Lombok Post
Headline Metropolis

Senjakala Wayang Sasak

DALANG: Lalu Nasib, salah seorang dalang Wayang Kulit Sasak saat pentas di halaman kantor TVRI, Sabtu (9/9). Ia menjadi salah satu dalang yang masih eksis hingga saat ini. SIRTU/LOMBOK POST

Wayang Sasak, warisan mahakarya Nusantara itu kini berada di ambang senja. Wayang menjelma asing bagi anak-anak muda. Tak seperti dulu, pentas-pentas wayang kini kian langka. Sementara di satu sisi, pemerintah tak melihatnya sebagai petaka sehingga tak terlihat aksi nyata. Sungguh kita adalah generasi yang tak tahu berterima kasih, jika di tangan kita, wayang akhirnya terbunuh sia-sia.

***

TABUHAN musik gamelan memulai pentas malam itu. Musik khas yang sesak bunyi-bunyian itu membangkitkan semangat untuk mendekat ke panggung. Dari balik kelir, bayang gunungan muncul disertai suara seorang dalang dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno). Irama suara tersebut kadang menggelegar, kadang melunak. Kadang melengking diiringi tetabuhan yang kian cepat. Satu per satu tokoh wayang muncul dalam bentuk bayangan.

Malam itu, H Lalu Nasib, sang dalang memperkenalkan tokoh-tokoh dalam cerita a�?Dewi Hendarniggara�? seorang putri China yang masuk Islam karena jatuh cinta pada Jayangrana, julukan Amir Hamzah. Tapi akhirnya mereka tidak berjodoh.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Penonton hening. Mereka menyimak bagian pembukaan pentas yang menggunakan bahasa Kawi itu. Sampai akhirnya tokoh-tokoh punakawan muncul, seperti Amaq Kesek, Amaq Ocong dan Amaq Baok. Seketika tawa penonton pun pecah. Banyolan-banyolan khas tokoh punakawan ala Lalu Nasib itulah yang rupanya mereka tunggu-tunggu. Dengan bahasa keseharian, penonton lebih mudah memahami celotehan yang kadang menyeleneh itu.

Kisah pewayangan terus berlanjut. Hingga malam larut. Jarum jam menuding arah pukul 22.30 Wita, dalang bersama tim di balik layar masih semangat menuntaskan cerita yang telah dimulai. Cuma, satu per satu penonton mulai angkat kaki, dan tersisa beberapa orang saja. Mereka duduk berpencar di halaman kantor TVRI NTB yang cukup luas. Kebanyakan di antara mereka adalah karyawan televisi milik pemerintah tersebut.

Suasana di halaman kantor TVRI NTB itu berbanding terbalik dengan keriuhan di sebuah kafe yang hanya sepelemparan batu dari halaman kantor TVI NTB. Ramai bukan main kafe itu. Anak-anak muda sedang menghabiskan malam Minggu di sana. Dihibur musik yang langsung mentas di sana. Meski hanya berteman segelas kopi yang sudah tak lagi hangat, kadang hanya tersisa keraknya doang, mereka betah alang kepalang.

Begitulah. Wayang telah kalah kelas. Wayang Sasak semakin terasing. Apalagi di kalangan anak muda. Sangat sedikit pemuda yang memahami wayang, apalagi tertarik mempelajarinya. Kalaupun dikenal, itu tidak lebih sebagai humor yang diputar setiap malam Minggu di stasiun televisi swasta. Sambil lalu saja.

Wiwin, siswi SMK 3 Mataram yang bertahan nonton wayang sampai larut mengatakan, ia menyukai pertunjukan wayang karana banyak banyolan. Hal itu membuatnya kadang tidak kuat menahan tawa. Sementara cerita inti dalam pewayangan ia tidak terlalu mengerti. Tapi satu dua kata kadang ia pahami sehingga sedikit terbantu memahami alur cerita.

a�?Yang saya ingat hanya pas lucu-lucuannya,a�? tutur Wiwin.

Ia mengakui, teman sepantarannya hanya sedikit yang menyukai wayang. Sebab pilihan hiburan bagi anak muda masa kini sudah cukup banyak. Apalagi mereka tidak pernah diajarkan tentang sejarah, tokoh dan cerita Wayang Sasak. Maka sulit bagi generasi muda untuk mencintai wayang.

a�?Sebenarnya kalau ada kegiatan ekstra kulikuler wayang di sekolah, mau sih kita ikut,a�? kata Faisal, teman karib Wiwin.

Surutnya nasib wayang, berimbas pula pada nasib para dalang yang memainkannya. Yang nanggep wayang kini kian susut. Walhasil, satu per satu para dalang ini pun kini akhirnya hilang. Mereka banting stir, beralih mencari pekerjaan lain untuk bisa bertahan hidup. Kondisi itu membuat para dalang gelisah. Tidak terkecuali Lalu Nasib, meski masih eksis menjadi dalang.

a�?Kalau saya sudah berhenti mendalang, akan punah wayang Sasak ini,a�? kata Lalu Nasib.

Rasanya memang tidak muluk-muluk. Hanya pada Lalu Nasib seorang saja, wayang Sasak kini menggantungkan hidup.

Kurangnya regenerasi wayang Sasak tidak lepas dari kurangnya pembinaan. Terutama dari pemerintah. Belum ada kebijakan untuk menggairahkan kembali Wayang Kulit Sasak. Pemerintah bahkan seperti tidak mau ambil pusing dengan nasib para dalang. a�?Kita berjalan sendiri, hidup-hidup, matinya terserah,a�? kata Lalu Nasib.

Dalang muda menurutnya masih ada. Tapi mereka sekadar mentas untuk upacara lokal di kampung-kampung. Jarang yang bisa eksis dan diterima banyak orang, karena mereka sendiri tidak mau berguru, tidak mau belajar bagaimana cara menjadi dalang yang baik agar disenangi masyarakat. Selain itu, banyak pemuda yang bisa mendalang, tetapi tidak ditekuni karena mereka menjadikannya pekerjaan sampingan.

a�?Banyak yang bisa (mendalang) tapi tidak bisa menjadi pegangan untuk penghidupan,a�? katanya.

Para dalang muda juga merasa tidak percaya diri dengan berprofesinya sebagai seniman wayang. Untuk memulai pun sulit. Bila mereka belum terkenal, akan jarang ada orang yang mengundang. Maka penghasilan mereka juga akan berkurang. Di sisi lain kebutuhan hidup terus menuntut, sehingga lambat laun mereka menghilang.

Di sisi lain, pemerintah tidak mau mem-backup para seniman. Kalaupun ada janji-janji ingin mengembangan kesenian wayang, baginya itu hanya omongan saja. Sebab janji semacam itu sudah ia dengar sejak zaman dahulu kala. Tapi tidak ada realisasi dalam bentuk kebijakan.

Dalang Adalah Orang Terpilih

Pandangan serupa juga dikemukakan H Safwan, salah seorang dalang dari Desa Badrain, Narmada. Kemampuan khusus seorang dalang kata dia, dipercaya merupakan bakat turun-temurun. Banyak juga yang meyakini bahwa Dalang tidak dilahirkan, melainkan akan a�?lahira�� sendiri di setiap lingkungan yang mempunyai tradisi perwayangan.

Toh meski begitu, kekhawatiran pun akhirnya juga muncul kini. Kian hilangnya para penerus yang a�?terpiliha�� dan juga tak kenal pamrih tersebut mulai terlihat. Dan di satu sisi, usaha para dalang untuk melestarikan budaya leluhur tersebut saat ini terhalang oleh berbagai persoalan. Mulai dari kurangnya referensi tertulis, sampai dengan minimnya apresiasi yang disebabkan oleh perkembangan zaman, dalam hal ini kesenian modern dan media.

Persoalan dalang di NTB kata Safwan, saat ini menurutnya disebabkan oleh berkembangnya zaman. Media teknologi, televisi, musik, video, media sosial, dan jenisA� perkembangan media lainnya secara tidak langsung membuat layar para dalang tertutup.

Menurut dia, profesi sebagai seorang dalang tidak menjanjikan secara materi. Dari generasi pertama, ia mengatakan dalang-dalang di Lombok pasti mempunyai pekerjaan lain untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Safwan sendiri mengaku harus meninggalkan dunia perwayangan saat harus bekerja ke Bali. a�?Kalau hanya mengharapkan pertunjukan wayang yang tidak menentu, tentu kita tidak bisa hidup,a�? terangnya.

Selain itu, persoalan yang dihadapi para dalang pada generasi awal, yakni pada sekitar tahun 50-60an, yakni pertunjukan wayang tidak bisa sembarang diadakan. Kata H Safwan, setiap pertunjukan wayang a�?ditanggepa�� atau diundang hanya pada saat-saat tertentu, a�?harus ada gawe (pesta) dulu,a�? tambahnya.

Nanggep wayang pada saat itu, tidaklah mudah karena biaya yang mahal. Bisa jutaan sekali pentas. Bahkan karena harganya yang sangat tinggi, muncul mitos di masyarakat, kalau mengundang pertunjukan wayang, anak yang mengundang tersebut akan buta dan tuli. a�?Sampai sekarang mitos seperti itu ada di beberapa desa,a�? terang H Safwan.

Bagi Safwan, menjadi seorang dalang merupakan a�?gifta�� atau pemberian turun temurun dari Tuhan melalui a�?daraha�� para leluhur. Tidak mudah bagi seorang dalang menurunkan ilmunya. Karena menurut H Safwan, menjadi seorang dalang, diyakini dengan sendirinya akan mampu menguasai ilmu ketauhidan.

Hal tersebut ia yakini berdasarkan sejarah wayang menak sasak. Di mana, saat wali songo datang ke Lombok untuk membawa ajaran ketauhidan melalui wayang, sang wali terkejut karena melihat masyarakat sasak khususnya pada dalang pada waktu itu ternyata sudah meyakini adanya yang tunggal, yakni a�?neneq kajia��. a�?Mukmin, tapi belum muslim,a�? ujar H Safwan.

Sehingga, dengan rasa takjub, sang wali pun pulang dan mengabarkan apa yang dia dapatkan di Lombok tersebut. Dari sanalah ia kemudian kembali membawa cerita wayang menak sasak yang secara umum menceritakan usaha para anbiya menyebarluaskan ajaran ketauhidan.

Sebenarnya, mengajarkan anak-anak menjadi dalang tak perlu waktu lama. Anak-anak yang dilatihnya kata Safwan bisa memahami dasar ilmu mendalang selama tiga bulan. Satu bulan pertama untuk mace (membaca), satu bulan kedua untuk gerakan memainkan wayang, dan bulan ketiga menyelaskan bacaan dan gerakan dalam alunan musik. a�?Selanjutnya tinggal kita ajarkan wirasa, wiraga, dan wirama,a�? ucap dia.

Akan tetapi usaha untuk membina para dalang baru, dirasakan terkendala oleh minimnya anggaran. Karena untuk memainkan wayang tidak bisa hanya dalang saja, akan tetapi butuh tim yang menyiapkan wayang dan memainkan musik juga persiapan-persiapan lainnya. a�?Itu tidak mudah. Saat ini, kita tidak bisa minta para pemain datang setiap hari tanpa uang transportasi,a�? ungkapnya.

Selama ini, dia mengaku tidak pernah meminta imbalan setiap melatih para dalang. Akan tetapi bukan berarti dirinya tidak membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah yang mempunyai tanggung untuk melestarikan kesenian daerah ini. a�?Penting kalau ada program pelatihan dalang yang disuport pemerintah,a�? tambahnya.

Sekolah Pedalangan Wayang Sasak

Besarnya tantangan melestarikan Wayang Sasak juga dirasakan Abdul Latief Apriaman aktivis IdeAksi Mataram yang berinisiatif mendirikan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak. Itu mengapa, saat mendirikan sekolah ini, Latief tidak pernah memiliki keyakinan bisa mengambalikan wayang sebagai sebuah tontonan yang banyak diminati oleh masyarakat seperti zaman dulu.

a�?Dulu, saya ingat sekali, dalam acara maulid, di Kekalik itu pasti ada wayang. Berbeda dengan sekarang, orang sudah bisa menyewa organ tunggal untuk menghibur masyarakat. Biayanya pun jauh lebih sedikit dari pada menghadirkan pertunjukan wayang,a�? jelas Latief.

Akan tetapi, walaupun tidak bisa mengembalikan wayang sebagai sebuah tontonan yang selalu ditunggu-tunggu seperti dahulu, gerakan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak ini menurut dia justru lebih dikhususkan bagi anak-anak dan remaja yang saat ini hampir tidak mengenal pertunjukan wayang sama sekali.

a�?Mereka yang belum pernah melihat pertunjukan wayang, akan tertarik ketika melihat teman-teman sebayanya yang memainkan permainan tersebut. Nah, ketika mereka sudah tertarik menonton, tinggal kita tawarkan untuk menjadi dalang. Oh, itu antusias anak-anak akan sangat tinggi,a�? ungkap pria berambut gondrong tersebut.

Sekolah Pedalangan Wayang Sasak berupaya untuk melestarikan wayang sasak yang hampir punah dengan memperkenalkan pertunjukan wayang ke anak-anak. Menurut Fitri Rachmawati, pengurus Sekolah Pedalangan Wayang Sasak yang ada di Sesele, kebanyakan anak pada awalnya mengira bahwa sekolah pedalangan ini akan bersifat formal. Akan tetapi, setelah anak-anak masuk, mereka akhirnya melihat proses pembelajaran yang menyenangkan.

Belajar menjadi dalang menurut Fitri tidak mudah. Dari 28 anak-anak yang belajar di sekolah saat ini, hanya ada tiga yang bertahan. a�?Yang lainnya akhirnya diarahkan ke musik. Itupun tidak mudah juga bagi anak-anak, bahkan bagi kami,a�? terang Fitri.

Fitri menambahkan bahwa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak yang berdiri tahun 2015 sampai sekarang ini belum ada apa-apanya. a�?Melangkah saja, kami baru angkat kaki, belum sampai menapakkan sebelah kaki yang kami angkat itu. Karena kami hanya mampu sampai dia mencintai dulu. Sekarang yang tersisa hanya 15 orang,a�? jelas Fitri.

Fitri berharap, ide untuk membuat Sekolah Pedalangan Wayang Sasak bisa disebarkan ke berbagai desa. Karena ia percaya, di setiap desa, ada anak yang dilahirkan sebagai dalang. a�?Selain itu, seharusnya pemerintah bisa bersama-sama melakukan gerakan semacam ini. Karena penting juga untuk memasukkan Wayang SasakA� ke dalam kurikulum di setiap sekolah. Dan pemerintah sebagai penentu kebijakan semestinya melihat peluang tersebut untuk kita bisa bersama-sama melestarikan Wayang Sasak,a�? tandasnya.

Adapun tahun ini, NTB tak mengirim satu pun dalang cilik untuk mengikuti Festival Dalang Bocah yang setiap tahun diadakan oleh Persatuan Perdalangan Indonesia (PEPADI) Pusat.

Menanggapi hal tersebut, Mamiq Rojaq pengurus PEPADI NTB mengatakan kurangnya koordinasi antara para pembina dalang dengan PEPADI menjadi salah satu penyebab ketidasiapan NTB untuk mengirim wakilnya tahun ini.

a�?Kita berharap akan sinergitas dari para Pembina Dalang. Jangan sampai mereka berjalan sendiri-sendiri saja. Sehingga tahun depan kita bisa mengirim wakil dalang dari NTB,a�? harapnya.

Pengenalan Wayang Sasak

Agar Wayang Sasak bisa tetap eksis di tengah masyarakat, maka perlu upaya pengenalan sejak dini kepada anak-anak. Sejak anak masih berada di Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP dan SMA harusnya sudah dikenalkan dengan tokoh-tokoh wayang. Misalnya tokoh Jayangrana, tokoh yang jujur dan polos dan seterusnya. Dengan demikian, meraka akan akrab dengan seni wayang sejak kecil.

a�?Sejak usia dini sudah kita kenalkan dengan wayang,a�? saran pria kelahiran 1944 itu.

Selain itu, pengenalan wayang juga bisa dilakukan melalui pemberian nama jalan dan tempat-tempat umum lainnya. Termasuk nama bus menggunakan nama tokoh wayang. Sehingga wayang tidak akan pernah asing dari telina generasi muda. Tapi kenyataanya, para pemuda di Lombok baru tahu wayang bila ada pentas-pentas saja. Mereka hanya menjadi penonton, tapi tidak pernah tahu lebih dalam tentang tokoh wayang.

a�?Kayak saya dahulu tidak ada paket pendidikan formal, hanya menonton, dan belajar otodidak. Tidak ada perguruan khusus,a�? tuturnya.

Karena tertarik dan jatuh cinta pada dunia wayang, ia akhirnya menekuni seni pewayangan hingga saat ini, serta bisa mencari nafkah dengan menjadi seorang dalang. Artinya untuk bisa menjadi dalang yang hebat harus dimulai dengan cinta, sehingga termotivasi untuk belajar.

Menurutnya, generasi dalang yang dicetak lewat pendidikan seperti saat ini tidak akan bertahan lama. Karena baginya seorang dalang tidak hanya pandai bermain wayang, tetapi jugaA� harus memiliki pengetahuan yang luas, memahami situasi sedang terjadi saat ini, bahkan seorang dalang juga perlu tahu undang-undang, mana yang salah dan mana yang benar.

a�?Ini penting sekali bagi seorang dalang sebagai pemeran tunggal dalam pertunjukkan wayang itu,a�? katanya.

100 Persen Berisi Dakwah

Wayang di Indonesia terbagi menjadi tiga, yakni Wayang Jawa, Wayang Bali dan Wayang Sasak. Wayang Jawa merupakan tontonan raja-raja zaman dahulu dan ditonton lewat belakang layar. Sumber ceritanya juga berbeda dengan wayang Sasak. Dimana wayang Jawa sumber ceritnya dari Mahabarata-Ramayana. Sementara wayang Sasak sumber ceritanya adalah Serat Menak, yang mengisahkan tentang Amir Hamzah, yang disadur oleh pujangga kerajaan Mataram Islam Yosodipuro II.

a�?Serat Menak menggunakan bahasa Jawa kuno,a�? kata Lalu Nasib.

Wayang Sasak menurutnya merupakan wayang dakwah, sebab merupakan alat yang digunakan murid Sunan Kali Jaga. Salah satu anggota Wali Songo untuk menyebarkan agama Islam ke daratan Pulau Lombok. Sehingga nuansa Islamnya sangat kental dalam cerita wayang Sasak. a�?Nuansa Islamnya itu 100 persen,a�? terang Lalu Nasib.

Berbeda dengan wayang Mahabarata-Ramayana menceritakan tentang dewa-dewa, tapi Serat Menak meceritakan tentang nabi-nabi. Lakon Amir Hamzah juga ada di Jawa hanya sudah jarang dimainkan karena kalah sama cerita Ramayana.

Berasal Dari Wayang Jawa A�

Hingga saat ini tidak ada catatan pasti tahun berapa seni wayang masuk ke Lombok. Tapi yang pasti Wayang Kulit Sasak tidak bisa dilepas dari sejarah islamisasi Pulau Lombok, Sunan Prapen dan para wali songo menggunakan seni wayang sebagai media untuk mengajarkan agama Islam. Selain itu wayang Sasak memiliki akar yang sama dengan Wayang Kulit Jawa.

M Yamin, budayawan NTB dalam bukunya menjelaskan, lakon-lakon wayang Sasak bertumpu pada kesusastraan Serat Menak. Lakon yang digubah dari Hikayat Amir Hamzah. Dimana, sosok Amir Hamzah adalah paman Nabi Muhammad yang sangat heroik ikut membela dan mempertahankan Islam dari gangguan dan serangan musuh-musuh Islam. Oleh Serat Menak, kepahlawanan Amir Hamzah diangkat menjadi tokoh sentral, dan kepadanya diberikan nama-nama baru, juga gelar sepetri Wong Agung Menak, Baginda Ambyah, Sang Menak Jayengdimurti dan lain-lain. Serat Menak tertua ditulis tahun 1669 M, tapi ada pendapat lain yang mengatakan ditulis tahun 1717 masehi.

a�?Kesusastraan wayang yang dipergunakan sebagai babon dan sumber cerita wayang Sasak, semuanya menunjuk ke satu arah yaitu wayang Jawa,a�? tulis Yamin.

M Yamin menyebutkan, masa keemasan wayang Sasak diperkirakan berakhir pada dekade tahun 1950-an. Pada masa-masa sebelum itu, banyak dijumpai di desa-desa ada perkumpulan wayang yang memiliki sarana parsarana lengkap. Partisipasi masyarakat dan apresiasi mereka terhadap wayang sangat tinggi, sehingga para dalang tidak cemas dengan masalah biaya, sebab selalu ada penyandang dana. Kondisi itu tentu kini sudah berbeda. Dalam hal ini, peran pemerintah dianggap sangat penting untuk menfasilitasi dan menyediakan anggaran untuk membantu kesenian Wayang Sasak.

Tokoh-Tokoh Wayang Sasak

Dalam Wayang Sasak, penokohan biasanya dibagi menjadi dua yakni wayang kanan dan wayang kiri. Untuk wayang kanan, tokoh utamanya adalah Wong Agung Menak Jayangrana, Dewi Muninggarim permaisuri tertua Jayangrana, kemudian ada Banjar Sari atau Repatmaja salah satu putra Jayengrana. Ada Maktal, pendamping Jayengrana, Umar Maya pendamping setiap Jayengrana, Syeh Tambi Jumiril bapak Umar Maya. Tokoh wayang kanan lainnya yang terkenal juga ada Selandir raja Relan, Betaljemur tokoh peramal, Umar Madi raja Kohkarib, juga ada Sekardiyu tunggangan Jayengrana.

Kemudian untuk tokoh kiri ada, Prabu Nusirwan yang merupakan mertua dari Jayengrana dan Raja Madayin, Mahapatih Baktak seorang tokoh pengacau, Prabu Rum, Prabu Gulange, Jabiulawal Raja Dayak, Prabu Swa Pangundrus, Prabu Mina Lodra, Patih Jindi dan sebagainya. Tokoh-tokoh inilah yang dimainkan dalam Wayang Sasak. (ili/cr-tih/r8)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost