Lombok Post
Headline Metropolis

HUT Kota Mataram ke-24, Menuju Kota Digital!

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.Ist/Lombok Post

Semua nyaris ada di Kota Mataram. Investasi di bidang bisnis, jasa, perdagangan, hingga industri sudah terangkum, di lahan seluas 61,3 km persegi ini. Kini, di umur yang ke-24 tahun, kota berbasis digital pun mulai dirintis. Berikut laporannya.

—————

USIA boleh 24 tahun. Masih sangat belia. Tetapi, Kota Mataram telah menjelma menjadi kota yang berkembang sangat pesat.

Hanya dalam waktu 24 tahun, langkahnya nyaris selebar kota-kota metropolitan dengan pernak-pernik peradaban yang tumbuh di dalamnya.

Lihat saja, berapa investasi sudah tercatat masuk di Kota Mataram. Dari data yang ada, tren investasi bergerak naik. Hingga memasuki triwulan ke dua tahun 2017, tercatat Rp 2,28 triliun duit pemodal mengguyur daerah ini. Jika di total-total, sejak tahun 2014, nilai investasi yang sudah masuk, mencapai Rp 17,58 triliun.

a�?Harus diakui, luar biasa perkembangan secara fisik,a�? puji tokoh sepuh Kota Mataram HL Mujitahid.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Kota Mataram masih menjadi kawasan dengan sektor pengadaan barang dan jasa yang paling favorit di NTB. Di tahun 2017 ini, sektor pengadaan barang dan jasa telah dibuka sebanyak 136 usaha. Jika ditarik dalam empat tahun terakhir, puncak paling tinggi ada pada tahun 2015. Sebanyak 702 sektor usaha barang dan jasa dibuka.

Sejak tahun 2014 hingga Juli 2017, tercatat sudah 2.113 usaha di bidang pengadaan barang dan jasa di daerah berjargon Maju, Religius, dan Berbudaya ini.

Di bawahnya menyusul bidang jasa seperti travel, telekomunikasi, ticketing, finance, dan pariwisata sebanyak 293 usaha. Di bawahnya lagi, bidang konstruksi atau real estate dengan 211 usaha.

Sementara, rumah makan menempati urutan ke empat dengan 81 usaha. “Kalau dulu, jumlah lampu setopan (traffic light), masih bisa dihitung jari,a�? kata Mujitahid.

Tapi kini, jangankan traffic light, hotel-hotel berbintang telah mewarnai wajah kota. Hampir di setiap sudut kota, hotel-hotel megah berdiri tegak.

Jika di data dari tahun 2014 hotel sebanyak 64 usaha. Sedangkan, rumah sakit dan klinik sebanyak 37 usaha.

Dilihat dari jenis perusahaan, maka Perusahaan Perorangan (UD) telah menembus angka 1.304 usaha. Nomor dua, persekutuan Komnditer (CV) dengan 821 usaha. Terakhir dalam bentuk Perseroan Terbatas sebanyak 674 usaha.

Perkiraan tenaga kerja yang sudah berhasil diserap di tahun 2017 ini mencapai 3.175 orang. Jika dikomulatifkan dengan jumlah tenaga kerja yang sudah diserap sejak tahun 2014, maka investasi di Mataram, telah memberi nafkah pada 31.177 orang.

a�?Dulu, pusat perdagangan di Cakra itu masih warung-warung,a�? kenangnya.

Tetapi hanya dalam tempo waktu yang relatif singkat, semua sudah berubah. Bahkan hitungannya masih satu generasi. Belum sampai lintas generasi untuk menjadi saksi perubahan kota yang sangat pesat ini.

a�?Cuma saya harus ingatkan, ada masa 13 tahun lamanya status Mataram sebagai Kotif (Kota Administratif),a�? ujar Muji.

Jangan Lupakan Kotif

Jika masa kotif ditambah dengan usia Kota Mataram saat ini, maka sebenarnya usia kota telah menginjak 37 tahun.

a�?Dulu sekitar tahun 1978 di awal-awal Mataram di tetapkan sebagai kotif, perguruan tinggi hanya beberapa, seperti Univesitas 45 dan IAIN,a�? tuturnya.

