Lombok Post
Headline Metropolis

Ini Dia Monumen Aman

MEGAH: Inilah gambar rencana monumen Aman yang akan mulai dibangun pada tanggal 31 Agustus 2017 nanti. Sedianya peletakan batu pertama akan dilakukan oleh Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh. Ist/Lombok Post

Menjulang tinggi. Simbol ikonik kota paling megah dan memesona. Monumen yang diharapkan akan selalu diingat oleh setiap pengunjung yang pernah menjejakan kaki di Kota Mataram. Inilah Monumen Aman!

———

TEKA-TEKI seperti apa penampakan monumen Aman mulai terungkap. Secara ekslusif Lombok Post berhasil mendapatkan gambar seperti apa monumen yang pernah jadi perbicangan dan diskusi hangat banyak pihak itu.

Bentuknya terlihat gagah dan monumental. Kokoh dan mampu mencirikan wajah kota. Tinggi monumen diperkirakan 50 meter menjulang. Di bagian atas, ada cangkang tiram raksasa.

a�?Nanti (cangkang) itu bisa terbuka dan tertutup,a�? kata sumber yang layak dipercaya.

Kenapa cangkang tiram? Rupanya ini ada kaitannya dengan simbol ikonik ekonomi yang berhasil melejitkan kesejahteraan warga Kota Mataram. Seperti di kawasan kerajinan emas, perak, dan mutiara Sekarbela. Tiram ini telah menjelma menjadi lumbung-lumbung harta karun yang berasil membuat banyal warga kota memiliki ekonomi mapan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Wajar saja, Pemerintah Kota Mataram akhirnya menginginkan cangkang tiram itu yang berada di puncak monumen. Walau tidak bisa dipungkiri pendongrak ekonomi warga kota tidak hanya dari mutiara, tetapi dari perak, besi, perunggu, pertanian, hingga jasa pedagangan.

a�?Di dalam tiram itu nanti ada replika mutiara berukuran besar,a�? imbuhnya.

Replika itu akan dikemas dari bahan khusus. Sehingga, mampu memancarkan kemilau cahaya pada saat malam hari. Sementara, bangunan monumen yang menjulang tidak hanya tumpukan material yang menopang cangkang tiram raksasa.

a�?Di bawahnya nanti ada trowongan,a�? terangnya.

Trowongan itu, akan jadi pintu masuk menuju lift. Lalu membawa para pengunjung monumen hingga ke puncak titik pantau tertinggi di monumen. Yakni sebuah ruangan yang akan dilapisi kaca berwarna biru. Sehingga, setiap pengunjung bisa menikmati hasil karya pembangunan di kota.

a�?Di bagian depan monumen rencananya akan ditulis Mataram Metro,a�? jelasnya.

Sekadar diketahui, Konsep Mataram Metro dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), memiliki gambaran di mana Kota Mataram tidak lagi berdiri sendiri dalam pembangunan. Tetapi akan ditopang oleh kabupaten terdekat yakni Lombok Barat.

Hal ini akan diwujudkan dalam kerja sama antar kedua pemerintah daerah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan. Jadi, bukan memperluas wilayah kota sebagai wilah ibu kota provinsi.

a�?Jadi seperti kawasan Jabodetabek yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi,a�? ulasnya.

Tapi belum diketahui tulisan Mataram Metro di depan monumen sebagai pertanda telah siapnya kedua daerah untuk kerja sama dalam pembangunan. Atau hanya simbol ikonik bahwa Kota Mataram telah bermetamorfosa mejadi kawasan pembangunan yang padat dan tinggi. Selayaknya kota Metropolitan.

Sayangnya, Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito masih irit bicara soal monumen tersebut. Pria berkumis ini rupanya masih memilih menyimpan rapi rahasia monumen hingga tiba waktunya untuk diungkap ke publik. Yaitu, saat peletakan batu pertama di momen ulang tahun kota, 31 Agustus mendatang.

a�?Besok sudah saat peletakan batu pertama,a�? kata Eko, sembari tersenyum mengundang rasa penasaran.

Eko bahkan sempat menggoda Koran ini, dengan mengatakan selalu ingin jadi yang terdepan. Tetapi pada akhirnya, Eko mau juga berbagi cerita tentang monumen yang akan jadi kebanggaan warga kota.

a�?Iya itu gambarnya,a�? ujarnya.

Bahkan ia sempat juga menunjukan desain gapura raksasa yang akan dibangun di pintu masuk by pass BIL tak jauh dari monumen Aman. Gapura ini, terlihat berbeda dengan gapura pada umumnya. Sebuah konstruksi setengah lingkaran dengan warna merah, menghiasi bagian atas gapura.

a�?Tahu ini apa? Ini ada filosofinya,a�? ungkapnya.

