD Kota Mataram. Nyanyu lantas mengupayakan agar Mahsan kembali bisa kembali masuk sekolah. Jalan awal Mahsan mendapatkan masa depannya kembali terbuka.

Dapat sekolah gratis bukan berarti perjuangan Mahsan berhenti sampai di sana. Banyak keterbatasan yang harus dihadapinya. Selain tak memiliki seragam, dia juga harus berjalan kaki dari Selagalas ke SMA 6 Mataram. Selain itu, jika bersekolah, maka ia tak bisa lagi bekerja. a�?Jika tak bekerja, uang untuk menghidupi ibu dan kedua adik tidak ada,a�? sambungnya.

Mahsan mengaku sempat tergoda untuk berhenti sekolah. Namun dia berupaya tetap sabar dan menjalani kehidupannya. Dia yakin suatu saat nasibnya akan terangkat.

Benar saja belakangan ada donatur yang membelikannya seragam dan uang belanja Rp 300 ribu setiap bulan. a�?Itu cukup membantu,a�? ujar Mahsan.

Mahsan pun membuktikan bahwa dia cukup layak dibantu. Dia membuktikan semua itu dengan menjadi lulusan dengan nilai terbaik di SMAN 6 Mataram. Hingga mendapat beasiswa Supersemar dan meraih gelar sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Mataram.

a�?Saya bercerita dengan niatan agar anak-anak di jalanan jangan pernah putus asa,a�? ungkap Mahsan.

Mahsan sendiri mengaku beberapa kali berupaya menemui teman-temannya di jalan dengan niat memotifasi mereka untuk kembali bersekolah. Namun banyak yang ia tak tahu rimbanya. Ada yang kabarnya bekerja di Malaysia, bahkan ada yang di penjara.

a�?Saya ingin apa yang dulu saya alami tidak terjadi sama anak-anak saya, dan semua anak di Kota Mataram, NTB, Indonesia, dan semua anak di dunia ini,a�? ujarnya. (Bersambung/Fatih Kudus Jaelani, Mataram)

Berita Lainnya

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost

Pajak Panelnya Dihapus Dong!

Redaksi LombokPost

Rajin Blusukan ke Sejumlah Sentra Kerajinan Tenun

Redaksi LombokPost

Kreatif..!! Babinsa di Mataram Ganti BBM Motor Dengan Elpiji 3 Kg

Redaksi LombokPost

Ada Kemungkinan Passing Grade Diturunkan

Redaksi LombokPost

Anggota Pokmas Harus Lebih Rajin

Redaksi LombokPost

Mantap, Wali Kota Ingin UMK Naik

Redaksi Lombok Post

Peserta Tes CPNS Dilarang Bawa Jimat

Redaksi Lombok Post