Namun sekarang tidak kurang dari 17 lembaga pendidikan. Baik yang berstatus negeri atau swasta, hadir dari ujung ke ujung di Ibu Kota Provinsi NTB ini. Belum lagi lembaga pendidikan setara SD, SMP, dan SMA.

a�?Zona pusat pendidikan, pusat perdagangan, pusat industri, pusat permukiman, semua tumbuh dengan sangat pesat. Ini capaian luar biasa, kita harus bersyukur,a�? ujarnya.

Hanya saja, Muji tetap berharap tahun Kota Mataram bisa diakumulasikan dengan tahun di mana Mataram berdiri sebagai Kota Administratif. a�?Saya akan usulkan itu,a�? ujarnya.

Ia berharap, masa-masa perintisan kota selama 13 tahun lamanya, bisa jadi catatan penting yang harus diikutkan dalam sejarah. Bagaimanapun, kata Muji, masa itu juga bagian dari sejarah sampai akhirnya lahir Kota Mataram sebagai daerah Ibu Kota Provinsi NTB.

a�?Selama statusnya sebagai koti, ya memang belum ada DPRD, belum ada juga sebutan kepala daerah, tetapi kepala wilayah. Proses pemilihan kepala wilayah tidak dipilih, melainkan diangkat,a�? tuturnya.

Barulah setelah itu, menjadi kota madya. Memiliki lembaga legislatif dan kepala daerah dipilih melalui pemungutan suara.

a�?Dulu saya hitung luas wilayah kota 72 km persegi, untuk bisa nyaman hidup, bernafas longgar, penduduknya menurut perhitungan jangan lebih dari 367 ribu,a�? ujarnya.

Tetapi, sekarang jumlah penduduk bahkan sudah lebih dari batasan yang diharapkan. Catatannya mencapai 450 warga tinggal di Kota Mataram. Diakui Muji, arus urbanisasi memang tidak bisa dibatasi. Karena itu, sudah saatnya planning tentang konsep Mataram Metro, di mana daerah sekitar Kota Mataram menjadi kawasan penunjang.

a�?Kalau semua mau tinggal di kota, maka udara yang kita hirup ini sebenarnya sisa orang lain,a�? kelakarnya.

Geliat bisnis property di sekitar kawasan lingkar Kota Mataram, seperti Labuapi, Narmada dan Gunung Sari Lombok Barat, dinilai cukup bagus memecah konsentrasi penduduk. Sehingga tidak hanya berkutat di Kota Mataram. Dengan begitu, suasana kota, tidak perlu sepadat yang ditakutkan. Lahan investasi bagi para pemilik modal pun, masih terbuka lebar di Mataram.

a�?Biar kota jadi tempat bekerja saja, sedangkan kawasan penunjang, jadi tempat tinggal,a�? ujarnya.

Bersinergi dengan Rakyat

Muji berpesan, ke depan pemerintah harus lebih banyak mensinergikan pembangunan dengan rakyat. Jangan hanya melakukan pendekatan fungsional, tetapi kultural harus diupayakan dalam upaya membangun kota.

Ia mencontohakan dalam penutasan masalah sampah hingga kamtibmas. a�?Libatkan krame desa, krame lingkungan, untuk menopang penuntasan masalah pencurian, perampokan, hingga narkoba, sehingga persoalan ini bisa ditanggulangi lebih efektif dan efisien,a�? sarannya.

Membangun rasa cinta warga pada lingkungan, menurut Muji relatif mudah. Yakni dengan memberikan warga ruang untuk terlibat aktif menjaga lingkungan. Sehingga dengan sendirinya, akan jadi ruang yang bagus untuk meningkatkan kecintaan mereka pada wilayahnya.

a�?Semoga perkembangan kota, akan jauh lebih baik ke depannya,a�? harap pria sepuh ini.

Walau iklim investasi sangat progresif di Kota Mataram, nyatanya kearifan lokal dan budaya tetap terjaga dengan baik. Keragaman suku, budaya, agama, dan golongan berangkulan, bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban kota.

Uniknya, keragaman ini, tetap memberi ruang investasi bisa masuk di Kota Mataram.

Investasi berdiri berdampingan dengan kearifan lokal masyarakat. Prestasi gemilang di mana budaya bisa dirangkul dan diajak bergandengan tangan dengan kepentingan investasi dan bisnis, harus tetap bisa berjalan selaras.

a�?Saya tetap bersyukur dengan capaian yang behasil kita lakukan selama ini,a�? kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.

Ia tetap melihat, keberhasilan membangun kota, tidak lepas dari dukungan warga kota yang tinggi. Masyarakat kota, sadar dengan baik bahwa kota ini bisa tumbuh dengan sumber ekonomi dari jasa, pedagangan, dan perhotelan.

a�?Lalu ada, pariwisata dan transportasi, sehingga mengapa pembangunan kita bisa pesat, Alhamdulillah karena semua berkat dukungan dari masyarkakat,a�? ujarnya kalem.

PAD Tertinggi se-NTB

Saat ini, Kota Mataram bisa mencatatkan pendapatan PAD tertinggi se-NTB. Saat menjabat pertama kali tahun 2010, Ahyar hanya diamanatkan agar capaian PAD Kota Mataram bisa mendekati Rp 50 miliar.

a�?Lalu dalam RPJMD saya diwajibkan agar bisa mengumpukan PAD sebesar Rp 100 miliar,a�? terangnya.

Tetapi, berkat sinergi yang baik dengan seluruh warga kota dan pelaku ekonomi, capaian PAD yang berhasil dikumpulkan, justru melampaui ekspektasi.

a�?Sampai akhir jabatan, saya bukukan PAD kota sekitar Rp 200 miliar. Bahkan sekarang saya dibebankan target harus bisa capai Rp 360 miliar,a�? terangnya.

Tetapi Ahyar tetap optimis. Target itu akan mampu ia lampaui lagi. Ia sangat percaya diri, derasnya arus investasi dan pembangunan di kota, telah bedampak pada meningkatnya taraf perekonomian warga.

Apalagi pembangunan dan investasi di kota, secara bertahap akan diakselerasikan dengan agenda reformasi pada reguliasi dan pelayanan. Bagaimana agar investasi yang siap masuk di kota, bisa dilayani dengan cepat, tepat, dan efisien.

a�?Pelayanan yang mudah dan cepat, menjadi tujuan kami,a�? tegasnya.

Menuju Smart City

Kini, Kota Mataram telah menapak babak baru. Bersiap-siap untuk masuk era digitaliasi wilayah melalui sistem yang disebut smart city. Sebuah sistem yang baru hanya 4 daerah menerapkannya. Antara lain : Jakarta, Bandung, Makasar, Surabaya, dan Semarang.

Kota Mataram telah bersiap-siap memasuki era digitalisasi daerah. Dan menjadi satu-satunya daerah di NTB. Di mana semua hal tentang Kota Mataram akan terkomupterisasi dengan baik. “Kita akan segera wujudkan daerah smart city,a�? tegas Ahyar.

Secara teknis, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram HL Junaidi menjelaskan tentang progres persiapan smart city.

Ia menjanjikan akan mengawali dengan memasang lima unit CCTV di lima titik. Hasil pantauan ini dan laporan dari warga melalui aplikasi, akan ditampilkan secara real time melalui empat layar LCD besar di ruang Smart City Command Center yang telah berhasil dibangun.

a�?Jadi semua bisa kita pantau, kondisi kemacetan, sampah, dan laporan masyarakat melalui empat layar ini,a�? kata Junaidi.

Kelima CCTV, sudah terpasang di lima titik. Antara lain di Karang Baru untuk pengawasan depo sampah, Karang Medain untuk pantau kemacetan dan sampah pinggir kali, di Lawata memantau depo dekat lapangan atletik.

a�?Sedangkan di depan SMPN 1, SMPN 2 dan di simpang empat Gede Ngurah, semua untuk pantau kemacetan,a�? terangnya.

Khusus untuk CCTV dan conecting system-nya, pemkot merogoh kocek Rp 135 juta. Jika pengawasan ini berhasil, maka ada rencana peningkatan jumlah CCTV. Nantinya, perangkat-perangkat ini, bisa menjadi a�?mata-mataa�� untuk mengawasi empat persoalan besar di seluruh wilayah Mataram.

Baik itu menyangkut persoalan sampah, banjir, kemacetan, dan keamanan.

a�?Tidak hanya itu, informasi di setiap OPD, sistem lapor, call center hingga laporan melalui aplikasi yang dikelola Smart City Command Center akan diintegrasikan jadi satu, di bawah pengawasan kominfo,a�? tandasnya.

Maka, sudah selayaknya, kita ucapkan selamat datang pada era digitalisasi Kota Mataram. (zad/r5)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost