Lombok Post
Kriminal

Kades Mambalan Jadi Tersangka Pungli

Kasubbaghumas Polres Mataram AKP Arnawa

MATARAM-Penyidikan dugaan pungli Program Agraria Nasional (Prona) di Desa Mambalan, Lombok Barat (Lobar) akhirnya membuahkan hasil. Penyidik Unit Tipikor Polres Mataram menetapkan Kades Mambalan dengan inisial LAY sebagai tersangka.

Kasubbaghumas Polres Mataram AKP Arnawa mengatakan, penyidik telah mengantongi alat bukti yang cukup selama penanganan perkara. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan menetapkan LAY sebagai tersangka dalam kasus ini.

“Sudah kita tetapkan sebagai tersangka, sekitar satu minggu lalu,” kata Arnawa, kemarin (2/10).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Setelah penetapan itu, polisi telah menjadwalkan pemeriksaan LAY sebagai tersangka. Rencananya pemeriksaan tersebut akan dilakukan kemarin, namun yang bersangkutan diketahui tidak datang menghadiri panggilan polisi.

Karena itu, lanjut Arnawa, pihaknya telah menjadwal ulang untuk pemeriksaan LAY sebagai tersangka, untuk kali pertama.

A�”Rencana hari ini tapi tidak hadir. Jadi kita jadwal ulang,” ujar dia.

Indikasi pelanggaran LAY, dilihat dari perbuatannya yang diduga menetapkan biaya atas pengurusan prona di Desa Mambalan. Ditambahkannya, jumlah pungutan yang ditetapkan LAY bervariasi A�antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Uang tersebut digunakan untuk biaya administrasi hingga pemasangan pal batas untuk tanah milik pemohon.

“Jumlah saya kurang tahu pasti. Yang jelas ada puluhan orang,” ungkap Arnawa.

Dalam perkara ini, LAY yang telah ditetapkan sebagai tersangka diketahui menjadi pelapor dalam perkara ini. LAY dilaporkan dengan tuduhan pungli untuk pengurusan sertifikat Prona tahun 2016. Laporan yang disampaikan Gerakan Masyarakat Peduli Desa (Gema-Pedes) Mambalan diberikan ke Polres Mataram pada pertengahan Januari lalu.

Dalam laporannya, pelapor melampirkan kuitansi sebagai bukti penyerahan uang dari masyarakat. Sedikitnya ada 19 kuitansi yang diserahkan sebagai alat bukti. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, polisi akhirnya menaikkan perkara ke penyidikan di Agustus lalu dan menetapkan LAY sebagai tersangka di akhir September.

Jumlah nominal uang yang disetor warga juga bervariasi. Ada yang menyerahkan uang dengan jumlah ratusan ribu. Dalam penyerahan tersebut, disertai dengan kuitansi sebagai bukti pembayaran.(dit/r2)

 

Berita Lainnya

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Gubernur Yakin Kemampuan Brimob

Redaksi LombokPost

Polda Kantongi Data Baru Kasus Pengadaan Buku Madrasah

Redaksi LombokPost

Berkas Banding Merger BPR Dilimpahkan

Redaksi LombokPost

Utamakan Langkah Preventif

Redaksi LombokPost

Absen Kerja, Sukatra Ditemukan Tak Bernyawa

Redaksi LombokPost

Tilang Menurun, Laka Lantas Meningkat

Redaksi LombokPost