Konstruksi bangunan setengah lingkaran itu rupanya terinspirasi dari tudung saji. Dalam bahasa Sasak tembolaq atau ada juga yang mengeja tebolaq. Benda ini kerap menjadi pasangan dulang (nampan), yang berisi makanan.

a�?Kenapa tembolaq? Sebab kita ingin orang yang masuk ke kota merasa aman, nyaman tentram dan damai. Seperti fungsi tembolaq di dulang sebagai penjaga makanan dari lalat dan pengganggu dari luar,a�? tutur Eko.

Pemilihan replika tembolaq juga melalui kajian koperehensif. Yakni dengan melihat kearifan lokal yang terus dijunjung tinggi warga kota. Ikon Tembolaq juga diyakini dapat diterima, lintas suku, ras, agama, dan golongan. Selain tuah doa tembolaq itu sendiri yang diharapkanA� dapat memayungi heterogenitas warga kota.

a�?Ini juga bermakna topi, mengayomi dan membuat warga kota dari berbagai bahaya dan ancaman,a�? ulasnya.

Sayangnya soal anggaran, Eko masih menutup sangat rapat. Ia beralasan, angaran saat ini masih dalam kajian oleh konsultan teknik yang mengerjakan Detail Enginering Design (DED), dari monumen Aman dan Pintu Gerbang Kota Mataram.

a�?Nanti kalau sudah tuntas, pasti kita ungkap ke publik,a�? janjinya, lalu senyum.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Mahmuddin Tura, sempat membeberkan budget awal untuk membangun monumen dan gapura. Nilainya Rp 5 miliar.

a�?Rp 2 miliar untuk pembangunan tahap awal monumen, sedangkan Rp 3 miliar untuk gapura di perbatasan wilayah,a�? tuturnya.

Khusus monumen, diakui Tura tidak bisa langsung tuntas. Harus dibangun dengan secara bertahap. Sayangnya Tura juga belum bisa memastikan berapa kebutuhan anggaran hingga monumen megah itu selesai dikerjakan.

Ada banyak bagian yang akan dikembangkan kualitasnya. Sehingga, benar-benar mampu mencitrakan monumen yang indah. Mulai dari bangunan fisik monumen itu sendiri dan fasilitasnya, trowongan bawah tanah, kolam renang dan air mancur, hingga taman yang menghiasi sekitar monumen.

a�?Saat ini sudah pada tahap tender konsultan perencanaan, mereka bertugas membuat DED-nya,a�? jelasnya.

Selain lift, monumen ini juga akan dilengkapi dengan tangga darurat. a�?Jadi kalau listrik padam, pengunjungnya bisa segera keluar,a�? cetusnya.

Senada dengan Eko, ia juga berharap semua persoalan jelang peletakan batu pertama bisa segera rampung. Sehingga tepat pada tanggal 31 Agustus, saat ulang tahun kota, sebongkah batu dan seember semen dari wali kota, bisa menandai dimulainya pembangunan dua ikobn baru itu.

a�?Saat puncak perayaan ulang tahun kota, nanti dilakukan peletakan batu pertamanya,a�? ujarnya.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh mengatakan monumen itu sebagai pencitraan kota. Karena itu walau saat penyusunan KUA PPAS kemarin sempat ada insiden pemotongan anggaran DAK oleh pemerintah pusat sebesar Rp 10,9 miliar, wali kota dua periode ini tetap fokus pada visinya.

a�?Monumen itu adalah modal pencitraan kota,a�? tegasnya.

Selain citra kota, Ahyar juga ingin monumen ini menjadi representasi kualitas pembangunan kota. Simbol gambaran capaian yang berhasil ditorehkan pemerintah selama ini, dalam mengupayakan pembangunan di ibu kota provinsi ini.

a�?Juga sebagai, tujuan wisata juga,a�? harapnya.

Ketua DPRD Kota Matram H Didi Sumardi sebelumnya juga sudah memberi sinyal bakal menyetujui pembangunan monumen tersebut. Ia memandang bangunan itu bisa jadi simbol yang berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan ke daerah ini.

a�?Ini juga harus jadi motivasi daerah untuk lebih giat membangun,a�? tambahnya.

Dalam pemikirannya, monumen kadang dinilai penting untuk menunjukan identitas daerah. Ia mencontohkan sejumlah daerah lain juga nekat bangun monumen. Walau kondisi fiskal daerah mereka tergolong rendah.

A�a�?Kalau semangat-semangat itu bisa diakomodir oleh monumen yang akan dibangun, saya rasa kenapa tidak (untuk segera dibangun),a�? cetusnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

ILBB-Ancora Foundation Bantu Korban Gempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost