Lombok Post
Metropolis

Pelapor Harus Dibuat Nyaman!

GESTUR: Psikolog NTN Pujiarrohman (baju batik) menjelaskan bagaimana cara mengorek informasi dari pelapor yang memiliki tekanan mental besar agar mau menceritakan kasusnya di Ruang Kenari, Kantor Wali Kota Mataram, Senin (18/9). Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM-Banyak laporan kasus kekerasan pada perempuan atau anak justru menemui titik buntu. Sebab sejumlah korban enggan menceritakan persoalan mereka. Alasannya, mereka malu atau tertekan.

Misalnya pada kasus pelecehan seksual. Salah satu pendamping konseling di Puskesmas Ampenan Nana Mardiana menceritakan, ia pernah menghadapi pelapor yang hanya menangis dan buang-buang waktu sampai tiga jam. a�?Padahal waktu saat itu sudah mau Magrib, tapi pelapor menangis saja. Kami jadi bingung mau harus ngapain,a�? tutur Nana.

Belakangan diketahui, wanita itu korban kekerasan seksual. Ia baru mau mengaku setelah pihaknya menggunakan nada tinggi dan sedikit mengancam. Jika ia tidak segera bercerita, maka orang tuanya akan dipanggil. a�?Makanya kami ingin tahu, apakah cara kami ini salah. Atau ada cara yang lebih baik lagi,a�? ujarnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Persoalan yang dihadapi Nana mewakili beberapa kejadian serupa di tempat-tempat lain. Baik yang dihadapi langsung oleh lembaga pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Karena itu, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Dinas Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, memberikan bimbingan teknis. Lembaga ini mendatangkan psikolog berpengalaman dari Nusa Tenggara Nusantara (NTN) Pujiarrohman.

Dalam pemaparannya, Puji menuturkan pentingnya membuat korban merasa nyaman terlebih dahulu. a�?Saya sering menemui korban yang enggan berterus terang, bahkan menyampaikan informasi tidak akurat. Tapi memang ada teknik untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan,a�? terang Puji.

Salah satu teknik yang digunakan yakni dengan membuat korban menjadi nyaman. Dan itu ada teknik-tekniknya. a�?Banyak penerima laporan karena tidak sabar mengorek informasi, justru potong kompas dengan cara yang kurang tepat. Baik dengan membentak atau mengancam korban,a�? tuturnya.

a�?Saya sering diminta bantuan teman-teman Polda untuk mengorek informasi. Tidak hanya, informasi dari korban, bahkan pelaku yang cenderung protektif,a�? tambahnya.

Sementara itu, Kepala DP3A Kota Mataram Hj Dewi Mardiana Ariany mengatakan, untuk lebih banyak menangkap keluhan dari masyarakat, DP3A selama ini bekerja sama dengan Puskesmas dan LSM. a�?Tapi tidak semua punya kopetensi atau kemampuan untuk mengorek informasi,a�? kata Dewi.

Karena itulah, Bimbingan Teknis (Bimetek) perlu diberikan. Sehingga, para konselor yang ditugaskan di Puskesmas dan LSM bisa mendapatkan informasi yang akurat untuk menindak lanjuti kasus yang dilaporkan.

a�?Tadi secara teknis juga sudah dipaparkan oleh Pak Puji, misalnya kita hanya boleh berempati bukan bersimpati,a�? jelasnya.

Begitu juga kesabaran yang harus dimiliki para konselor dalam menggali informasi. Namun pada prinsipnya lanjut Dewi, persoalan kekerasan pada perempuan dan anak, memang harus melibatkan banyak pihak.

a�?Seperti kasus Hafiz kita dari DP3A tidak hanya ke sekolah, tetapi juga kita beri bantuan Psikologi untuk dampingi kasus Hafiz saat itu,a�? imbuhnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost