Lombok Post
Headline Metropolis

Jasad Aria Ditemukan Mengeras di Pondasi Jembatan

BENTUK KASIH SAYANG: Kurniawati mencium jenazah anaknya di rumah duka, Pejeruk, Dasan Agung, Kota Mataram, Senin (18/9). Ivan/Lombok Post

MATARAM-Warga Dasan Agung geger. Sesosok mayat bocah ditemukan di dasar pondasi jembatan yang tengah dibangun di wilayah perbatasan Kelurahan Dasan Agung dengan Dasan Sari. Mayat bocah itu ditemukan pertama kali oleh salah satu pekerja proyek dari CV Limbu Indah atas nama Junaidi.

Kronologinya, saat itu Junaidi hendak menyedot rembesan air yang memenuhi lubang pondasi jembatan di sebelah selatan atau wilayah Dasan Agung. Penyedotan perlu ia lakukan untuk kembali melanjutkan pengerjaan pemasangan pancang besi pondasi.

a�?Saya baru mau masukan tabung penghisap ke dasar pondasi, tiba-tiba dikejutkan kepala yang menyembul dari lubang yang telah berubah jadi kubangan lumpur dan batu apung,a�? kata Junaidi.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Belakangan, bocah itu diketahui bernama Aria Saputra. Ia baru berusia 5,3 tahun. a�?Kedalaman lubang mencapai tiga meter. Di dasarnya ada banyak lumpur dan batu apung. Mungkin karena itu ia kesulitan berenang,a�? duganya.

Ia sendiri mengaku syok dengan kejadian itu. Namun segera meminta bantuan warga sekitar untukA� mengenali jasad bocah itu. Sampai akhirnya diketahui, jasad itu merupakan Aria, bocah yang dicari sejak Minggu malam.

Junaidi lalu menuturkan, jika kawasan itu kerap dijadikan anak-anak untuk bermain dan mandi. Kebetulan di tempat itu, kondisi airnya lebih dangkal. Junaidi menuturkan jika pihaknya sudah terlalu sering memperingatkan anak-anak agar tidak mendekati lubang.

a�?Ya sudah sering kita ingatkan, tapi namanya anak-anak susah juga,a�? jelasnya.

Namun ia mengakui, line pembatas proyek baru di pasang setelah mayat Aria di temukan di dalam lubang itu. Kejadian jatuhnya bocah itu ia perkirakan setelah pulang dari tempat proyek.

a�?Kalau kami selama di sini, pasti kita larang mendekat. Tetapi di atas jam 5 sore kami semua pulang,a�? terangnya.

Sementara itu, Mandor Proyek Imran tak menampik line pembatas dipasang setelah bocah Aria ditemukan di dalam lubang pondasi itu. Hanya saja, ia menepis tudingan teledor memasang rambu-rambu proyek sejak jauh-jauh hari.

a�?Sebenarnya dari kemarin kita pasang, tapi ya namanya anak-anak (mereka rusak line pembatas itu),a�? dalih Imran.

Kerusakan line pembatas itu rupanya tidak ditindak lanjuti dengan cepat. Sehingga ia harus mengakui bocah Aria masuk ke dalam kubangan itu dalam kondisi tidak ada line pembatas.

a�?Iya (belum di pasang), makanya kita pasang lagi tadi,a�? ungkapnya.

Sementara itu, di rumah duka Ibu Aria (alm), yakni Kurniawati tak kuasa menahan sedih. Matanya terlihat sembab oleh tangis. Saat berbincang dengan Lombok Post, Kurnia terlihat sudah bisa mengendikan emosi. Walau suaranya masih terdengar serak.

a�?Dia bocah yang mandiri,a�? kenang Kurnia dengan suara sedih.

Walau masih bocah, rupanya Aria tidak suka merepotkannya. Ia mencontohkan saat anaknya selesai makan, lebih memilih untuk mencuci piringnya sendiri dari pada dicuci ibunya. Begitu juga dengan pakaiannya.

a�?Saat saya larang ia selalu bilang, a�?nggak usah capek-capek mamak nyucia��,a�? tirunya dengan raut wajah berubah. Kurniawati menahan rasa haru yang sangat mendalam.

Sebelum anaknya hilang Minggu itu, pada pagi harinya ia mengingat sempat menegur Aria. Karena rupanya anak semata wayangnya itu lebih memilih bermain dari pada menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ngajinya.

a�?Saya bilang ke dia, kalau main waktunya panjang. Kalau belajar waktunya pendek,a�? omelnya.

Ia mengakui nada suaranya sedikit keras. Hingga membuat Aria mengerjakan PR-nya sambil menangis. Tetapi itu bukan kali pertama ia mengingatkan Aria agar lebih dulu mengerjakan PR sebelum bermain.

a�?Setelah nangis, ia keluar main dengan teman-temannya seperti biasa. Lalu pulang makan sekitar jam 12. Baru sekitar jam 3 sore, dia keluar lagi tapi gak pulang-pulang,a�? kenangnya.

Kurnia mengaku gelisah setelah hingga pukul 5 sore, Aria tidak kunjung pulang. Beberapa teman sebaya yang selama ini kerap jadi teman Aria bermain sempat ia tanyakan. Beberapa diantaranya ada yang memberi keterangan sudah mengajak Aria pulang setelah bermain di Sungai.

a�?Tetapi katanya Aria tidak mau pulang,a�? ujarnya dengan nada suara berat menahan tangis.

Dibantu sejumlah tetangga Kurnia lalu mencari Aria ke sungai. Tapi anak semata wayangnya itu, tidak ia temukan. Ia lalu berinisiatif mencari ke tempat lain. Tetapi karena tidak kunjung ketemu, Kurnia lalu berinisiatif melapor ke Polisi.

a�?Sudah lapor juga ke Polsek Mataram. Hingga malam hari kami terus mencari. Sampai saya ndak bisa tidur,a�? jelasnya.

Tetapi pagi harinya sekitar pukul 8.30 wita, salah seorang tetangganya yakni Muhtar datang dengan membawa mayat anaknya. Kurnia seketika berteriak. Menangis histeris.

Sementara suaminya Sutawadia, saat dikabari tengah berada di Kalimantan. a�?Bapaknya hanya bisa nangis setelah dikabari,a�? tuturnya.

Seingat Kurnia, anaknya keluar bermain dengan 5-6 bocah seusianya. Ia juga acap kali mendengar anaknya sering bertengkar dengan teman-teman bermain. Tapi menurutnya pertengkaran itu wajar.

a�?Ya kelahi biasa. Setelah itu baikan lagi,a�? jelasnya.

Saat anaknya dibawa oleh tetangganya Muhtar, ia sempat melihat ada luka sobek di dekat telinganya. Ia menduka itu akibat terkena tiang pancang fondasi jembatan.

a�?Dia memang periang dan cerewet, tapi sebenarnya penurut. Dia suka film Dono,a�? kenang Kurnia dengan pandangan menerawang kosong.

Ia yakin anaknya tidak ikut mandi di sungai. Sebab ia tahu betul perangai anaknya yang pemalu. a�?Apalagi sampai kelihatan badannya, ia malu,a�? jelasnya.

Ketika ditawarkan otopsi oleh kepolisian, Kurnia sempat menolak. Namun ia kembali berfikir ulang dan harus membicarakan lagi dengan keluarga besarnya.

Sementara itu, Aparat Kepolisian sudah terlihat turun dan melakukan pengumpulan data di lapangan. Iptu Wahyu Trisetiawan dari SKPT Polres Mataram saat ditemui di TKP mengatakan, pihaknya masih mendalami kasus ini. Sehingga untuk sementara belum bisa mengambil kesimpulan.

a�?Apakah ada faktor kelalaian kontraktor, kesengajaan atau murni masalah. Jadi kita perlu tindak lanjuti,a�? ujar Wahyu irit. (zad/r5)

 

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost