Metropolis

Kantong Kemiskinan Kota Ada di Pesisir

MATARAM-Dari data Badan Pusat Statistik Kota Mataram, jumlah penduduk miskin berhasil ditekan ke angka 9.80 persen. Capaian ini seperti pecah telur setelah berkutat di angka dua digit. Semakin sedikit jumlah penduduk miskin yang tersisa, semakin berat mengatasinya.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh bahkan sampai mengakui hal ini. Walau catatan di bawah satu digit cukup menggembirakan, tetapi Ahyar terlihat tak ingin jemawa. a�?Menurut kami angka 9,8 persen itu masih cukup banyak juga,a�? kata Ahyar kalem.

Karena itu, ia masih harus menyiapkan berbagai program pengentasan. Baik yang bedampak langsung atau secara tidak langsung.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Program pengentasan langsung, seperti bedah rumah, bantuan langsung sosial dan berbagai program yang dapat meningkatkan kesejateraan warga sudah dilakukan. Program tidak langsung, seperti infrastruktur juga tak kalah banyaknya.

Dua metode pengentasan kemiskinan ini diharapkan mendorong taraf ekonomi warga.A� Sehingga bisa benar-benar bebas dari belenggu kemiskinan. a�?Kalau dilihat dari data-data, memang kantong kemiskinan itu ada di masyarakat pesisir. Ini yang harus kita perhatikan,a�? janji Ahyar.

Kawasan pesisir sebagai kantong kemiskinan juga diamini Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Kota Mataram Hj Baiq Sujihartini. Karena itu, ia berjanji dalam waktu dekat akan menggelontorkan sejumlah program untuk meningkatkan taraf hidup warga pesisir.

a�?Kita ingin adakan pelatihan bagi nelayan dan istrinya, supaya mereka punya kekuatan ekonomi,a�? kata Hartini.

Tingginya warga miskin di kawasan pesisir, tidak lepas dari minimnya sentuhan program pemberdayaan. Karena dari segi wilayah, pesisir sebenarnya punya potensi besar meningkatkan derajat ekonomi warga.

Hanya saja, siklus tahunan cuaca buruk kerap membuat sejumlah nelayan terputus upayanya mencari nafkah. Tumpuan ekonomi hanya mengandalkan tabungan-tabungan selama musim panen ikan sedang tinggi.

a�?Tetapi ketika terjadi paceklik panen atau cuaca buruk, tidak ada kompetensi lain yang dimiliki nelayan untuk menafkahi keluarga, kecuali dengan mengandalkan tabungan atau pinjaman,a�? jelasnya.

Kondisi inilah yang membuat nelayan sulit terangkat secara ekonomi. Padahal, di depan mereka terbentang potensi bahari yang sangat luas. a�?Kita memang harus siapkan usaha sampingan agar nelayan siap menghadapi cuaca ekstrim berkepanjangan,a�? jelasnya.

Pembeberian usaha sampingan ini, akan dimulai dengan memberikan pelatihan pada nelayan. Bagaimana mengolah dan mengawetkan secara sehat hasil tangkapan laut ketika melimpah. Lalu memproduksinya dalam berbagai bentuk makanan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

a�?Misanya sebagai nuget, bakso, abon, sarden, dan sejumlah kemasan lainnya,a�? ungkapnya.

Jika dari skill mereka sudah siap, Diskan nanti bisa menggelontorkan bantuan berupa fasilitas produksi hingga alat untuk menyimpan makanan yang akan dipasarkan ke pengunjung pantai. Seperti dalam bentuk etalase yang lebih steril dan aman untuk menyimpan ikan.

a�?Kita juga akan arahkan nelayan agar bisa budidaya ikan dalam kolam terpal. Jadi mereka tidak perlu bergantung sepenuhnya pada laut,a�? terangnya.

Program ini sudah sampai pada tahapan maping. Dengan memetakan kebutuhan sesuai dengan kondisi alam dan masyarakatnya di Ampenan untuk tiga kawasan. Utara, Selatan, dan Tengah. Anggaran yang telah disiapkan sebesar setengah miliar lebih.

a�?Anggaran yang telah disiapkan di tahun anggaran ini Rp 550 juta. Di tahap pertama, ini ada sekitar 20 nelayan yang bisa kita bantu dan 20 orang lainnya bisa diberi pelatihan,a�? jelasnya.

Program ini rencanannya akan diupayakan berkelanjutan. Sedangkan tahun ini, ditarget bisa terealisasi pada Minggu pertama dan kedua bulan November. (zad/r5)

Related posts

Bom Waktu Itu Bernama Macet

Redaksi Lombok post

Jual Beli a�?Lendira�? Coreng Mataram

Redaksi Lombok Post

Katanya Kota Religius, Tapi Kok…?

Iklan Lombok Post