Lombok Post
Metropolis

Sopir Angkot Mau Gubernur Yang Tak Pelupa

SUPER MERANA: Munggah (bertopi), salah seorang sopir angkot berbincang dengan rekan-rekannya sesama sopir sambil menunggu penumpang di Terminal Mandalika, kemarin (19/9). IVAN/LOMBOK POST

Dulu angkutan kota adalah primadona. Pilihan utama warga kota. Kala itu, menjadi sopir masih punya gengsi. Bahkan bisa memilih jenis penumpang yang hendak dilayani. Tapi kini, angkutan kota sekarat. Sekadar dapat balik harga bensin saja bukan kepalang berat. Dalam kondisi begitu, inilah harapan mereka untuk gubernur NTB mendatang.

***

SIANG itu, deretan bemo kuning, nama lain angkutan kota di Mataram menghiasai pintu masuk Pasar Mandalika. Semuanya kosong. Tidak ada seorang pun penumpang. Sarite, salah seorang sopir berdiri di depan angkot. Peluh bertengger di kerutan keningnya. Beberapa kali ia berteriak ke arah kerumunan warga yang baru keluar dari pasar. Tapi tidak satupun mau naik ke angkotnya.

Hari semakin siang. Matahari terasa kian menyengat, bising kendaraan bercampur bau sampah, dan teriakan-teriakan khas pasar memperkeruh suasana hari itu. Sarite semakin tidak tenang karena matahari di ubun-ubun, di kantongnya baru ada Rp 5.000.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Akan tambah susah jika harus pulang dengan uang segitu. Istri bisa marah, sebab kebutuhan rumah tidak murah.

Cek-cok dengan istri pun sering tidak bisa dihindari. Gara-gara uang hasil narik angkot tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dapur. Belum lagi uang sangu untuk anak yang masih sekolah.

Begitulah Sarite menjalani hari-harinya. Dia tak sendiri. Nyaris seluruh koleganya menjalani hari serupa. Hidup yang berbalik 180 derajat. Hidup yang tak lagi semanis dahulu. Kala angkot masih menjadi pilihan utama.

Karenanya, banyak sopir angkot yang berhenti. Banting setir mencari profesi lain yang bisa mendatangkan uang. Jumlah angkot pun semakin menyusut. Satu per satu menghilang dari jalanan ibu kota. Masuk kandang.

Kondisi itu sudah berlangsung cukup lama. Tapi tidak pernah ada solusi bagi mereka. Silih berganti pemimpin, tidak ada satu pun kepala daerah yang memberi jalan keluar bagi nasib mereka. Para sopir seperti berjuang sendiri melawan segala macam kesusahan hidup.

Ironisnya, jendela kaca angkutan kuning ini kerap dijadikan ruang kampanye para calon gubernur mapun wali kota. Tujuannya agar para calon gubernur terkesan merakyat dan peduli pada mereka. Selain agar gambar para figur itu bisa terlihat di mana-mana, seiring daya jelajah angkot yang tinggi.

Tapi toh, semua itu tidak pernah mengubah keadaan. Mereka hanya dijadikan alat kampanye bak papan reklame. Habis masa kampanye, tidak seorang pun yang ingat jasa mereka.

Karena itu, wajar jika para sopir merasa pesimis dengan calon-calon gubernur yang muncul saat ini. Tapi sebagai rakyat biasa, mereka masih menaruh harapan. a�?Saya mau gubernur yang bisa buat kita jadi makmur, tidak susah lagi cari uang,a�? kata Sarite, pria asal Kembang Kerang, Narmada itu.

Munggah, sopir lainnya asal Selagalas Kota Mataram juga merasakan hal yang sama. Ia ingin agar gubernur nanti bisa memerhatikan nasib mereka. Sebab kondisi saat ini sangat menyulitkan para para sopir. Saking sepinya penumpang, dari Ampenan ke Bertais ia pernah sampai bernyanyi seorang diri di dalam angkot untuk menghibur diri.

a�?Kosong, sepi sekali makanya saya menyanyi saja,a�? tuturnya.

Ia sendiri belum menentukan pilihan. Sebab, saat ini semua calon pasti bagus. Semua menjanjikan program yang bagus-bagus. Mereka juga mau menyapa orang-orang kecil seperti mereka. Tetapi jika kelak terpilih ceritanya pasti akan berbeda.

a�?Kalau sudah dipilih nanti ceritanya pasti beda, mana mereka mau lihat kita,a�? kata bapak enam anak itu.

Bahkan menurut Kharudin, sopir bemo lainnya, kini mereka semakin dipersulit untuk mendapatkan perpanjangan izin. Mereka kesulitan karena harus memenuhi syarat kelayakan kendaraan. Harus pakai sabuk pengaman dan roda harus bagus. a�?Malah kita tambah dibuat susah,a�? keluhnya.

Meski demikian, mereka harus tetap mencari penumpang setiap hari. Karena dapur harus tetap mengepul dan biaya sekolah anak harus dipenuhi. Seperti Munggah, enam orang anaknya masih sekolah dan harus tetap dibiayai.

Keluhan sama diungkapkan Sudarman, sopir bemo asal Cakranegara Utara itu menginginkan kondisi kembali seperti tahun 1990-an. Dimana penumpang banyak dan uang pun tetap mengalir. Kini sehari mereka hanya bisa mendapatkan Rp 30 ribu. Itupun didapatkan dengan susah payah.

a�?Saya harap ada gubernur yang lebih bagus dan peduli sama kami,a�? katanya.

Sementara para sopir taksi juga mengeluhkan kondisi yang semakin sulit. Tingginya angka kunjungan wisatawan ke Lombok rupanya tidak berdampak besar bagi penghasilan mereka. Penumpang lebih banyak direbut taksi online dan travel-travel tanpa izin. Mereka semakin kewalahan karena persaingan yang tidak sehat.

a�?Gubernur yang saya mau adalah gubernur yang bisa mensejahterakan rakyat. Bukan hanya membela pengusaha,a�? kata Ramdan, salah seorang sopir taksi.

Dengan persaingan yang makin berat, mereka tetap diwajibkan menyetor Rp 240 ribu per hari, sehingga mereka harus bekerja siang dan malam mengejar setoran. Pemerintah mestinya membatasi keberadaan taksi online, karena banyak lahan yang tadinya mereka garap sudah hilang.

a�?Dengan kunjungan wisatawan tinggi, kita hanya menjadi penonton,a�? ujarnya.

Sudi Wirajaya, sopir taksi lainnya berharap gubernur mendatang bisa benar-benar berlaku adil. Mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak. Mereka harus memberikan solusi, sehingga taksi konvensional dan online bisa sama-sama diuntungkan.

a�?Kita mau sama-sama hidup, pemerintah harus jadi penengah,a�? harapnya. (sirtupillaili/r8)

Berita Lainnya

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost