Lombok Post
Headline Metropolis

Ini Suara Mereka Wahai Calon Gubernur : Rakyat Jelata Ingin Sejahtera

Rakyat jelata tidak butuh janji muluk. Mereka hanya ingin pemimpinnya amanah, bukan membuat hidup tambah susah. Ingin terus disapa, bukan disekat penguasa. Dan tentunya hidup lebih sejahtera.A�A�

———————

Dua orang sopir duduk santai di pos satpam kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Sambil mengisap sebatang rokok, Fauzan salah satu diantaranya menanyakan segala hal kepada Asman, sahabatnya sesama sopir kampus. Mulai soal pekerjaan, masalah keluarga, honor, sampai akhirnya wartawan Lombok Post nimbrung dan perbincangan pun berganti topik.

Mereka ternyata sangat antusias dengan topik terakhir ini. Tentang siapa sosok calon gubernur yang akan terpilih di 2018 nanti.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Fauzan pesimis. Ia tidak ingin terlalu menggantungkan harapannya pada calon gubernur mendatang. Belum ada gambaran dalam benaknya siapa yang akan dipilihnya nanti. Mesikpun gambar-gambar calon seperti H Ahyar Abduh, H Suhaili FT, Hj Rohmi Djalilah, Ali BD, Dr Zulkieflimansyah dan calon lain sering dilihat di baliho. Ia belum tahu siapa yang akan dipilih.

Tapi sebagai warga biasa, bapak dua anak asal Ampenan itu memiliki pandangan sendiri. Baginya, sosok pemimpin harus orang yang amanah, tepat janji, dan tidak melupakan rakyat yang sudah memilihnya. Ia tidak mau calon gubernur yang mengobral janji, tapi setelah naik jabatan, hilang. Seperti kebanyakan anggota dewan.

a�?Ibarat kita dorong mobil mogok, kalau sudah jalan tinggal asapnya saja,a�? kata Fauzan sembari tertawa lepas, disambut tawa Asman.

Hari semakin siang, perut Asman mulai keroncongan. Ia membuka nasi bungkus yang sudah disediakan untuknya. Sambil menyuap nasi, Asman juga tidak ingin ketinggalan dalam perbincangan itu. Pria asal Kopang Lombok Tengah ini mengaku, sebagai seorang sopir, ia tidak paham dunia politik. Siapapun yang terpilih, ia terima.

Ia berharap, Gubernur NTB ke depan adalah sosok yang merakyat. Tidak susah dikunjungi. Kalau diundang di acara warga, mereka mau datang untuk bersilaturrahmi. Tidak perlu ada acara khusus, sekedar datang jumatan di masjid saja baginya sudah sangat bagus. Warga akan merasa dekat dengan pimpinannya, tanpa ada sekat yang terlalu jauh.

a�?Jangan datang pas kampanye saja,a�? harap bapak tiga anak itu.

Tidak Butuh Banyak Janji

Seorang pemimpin tidak usah terlalu banyak janji, apalagi programnya terlalu wah, ia tidak suka. Sebab jika terlalu banyak janji Ia pesimis bisa dilakukan, malah hanya akan memberikan harapan palsu. Seperti program sekolah gratis, meski capnya gratis tetap saja banyak biaya yang harus dibayar orang tua.

Mereka beruda juga ingin agar pemimpin mampu mengatasi masalah kemacetan akibat nyongkolan. Sebagai sesama sopir, mereka kerap dibuat jengkel dengan kemacetan di jalan raya gara-gara iring-iringan budaya nyongkolan.

a�?Pas kita bawa tamu (wisatawan) dari luar, sering sekali terjadi macet,a�? keluhnya.

Beda halnya dengan Subardi, buruh bangunan asal Desa Bakan, Lombok Tengah. Saat ditemui di salah satu proyek di Jalan Pendidikan, sorot mata pria itu tajam dengan kulit menghitam tersengat sinar matahari.

Awalnya ia sulit bicara saat ditanya soal sosok gubernur, tapi saat ditanya nasib, ia langsung bersemangat.

Subardi menginginkan gubernur nanti bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak, sehingga Ia tidak lagi kesulitan mencari kerja. Selama ini, bapak dua anak itu selalu kesulitan uang untuk menghidupi keluarga. Ia hanya mendapat pekerjaan saat musim tanam dan panen padi, dengan upah Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu setiap dapat borongan. Itu hanya cukup untuk makan, beli beras, dan sebagainya.

Ia akan kembali nelangsa jika musim kemarau seperti saat ini, Ia kerap kali menganggur. Tidak ada pekerjaan sama sekali di kampungnya. Sampai akhirnya ia harus merantau ke Bali menjadi buruh bangunan, jika telaten dalam dua bulan ia baru dapat Rp 2 juta. Setelah proyek selesai, ia pun kembali bingung mau mengerjakan apa.

a�?Maunya gubernur nanti bisa buka banyak lapangan kerja, banyak proyek-proyek kita bisa dilibatkan,a�? harapnya.

Kini anaknya sudah masuk SMP, ia bersyukur mendapat Kartu Indonesia Pintar, sehingga biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. a�?Anak saya dapat rangking terus di kelas, makanya saya mau sekolahkan terus,a�? kata pria yang hanya lulusan SD itu.

Sosok gubernur yang melindungi pedagang kecil sangat diharapkan pedagang kaki lima (PKL). Seperti Muliati, penjual singkong keju di Jalan Yos Sudarso Ampenan. Ia ingin, siapapun gubernur yang terpilih, harus melindungi PKL dari ancaman penggusuran. Selama ini, kekhawatiran yang selalu menghantui PKL hanya ancaman penggusuran. Meski tidak pernah diangkut seperti pedagang lain, tapi ia kerap mendapat peringatan tidak berjualan di pinggir jalan.

a�?Kami takut kalau dilarang jualan, soalnya saya sama suami bekerja di sini berdua, tidak ada yang lain,a�? kata ibu tiga anak itu.

Siang dan malam, Ia dan sang suami secara bergantian jualan. Dari pagi hingga siang suaminya yang jualan. Sementara dari siang hingga malam, giliran dia. Penghasilannya sebagai penjual singkong keju tidak seberapa, tetapi bisa menyekolahkan dua anaknya di SD dan satu di TK.

a�?Kalau kami digusur-gusur dari mana kami dapat makan,a�? ungkapnya.

A�Butuh Lapangan Kerja

Sementara Sahnan, tukang parkir asal Lingkungan Selaparang, Kelurahan Banjar menginginkan gubernur yang bisa membuat rakyatnya aman tentram. Kalau memberikan janji maka harus ditepati. Tidak sekedar menjadi pemanis saja. a�?Janji palsu saja kita di kasih,a�? keluhnya.

Ia juga berharap sosok gubernur nanti bisa membuka banyak lowongan pekerjaan. Sehingga mereka dengan mudah dapat kerjaan. Di lokasi tempatnya markir, ia bukan juru parkir asli, mereka bergantian dengan empat orang. Sehari hanya bisa mendapatkan Rp 30 ribu.

Menurutnya, jika banyak lapangan pekerjaan, maka rakyat jelata pasti akan lebih senang. a�?Kalau banyak pengangguran, nanti banyak maling,a�? ujarnya.

Sementara Muhammad Zen, tukang jam di Kota Tua Ampenan menginginkan gubernur yang memperhatikan rakyatnya. Jika kesulitan ekonomi, maka pemimpin harus memberikan bantuan.

Bantuan bisa dalam bentuk modal usaha, sebab selama ini mereka mengaku belum pernah merasakan nikmatnya bantuan modal. Jika diberikan modal tentu usaha mereka bisa sedikit terbantu.

Para tukang jam dan sol sepatu di kawasan Kota Tua memang dibiarkan apa adanya. Nampak kumuh dan terkesan tua sesuai dengan tembok-tembok tua di belakang mereka. a�?Maunya kita diberikan bantuan modal,a�? harap Zen.

Sosok gubernur juga harus mampu mengerti keinginan rakyatnya. Mereka harus punya rasa empati dan simpati agar bisa merasakan kesulitan yang dihadapi warga. Bukan diberikan janji-janji yang sangat terasa klise bagi rakyat kecil seperti dirinya.

a�?Pokoknya ngerti sama rakyat saja,a�? harap Sadrun, tukang sol sepatu asal Desa Ireng, Lombok Barat.

Para penjual buah di Pasar ACC juga menginginkan sosok gubernur yang peduli dengan nasib rakyatnya. Sehingga warga tetap merasa aman, sejahtera, banyak uang, dan sama-sama bisa makan.

Saat Lombok Post berkunjung ke salah satu lapak, dua orang pedagang sedang cek cok gara-gara uang Rp 1.000. Mereka teriak-teriak dengan omelan khas ibu-ibu pasar. Pemandangan itu menjadi hal biasa bagi Heni, salah seorang pedagang buah di Pasar ACC.

a�?Saya ingin gubernur yang jujur! Semua jujur, tidak ada korupsi,a�? kata ibu lima anak itu.

A�Rakyat Sering Dilupakan

Tapi bagi Mawariah, pedagang lainnya di lokasi tersebut mengaku siapapun yang menjadi gubernur sama saja. Tidak ada perubahan! Sekolah tetap mahal, bantuan juga tidak pernah didapatkannya. Hasil jualan Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu setiap hari, kembali diputar untuk modal dan makan keluarga.

a�?Saya mau pemimpin yang biasa saja, tidak bikin rakyat susah,a�? harapnya.

Kesusahan kerap dialami warga saat harga barang kebutuhan pokok naik. Karenanya, Saharudin, salah seorang tukang parkir mengaku ingin gubernur yang bisa menurunkan harga kebutuhan pokok. a�?Kalau harga naik kita susah total, tidak dapat beli beras,a�? keluh pria 66 tahun itu.

Hal senada diungkapkan Inaq Hanifah. Sebagai ibu rumah tangga biasa, Ia ingin gubernur mampu menjamin harga kebutuhan pokok. Sehingga ibu-ibu tidak kelimpungan saat sembako naik.

Ia juga mengeluhkan kondisi harga sembako belakangan ini yang kerap turun naik. a�?Yang penting pemimpinnya bagus,a�? katanya tersenyum.

Sementara Rusni, kusir cidomo asal Sandik, Lombok Barat mengaku tidak mengerti tentang politik, apalagi saat ditanya tentang gubernur, pria tua itu agak bingung.A� a�?Yang penting gubernurnya bisa membuat aman. Rakyatnya tidak ribut,a�? harapnya, sambil duduk di atas cidomo miliknya.

Rasa aman baginya sangat dibutuhkan karena keributan kerap terjadi di desanya, karena para pemuda banyak yang jadi pengangguran. Sebagai kusir cidomo, mereka juga mau diperhatikan agar tidak kesusahan.

Kemal, kusir cidomo lainnya mengaku menginginkan sosok gubernur yang biasa-biasa saja. Tapi tetap memperhatikan nasib warga kecil seperti dirinya. Mengerti kesulitan yang dihadapi warga, sehingga kebijakannya itu tidak memberatkan mereka.

A�Mengerti Keinginan Nelayan

Harapan setinggi langit juga diharapkan para nelayan. Mereka yang selama ini kerap menjadi simbol kemiskinan di Kota Mataram menginginkan gubernur yang memberikan solusi bagi kesulitan nelayan. Terutama saat musim angin barat, nelayan di Ampenan pasti menganggur. Sehingga itu menjadi masa-masa paling sulit bagi mereka.

a�?Kami mau gubernur yang mengerti nelayan, dan berpihak pada nelayan,a�? harapnya, Suparwan, nelayan asal Karang Panas Ampenan Tengah.

Saat ini banyak kapal-kapal besar beroperasi menangkap ikan menggunakan alat besar, sementara mereka hanya bisa menggunakan alat sederhana. Penyaluran bantuan yang kerap diberikan juga harus tepat sasaran, sebab selama ini hanya ketua kelompok saja yang mudah mendapatkan.

a�?Kami maunya kalau ada bantuan langsung diberikan ke nelayan,a�? ujarnya sambil menggulung jaring ikan yang baru saja digunakannya melaut.

Pria terakhir yang ditemui Lombok Post, adalah kakek Muhammad, buruh tani yang sedang memanen padi di sawah Lingkungan Mapak Indah. Ia nampak ragu saat menjawab beberapa pertanyaan, kata-kata yang diucapkannya terdengar kurang jelas.

Dengan calana dan sebagian baju dilumuri lumpur, Muhammad berjalan dan hanya mengatakan, selama ini dia belum pernah mendapat perhatian dari gubernur. Bahkan berkunjung ke kampungnya di Montong Goak, Desa Tisi, Pringgarata. Selama ini ia hidup sederhana dengan upah Rp 20 ribu per hari.

a�?Tidak tahu.a�? Hanya itu kata yang diucapkan saat ditanya siapa gubernur pilihannya. (sirtupillaili/r5)

 

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost