Lombok Post
Headline Metropolis

Potensi Pariwisata Mataram Tidak Kalah dari Daerah Lain

BERPOTENSI DATANGKAN WISATAWAN: Seorang pria memetik kangkung di sungai Jangkuk, Kota Mataram. Pola tanam kangkung Mataram yang unik bisa saja mendatangkan wisatawan jika digarap secara maksimal. Ivan/Lombok Post

MATARAM-Sekaratnya Pariwista Kota Mataram menimbulkan banyak keprihatinan. Sebab, jika wajah pariwisata Kota Mataram terus lesu seperti saat ini, tentu tidak banyak yang bisa diharapkan.

Syech Idris, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM), Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram menyebut ada persoalan mendasar terkait paradigma pariwisata yang keliru. a�?Kalau soal potensi, Mataram ini tidak kalah dengan yang lain,a�? kata Idris.

Tetapi yang masih lemah dan belum diperbaiki dengan serius yakni terkait Sumber Daya Manusia (SDM). Ia mempertanyakan peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang tiba-tiba lenyap dan tidak ada lagi gaungnya.

a�?Padahal ini SDM yang potensial di tengah masyarakat,a�? tekannya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Tetapi karena ada pengelolaan yang keliru, sehingga membuat Pokdarwis ini hanya bergema saat pembentukannya saja. Seiring perjalanan waktu, makin ke sini, Pokdarwis justru tidak pernah terdengar lagi, apa kegiatannya.

a�?Kenapa bisa hilang? Karena dari awal mereka terbiasa berpikir tentang proyek dan uang,a�? kritiknya dengan lugas.

Program-program dalam Pokdarwis, selalu diidentikan dengan guyuran dana segar. Tidak pernah mengarah bagaimana menumbuhkan kesadaran para anggota kelompok, tentangA� pentingnya wisata itu. a�?Makna pariwista belum masuk ke sanubari anggotanya,a�? terangnya.

Sehingga, kelompok yang awalnya dapat menjaga dan mempengaruhi warga di sekitarnya agar bisa mewujudkan sapta pesona atau tujuh pesona wisata di wilayah atau lingkungan, justru melempar itu hanya sebatas teori saja.

Karena orientasi awalnya adalah proyek, maka ketika tidak ada dana segar, program ini pun lenyap seperti tertelan bumi.A� a�?Kalau seandainya, Pokdarwis itu dulu diarahkan untuk mengkreasikan wisata, saya rasa mereka akan punya rasa tanggung jawab untuk menjaganya,a�? terangnya.

Ia mencontohkan, salah satu tanaman ikonik di Kota Mataram adalah Kangkung. Tanaman menjalar ini telah menjadi menu istimewa dan khas yang a�?dijuala�� hingga ke luar kota. Melalui salah satu menu yakni pelecing kangkung.

a�?Kalau Pokdarwis itu diarahkan untuk melakukan hal itu, saya rasa ini akan jauh lebih bermanfaat, dari pada mereka harus bicara panjang lebar. Bagus kalau di dengar, kalau tidak?a�? terangnya.

Solusi ini juga sekaligus menjawab keresahan Dinas Pariwisata yang mengeluh soal anggaran promosi terlalu kecil. Maka dengan menerapkan kegiatan yang memiliki aksi nyata di lapangan, maka seluruh anggota Pokdarwis pasti akan terdorong untuk menjaga kelanjutan program ini.

a�?Karena hasil budidaya bisa diukur, sedangkan kalau mereka diminta sosialiasi ukuran keberhasilannya apa? Sulit mengetahuinya,a�? ulasnya.

Lalu dimana nilai pariwisata jika Pokdarwis didorong untuk bercocok tanam?

Di sinilah menurut Idris pemahaman tentang pariwisata itu keliru. Banyak orang beranggapan, pariwisata selalu berkaitan dengan situs, peninggalan purbakala, dan sumber daya alam yang melimpah.

a�?Padahal kangkung juga bisa jadi pariwisata,a�? tekannya.

Ia mengingatkan, jika Pokdarwis berhasil melakukan budidaya kangkung dengan berbagai varian dan jenis kangkung yang ada di nasional, maka ini akan mendorong minat wistawan untuk datang ke Mataram.

a�?Bayangkan kalau seandainya Mataram bisa menyuguhkan berbagai tanaman kangkung dari berbagai varian yang ada di nusantara, maka itu bisa jadi objek wisata,a�? ujarnya.

Kelirunya mindset yang dibangun selalu harus dibandingkan dan menurut daerah lain. Padahal itu, menurutnya kesalahan besar dan akan membuat Kota Mataram selalu kalah dengan daerah lain.

a�?Kalau berkaca itu jangan pada orang lain, tetapi berkacalah pada diri sendiri, apa yang menjadi keunikan dan kekuatan daerah ini,a�? tegasnya.

Idris pun mengaku tidak heran, kenapa aneka festival yang digarap Kota Mataram, cenderung melempem. Tidak punya kekuatan untuk menarik minat wisatawan luar daerah datang ke Mataram.

Sebut saja festival Sepeda, Miraj, Tahun Baru Caka, Miniatur Masjid, Terune Dedare Mataram, musik, dan berbagai kegiatan yang termuat dalam kalender event kota, semua kegiatan itu sudah ada di daerah lain.

a�?Sehingga ketika kegiatan itu didukung, ya tidak maksimal. Karena tidak unik dan semua daerah hampir punya seperti itu,a�? urainya.

Karena itu, saat diceritakan soal keluhan Dispar terkait anggaran Idris mengaku enggan membenarkan atau menyalahkan. Ia lebih setuju untuk mengoreksi lebih dalam, apakah mekanisme pengelolaan pariwisata, dari persiapan SDM sampai pemilihan ikon wisata sudah benar-benar sudah disaring mana yang paling penting dan unik. Atau hanya sekedar kegiatan meramaikan dan asal proyek.

a�?Jangan pakai jurus mabuk, tunjuk kiri kanan, tanpa mengukur dampaknya apa bagi pariwisata kota,a�? tandasnya.

Terpisah, Politisi Partai Golkar Kota Mataram TGH Mujiburrahman juga ikut merasa was-was dengan melempemnya pariwisata kota. Ia bahkan menceritakan jika minimnya kerasi dan prestasi DisparA� telah menjadi diskusi hangat di Komisi IV DPRD Kota Mataram.

a�?Kami saja belum tahu secara rinci, apa yang menjadi program kegiatan dari Dispar selama ini,a�? ujarnya.

Karena itu, Komisi IV telah berencana, menyiapkan waktu dan mengevaluasi kerja Dispar selama ini. Apa yang menjadi pesoalan sehingga berbagai event dan kegiatan yang digelar Dispar, nyatanya tidak berdampak banyak mengkatrol jumlah pariwisata Kota Mataram.

a�?Nanti kita tanya apa yang membuat itu terjadi (minim inovasi dan minim prestasi),a�? tegasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost