Lombok Post
Selong

Harga Garam Mulai Turun, Petani Kembali Merintih

MERINTIH: Sadati, 70 tahun, petani garam asal Desa Batu Nampar Selatan saat menyisihkan garam dari tambak Selasa (12/8) lalu. TONI/LOMBOK POST

SELONG-Harga garam beberapa bulan lalu sempat mengalami lonjakan cukup tinggi. Namun, lonjakan harga tersebut kembali mulai normal cenderung mengalami penurunan. Akibatnya, petani garam punA� mulai merintih merasakan dampak turunnya harga garam ini.

“Kalau sebelumnya harganya per karung diambil di lokasi itu tembus Rp 400 ribu. Tapi bulan ini sudah mulai turun sampai harga Rp 150 ribu,” terang Inaq Hasan salah seorang petani garam asal Desa Batu Nampar Selatan, Lotim.

Harga ini memang terbilang cukup rendah karena garam yang dihasilkan masih belum diolah sampai halus. “Nanti pembelinya yang mengolah termasuk memberikan yodium,” tuturnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”85″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Kondisi harga garam yang turun ini pun seolah menghapus senyum para petani garam. Karena, sebelumnya mereka yang bisa mendapatkan penghasilan manis dari garam kini kembali merasakannya asinnya hidup.

Per dua bulan, para petani garam ini mengaku bisa panen tiga kali. Dimana masing-masing tambak bisa menghasilkan sekarung garam. Nantinya, hasil penjualan garam ini pun dibagi dua dengan pemilik tambak garam. “Saya garap enam tambak, itu hasilnya 18 karung per dua bulan atau sembilan karung perbulan. Dibagi dua sama pemiliknya,” tutur Sadati, suami Inaq Oden.

Dengan harga garam yang saat ini berkisar harga Rp 150 per karung, otomatis ia hanya mampu mengantongi penghasilan sekitar Rp 600-700 ribu per bulan. Meski tidak cukup, penghasilan ini pun mau tidak mau harus diterima.

“Hanya saja kondisi tubuh kita yang sudah tidak sama lagi seperti dulu. Kadang rasanya cepat capek dan pegal badan ini. Padahal untuk mengurus garam ini harus sepanjang hari,” ucap Sadati yang kini menginjak usia 70 tahun.

Belum lagi, para petani garam mengaku terancam kehilangan pekerjaannya menjelang tibanya musim hujan. Karena, ketika musim hujan tiba, mereka tidak bisa lagi menghasilkan kristal garam yang membutuhkan panas matahari. “Ya terpaksa nganggur kalau musim hujan. Karena kan garam tidak bisa dihasilkan,” akunya.

Harapan mereka kini hanya satu, pemerintah bisa membantu para petani garam untuk meningkatkan taraf kesejahteraan ekonomi mereka. Mereka berharap harga garam bisa tinggi seperti yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. “Kalau bisa pemerintah juga jangan mengimpor. Berdayakan garam para petani seperti kami ini,” harap Amaq Sadati.

Selain untuk memenuhi kebutuhan garam dapur warga Lotim, garam-garam produksi petani Batu Nampar Selatan ini juga diungkapkannya dikirim ke Lombok Barat. “Banyak pengusaha Lombok Barat yang datang ke sini mengambil garam ini,” tandasnya. (ton/r2)

 

Berita Lainnya

Mengintip Mobil Perpustakaan Keliling Baru DPK Lotim

Redaksi LombokPost

Keluh Kesah PKL di Eks Taman Rinjani Selong

Redaksi LombokPost

SAS Divonis Tujuh Tahun Penjara

Redaksi LombokPost

Pengerukan Kolam Labuh Dermaga Labuhan Haji Rampung

Redaksi LombokPost

Pemkab Lotim Beri Dukungan Penuh Pencabutan Pagar Pembatas di Pantai Tampah Boleq

Redaksi LombokPost

Tak Ada Hewan dari Sumbawa yang Boleh Masuk ke Lombok

Redaksi LombokPost

2019, Jatah Kelurahan Dipangkas

Redaksi LombokPost

RSUD Selong Ambil Alih Pengelolaan Parkir

Redaksi LombokPost

Gizi Buruk Butuh Penanganan Sejak Dini

Redaksi LombokPost