Lombok Post
Headline Selong

Ali BD Dukung Ojek di Rinjani

PELUANG USAHA BARU: Sejumlah kendaraan milik para pengojek di sekitar Pos II jalur pendakian Sembalun belum lama ini. ZULHAKIM/ LOMBOK POST

SELONG-Pro kontra terkait keberadaan ojek Rinjani kini tengah menjadi perdebatan. Meski ditolak sejumlah kalangan, keberadaan ojek ini hingga saat ini tetap beroperasi. Pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menegaskan keberadaan ojek menyalahi aturan. Namun demikian, masyarakat Sembalun ngotot tetap operasional melayani permintaan pendaki. Menyikapi stuasi ini, Bupati Lotim Ali BD pun angkat bicara.

“Saya setuju orang ngojek sampai puncak Rinjani. Itu namanya pariwisata, emang pengojek rusak apa?” ujar Ali BD kepada Lombok Post kemarin (13/9).

Ali BD meminta agar pihak TNGR tidak selalu mengedepankan aturan untuk memperkarakan persoalan dengan masyarakat. Melainkan bagaimana mencari solusi agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”85″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

“Saya bilang mereka itu bukan pengacara. Jadi jangan sedikit-sedikit dibawa ke perkara,” jelasnya.

Meski banyak yang melarang, menurutnya masyarakat yang paling merasakan dampaknya. Sehingga, apapun yang terjadi saat ini yang terpenting bagi Ali BD adalah bagaimana itu bisa membawa manfaat bagi masyarakat. “Mereka yang ngojek itu karena nggak kuat jalan kaki ya. Jadi harus manfaatkan teknologi,” jelasnya singkat.

Sementara pihak TNGR Resor Sembalun menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengizinkan operasional ojek di kawasan pendakian Rinjani. Hanya saja, kondisi ini diakui Kepala TNGR Resor Sembalun Zainudin sudah berlangsung lama. Namun baru-baru ini mencuat ke permukaan.

“Mereka sudah kami kumpulkan dan sosialisasi bahwa ojek ini ilegal karena melanggar aturan. Tapi karena ini sudah lama itu berlangsung jadi tidak bisa serta merta kami menghentikan,” jelasnya.

Apalagi, para pengojek Rinjani ini dikatakan Zen, sapaannya adalah masyarakat yang setiap hari berinteraksi dengan A�petugas TNGR Resor Sembalun. Sehingga, untuk menegakkan aturan larangan ojek ini ia merasa pihaknya serba salah. “Kami masih cari jalan terbaik, insya Allah lama-lama berhenti kok mereka,” akunya.

Pihak TNGR mengaku telah mengumpulkan para pengojek Rinjani. Menjelaskan bahwa aktivitas mereka ilegal. Khusunya jika menyebabkan kecelakaan atau kejadian yang tidak diinginkan, maka pihak TNGR yang dianggap paling bertanggung jawab.

“Lengkap nggak operasional motor yang digunakan. Kemudian lintasannya dengan jalur pendakian bagaimana itu kan semua harus diatur,” jelasnya.

Diketahui para pengojek ini telah membuat lintasan sendiri hingga Pos 2 Sembalun. Itu juga dibuat di sebelah jalur pendakian tanpa ada koordinasi dengan pihak TNGR. Beberapa masyarakat yang menjadi pengojek ini berasalasan aturan yang ada memperbolehkan operasional jasa transportasi di kawasan taman nasional. “Memang diperbolehkan jasa transportasi di Taman Nasional tapi itu yang tidak bermesin misalnya seperti perahu. Silahkan ikui aturan yang ada. Kami juga sudah ingatkan, jadi jangan salahkan kalau kami bertindak,” ucapnya.

Terkait tindakan apa yang akan dimabil pihak TNGR menghadapi situasi ini Zen mengaku itu tergantung dari kebijakan pimpinannya.

Sementara itu, salah satu pelaku usaha Trekking Organiser di Sembalun Royal Sembahulun memberikan tanggapannya. Menuruttnya, pihak yang yang melarang keberadaan ojek Rinjani ini itu tidak tahu bagaimana kebutuhan masyarakat Sembalun.

Ia juga menjelaskan di PP 12 tahu 2014 itu dilembaran nomor 24 tentang jasa transportasi diperbolehkan.

A�”Menurut saya tidak ada PP yang tidak membolehkan. Kalau mau berbicara boleh atau tidakjadi mari kita kaji berdasarkan pendapat para ahli,” ucapnya.

PihakTNGR menurutnya tidak boleh egois hanya memikirkan pemasukan untuk negara dan mengenyampingkan peluang masyarakat lokal mendapat pemasukan dari keberadaan Rinjani.

“Saya yakin tujuan pariwisata itu adalah bagaimana memberdayakan masyarakat di sekitarnya,” tegasnya.

Dengan adanya ojek Rinjani, ia mengungkapkan bahwa perlahan pemasukan masyarakat bertambah. Tenaga porterpun bisa mulai berkurang namun tetap bisa melayani wisatawan yang membutuhkan mereka. “Saya juga di awal sempat menolak ojek ini. Karena saya pikir ini akan menutup peluang porter Rinjani,” bebernya.

“Namun saya lihat porter bisa beralih ke usaha ini dan penghasilannya pun cukup menjanjikan dengan tenaga yang tidak secapek menjadi porter. Makanya saya berpikir kenapa tidak kalau ini memang bisa memberi manfaat ekonomi bagi mereka,” sambungnya.

Ongkos ojek untuk mencapai pos 2 jalur pendakian Rinjani diungkapkan Royal, sapaannya berkisar Rp 150 ribu. Banyak warga yang sudah merasakan manfaat peluang usaha ini. “Porter itu tidak bisa selamanya, tenaga masyarakat itu terbatas. Tapi dengan ini mereka bisa lebih mudah melayani para pendaki yang membutuhkan jasa mereka,” tandasnya. (ton/r2)

 

Berita Lainnya

Tenaga Pemetaan BPS Terlindungi Program BPJS Ketenagakerjaan

Redaksi Lombok Post

Siswa BLK Menjadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Redaksi Lombok Post

Tetaplah Akur Zaitun! Fauzan Fokus Bangun Industri, Sumiatun Janji Kembangkan Pariwisata

Redaksi LombokPost

KPU Laksanakan Rekomendasi Bawaslu

Redaksi LombokPost

Ratusan Guru Jadi PPS dan PPK

Redaksi LombokPost

Ketika Amaq Marisah Terpaksa Membawa Anaknya Mengemis di Pinggir Jalan

Redaksi LombokPost

Puluhan Petugas KPPS dan PPS “Tumbang”

Redaksi LombokPost

Baru Empat Sekolah UNBK Mandiri

Redaksi LombokPost

13 Ahli Waris Non ASN Kemensos RI Terima Santunan BPJSTK

Redaksi Lombok Post