Lombok Post
Metropolis

Pemecatan Hafiz Tak Selesaikan Masalah!

joko (1)
Joko Jumadi

MATARAM-Pemecatan siswa SMKN 3 Mataram atas nama Hafiz Hamdani membetot banyak perhatian publik. Banyak yang menilai langkah pihak sekolah memecat Hafiz, sebagai tindakan arogan dan otoriter pihak sekolah.

Tetapi ada pula yang menganggap, ini sekedar upaya sekolah menegakan aturan yang berlaku.

Joko Jumadi, Bagian Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram mengecam keras langkah yang ditempuh pihak sekolah.

a�?Sekolah itu punya mandat untuk mendidik, sedangkan Dinas Pendidikan punya mandat untuk partisipasi anak sekolah,a�? kata Joko.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Tetapi, dengan melihat apa yang dilakukan pihak SMKN 3 Mataram, Joko justru menilai antara SMKN 3 Mataram dengan Dinas Pendidikan tidak satu visi. Di satu sisi, dinas berupaya agar tingkat anak yang tidak sekolah ditekan seminimal mungkin.

a�?Tapi coba lihat, SMKN 3 Mataram, justru memecat anak didiknya. Lah kalau begini bagaimana ceritanya?a�? kecamnya.

Lalu yang kedua dan tak kalah kontroversi, menurut Joko, adalah aturan disiplin yang dibuat pihak sekolah. Ia menilai, aturan itu bertentangan dengan semangat yang terkandung dalam undang-undang. Bagi Joko, ini justru bentuk pembangkangan pada aturan yang lebih tinggi.

a�?Tata tertib sekolah, tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dasar,a�? tegasnya.

Langkah pemecatan ini, juga secara tidak langsung telah mencederai predikat Kota Layak Anak (KLA) kategori pratama yang telah berhasil didapat pemerintah kota. Bagi Joko, ini justru ironi. Kebanggaan memiliki kota layak anak, justru harus dihadapi dengan kenyataan angka Drop Out (DO), juga tidak kalah tinggi. Hanya karena aturan-aturan yang dibuat sekolah.

a�?Jangan sampai kita, bangga mengeluarkan anak didik hanya karena alasan disiplin, ini celaka dua belas!a�? sesalnya.

Ia mengingatkan, langkah pemcatan memang gampang. Teatapi di sisi lain tidak menyelesaikan persoalan yang lebih besar. Sekolah punya peran besar untuk mengubah anak menjadi lebih baik. a�?Dari yang bodoh jadi pintar, dari yang tidak baik jadi baik. Lah ini tidak baik, malah dipecat,a�? sesalnya.

Langkah yang ditempuh LPA saat ini, lanjut Joko masih dalam tahap advokasi. Mencari peluang agar anak ini bisa medapatkan solusi terbaik dan tidak perlu putus sekolah. Pembicaraan juga masih tengah diupayakan dengan dinas terkait. Agar masa depan mereka lebih baik.

a�?Kami juga dengar ini bukan kasus yang pertama, ada siswa-siswa lain juga yang banyak sudah dipecat. Ini tentu sangat disayangkan,a�? tegasnya.

Sementara itu, Ketua PGRI Kota Mataram Saptadi Akbar, juga ikut menyayangkan adanya kasus pemecatan siswa. Menurutnya, setiap ada persoalan harus ada solusi. Bukan malah hanya mencari aman sendiri dengan melakukan pemecatan.

a�?Kita, prihatin dengan kondisi ini, memang perlu melihat duduk persoalannya,a�? kata Saptadi.

Ia sendiri enggan menyebut peristiwa ini sebagai pemecatan. Tetapi mengistilahkannya sebagai pengistirahatan. Dengan harapan, ada solusi setelah kasus ini mencuat ke media dan mendapat sorotan dari banyak pihak.

a�?Saran kami karena SMA-SMK berada di bawah provinsi, sebaiknya Kepala Sekolah SMKN 3 Mataram, berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi NTB,a�? ujarnya.

Jangan sampai, keputusan yang sudah diambil, justru ke depan jadi preseden buruk dan blunder bagi sekolah. a�?Kami menyadari di satu sisi sekolah ingin tegakan aturan, tetapi di sisi lain alangkah baiknya juga melihat latar belakang, kenapa siswa itu terus melanggar aturan,a�? ulasnya.

Ia juga menwarkan untuk melakukan mediasi. Agar kedua belah pihak bisa mendapatkan solusi yang terbaik. a�?Jangan sampai anak itu jadi korban, tetapi pihak sekolah juga bisa menegakkan aturan sekolahnya,a�? tandasnya. (zad/r5)

 

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost