Lombok Post
Headline Metropolis

Ayo, Bawa Anak untuk Imunisasi PCV!

IMUNISASI: Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Kemenkes dr. Jane Soepardi memberikan penjelasan tentang pentingnya PCV kepada wartawan di ruang rapat utama kantor Gubernur NTB, kemarin (2/10). SIRTU/LOMBOK POST

MATARAM-Data WHO menunjukkan pneumonia merupakan penyebab utama kematian balita di dunia. Kontribusi sebesar 16 persen setiap tahunnya. Diperkirakan sebanyak 2 balita meninggal setiap menit akibat pneumonia.

Tahun 2015, Kementerian Kesehatan memperkirakan angka kasus pneumonia secara nasional mencapai 3,55 persen. Perkiraan kasus tertinggi di NTB yang mencapai 6,38 persen.

Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Dr dr Sri Rezeki S Hadinegoro menjelaskan, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, pneumonia menjadi penyebab kematian utama pada bayi dengan angka 23,8 persen setelah diare 31,4 persen. Sementara penyebab kematian balita terbanyak adalah diare 25,2 persen dan pneumonia 15,5 persen.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Data UNICEF tahun 2015 menunjukkan, kematian balita di Indonesia 5,9 juta per tahun. Jauh lebih besar dibandingkan kematian akibat kecelakaan dan sebagainya. Data lain juga menunjukkan bahwa 6,3 juta balita meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Karena itu, salah satu cara untuk menyelamatkan balita dari ancaman kematian adalah imunisasi. Sebab vaksin bekerja untuk melindungi individu dan kelompok masyarakat. Jika cakupan imunisasi tinggi maka akan lebih banyak masyarakat yang terlindungi, termasuk bayi kecil yang belum dapat menerima vaksin. a�?Imunisasi merupakan perisai kita menghadapi penyakit berat dan serius,a�? tegasnya.

Tapi kenyataanya, satu dari lima anak atau 22 juta di seluruh dunia belum diimunisasi. Terutama di negara berkembang, sekitar 1,5 juta anak meninggal setiap tahun disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Salah satunya adalah pneumonia.

Di negara berkembang, 60 persen kasus pneumonia disebabkan bakteri yakni bakteri streptococcus pneumoniae atau pneumokokus dan bakteri Haemophilus Influenzae tipe b atau Hib. Karena itu, dalam rangka mencegah penyakit pneumonia, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan pemberian imunisasi pneumokokus konyugasi (PCV) yang dilaksanakan secara bertahap. Program itu akan dimulai pada Oktober 2017 di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur.

Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Nurhandiri Eka Dewi mengatakan, pelayanan imunisasi PCV itu dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, klinik, praktik mandiri dokter, praktik mandiri bidan, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang memberi pelayanan imunisasi.

Imunisasi PCV diberikan sebanyak tiga dosis yang dimulai pada bayi usia dua bulan bersama dengan DPT-HB-Hib satu dan OPV 2, pada bayi usia tiga bulan bersamaan dengan DPT-HB-hib 2 dan OPV 3. Selanjutnya diberikan pada anak usia 12 bulan sebagai imunisasi lanjutan. a�?Vaksin ini diberikan gratis,a�?A� tegasnya.

Vaksin yang digunakan dalam PCV aman dan telah direkomendasiian oleh WHO serta lulus uji di BPOM. Vaksin ini juga sudah memiliki sertifikasi halal dari Islamic Food and Nutrition Council of America (IFANCA), suatu badan penilai dan penerbit sertifikat halal yang telah diakui dan bekerjasama dengan MUI.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Kemenkes, dr. Jane Soepardi menyebutkan, pemberian vaksin bagi anak merupakan sebuah keharusan dan merupakan perintah undang-undang untuk melindungi anak-anak. Menurutnya, warga NTB harus bersyukur karena menjadi proyek percontohan imunisasi PCV, sebab daerah lain menginginkan hal itu.

Harga vaksin PCV juga tidak murah, tapi itu diberikan secara gratis. Ia menyebutkan anggaran untuk vaksinasi saja Rp 34 miliar, dengan harga vaksin Rp 249 ribu per dosisnya. (ili/r7)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost