Lombok Post
Headline Metropolis

Kantor Wali Kota Pindah ke Lingkar Selatan, Ancaman Banjir dan Macet Harus Dipikirkan

TAMPAK SAMPING: Inilah gambar kantor Wali Kota Mataram tampak dari samping yang akan dibangun di Jempong, Sekarbela. Dekat dengan Bundaran Lingkar Selatan. ilustrasi

MATARAM-Semua masukan masyarakat atas rencana pembangunan Kantor Wali Kota Mataram di Lingkar Selatan, rupanya ditampung dengan baik oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) H Mahmuddin Tura. Ia mengaku terkesan dan terpacu mempersiapkan lebih dini segala sesuatu menyangkut dimulainya pembangunan kantor di sana. a�?Saya jadi terpacu setelah membaca masukan dari teman-teman melalui koran,a�? kata Tura.

Ia mengakui ada persoalan yang memang tidak boleh disepelekan di kawasan lingkar selatan. Dua potensi ancaman dampak lingkunan, yakni banjir dan kemacetan memang harus dipikirkan sedini mungkin.

a�?Lahannya memang masih proses di BKD, tetapi saya rasa sudah saatnya menyiapkan segala sesuatunya. Terutama menghadapi potensi banjir dan macet di sana,a�? ujarnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Ia memastikan akan ada peningkatan infrastruktur di kawasan itu. Baik itu untuk penanggulangan aliran air sehingga bisa lebih cepat ke hilir. Mengingat kawasan di lingkar selatan, kondisi tanahnya lebih rendah dari tempat yang lain.

Ia juga bisa memahami dampak dari dibangunnya kantor wali kota di sana. Seperti filosofi ratu lebah yang pindah sarang, maka itu akan mendorong juga masyarakat berlomba-lomba membangun di lingkar selatan.

a�?Praktis akan berdampak pada daerah resapan air yang berkurang,a�? terangnya.

Perlu peningkatan infrastruktur seperti drainase hingga pelebaran anak sungai Unus sehingga aliran air bisa lebih cepat mengalir ke hilir. Kebijakan pembangunan fasilitas itu harus sudah mulai difokuskan pada tahun 2018 nanti.

a�?Minimal fasilitas penunjangnya berjalan paralel dengan pembangunan kantornya,a�? jelasnya.

Karena itulah, di tahun anggaran 2018 nanti, Tura sudah ancang-ancang menyiapkan anggaran untuk Kajian Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). Hasil inilah yang akan menjadi acuan pihaknya mulai membangun dan membenahi kawasan lingkar selatan yang kerap direndam bajir.

a�?Saya kira ini adalah dampak positif dari rencana pindahnya kantor (dengan semakin memadainya fasilitas di sana),a�? tandasnya.

Beberapa waktu lalu, Pengamat Tata Lingkungan Ahmad Fathoni, juga secara riil memberi masukan terkait penampang drainase Pemkot Mataram yang dinilai terlalu kecil. Sehingga tidak bisa menampung debit air hujan, lalu mendorong genangan di mana-mana.

a�?Cara pertama ya bebaskan lahan di kiri kanan jalan. Lalu buat penampang drainase minimal 1 meter persegi,a�? saran Fathoni kala itu.

Dengan membuat luas penampang drainase minimal 1 meter persegi, maka intensitas hujan di kota berkisar 24 milimeter perhari, yang sama dengan 2,4 meter kubik air dalam satu are bisa diserap dengan baik. Ukuran drainase ini juga harus diimbangi juga dengan biopori yang besar.

a�?Atau cara yang kedua, kalau tidak mau bebaskan lahan, ya bisa buat trowongan di bawah jalan,a�? ujarnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost