Lombok Post
PELESIR

Ada Festival Budaya Malamoi di Papua Barat, 27-30 Oktober 2017

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. /Net

SORONG a�� Akhir Oktober nanti, bersiap-siaplah untuk menyambut event budaya yang unik di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong, Papua Barat. Segera agendakan terbang ke Papua Barat, 27 – 30 Oktober 2017. Di periode itu, ada Festival Budaya Malamoi yang siap menyapa setiap tamu yang datang ke tanah Papua.

“Silakan berwisata ke Kota Sorong dan Kabupaten Sorong di Papua Barat. Inilah destinasi yang sangat kental dengan tradisinya yang khas,” ajak Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nunsatara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti, Jumat (6/10).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”149″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Meski baru pertama kali digelar, beragam keseruan sudah disiapkan panitia. Magnet utamanya tentu saja Suku besar Malamoi atau lebih dikenal dengan sebutan orang Moi. Ini adalah salah satu suku di antara suku-suku Papua yang mendiami wilayah kepala burung pulau Papua. Sekarang, wilayah ini lebih dikenal dengan wilayah Sorong Raya.

Orang Moi terdiri dari tujuh Sub-suku besar, antara lain; Moi Klin, Moi Maya, Moi Sigim, Moi Lemmak, Moi Salawak, Moi Kalabra dan Moi Abun. Semuanya punya tradisi yang berbeda-beda. Perekatnya satu, perairan Raja Ampat yang sempat dinobatkan sebagai the best snorkling site 2015 versi CNN. a�?Budaya maritim di sana sangat kental. Sementara mereka yang mendiami tanah besar dipengaruhi oleh budaya agraris yang kuat,a�? tambah Esthy.

Salah satu kekuatan budaya yang dimiliki orang Moi adalah tari-tarian. Tari Aluyen atau Alen misalnya. Tarian ini menjadi yang paling dikenal publik. Tarian ini menyimpan pesona mistis yang sakral. Dan konon kabarnya, tari ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang dianggap memiliki kemampuan khusus untuk memanggil para roh leluhur.

“Selain Alen yang memiliki nilai sakral, ada juga tari Kaingkla, Saafo, Firi, Kalintuk, Kalemkok Kla, Fotobem dan Sarar yang sama memiliki pesona etnik yang sakral,” kata Esthy.

Selain budaya, di wilayah kediaman suku Moi juga kaya akan wisata sejarah. Tepatnya di Pulau Doom yang menjadi pusat pemerintahan Belanda. Di pulau ini masih terdapat bangunan-bangunan seperti kantor residen Belanda, rumah para perwira militer, asrama atau tanksi polisi, asrama pelayaran atau schevaard camp dan rumah guru yang tertata dengan rapi. Juga terdapat penjara zaman Belanda yang masih berada di sana.

Wilayah pulau Doom pada masa Perang Dunia II pernah dijadikan bunker oleh Jepang untuk menghadapi tentara sekutu, bunker-bunker Pulau Doom, Kota Sorong Papua Barat tersebut masih tersebar mejadi saksi bisu sejarah Tanah Moi. “Dari pulau ini kita juga dapat menikmati sunrise maupun sunset yang menawan,” kata Esthy.

Lalu, apa saja yang akan dihadirkan dalam Festival Budaya Malamoi 2017?

Kepala Bidang Promosi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, Wawan Gunawan menjelaskan, Festival Budaya Malamoi akan menampilkan sejumlah atraksi dan kegiatan. Pertama adalah lomba tari etni/adat Suku Moi. Dalam pentas budaya ini akan ditampilkan sejumlah tari etnik/adat suku Moi yang diperlombakan guna memperkenalkan dan mensosialisasikan dalam konteks pelestarian budaya.

Selain tari Alen, jyga akan dilombakan tari lainnya seperti tari Sasra, Tari Kaingkla serta yang tidak kelah menarik adalah tari Saafo, tari Fifi, tari Kalintuk, tari Kalemklok Kla dan tari Fotobem yang sama-sama memiliki pesona etnik yang sakral.

Dalam kegiatan ini juga akan digelar pentas paduan suara, folks song dan vokal grup, Pameran Kreatif dan Kuliner Masyarakat Moi, dan lomba fotografi. Selain itu, sebagai bagian dari rangkaian acara juga ada Malamoi Go Green yang akan berlangsung pada 13 Oktober, Bersih-Bersih Tanah Leluhur pada 21 Oktober serta Long March for Change.

Long March for Change ini adalah tema yang diusung untuk memberikan kesan perjuangan yang menghiasi perjalanan panjang Suku Besar Malamoi ke arah perubahan yang semakin terarah.

Setelah penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan Festival ini dapat memicu pengembangan sejumlah objek wisata lain, seperti: Wisata Manggrove, Wisata Hutan Lindung, Wisata Bawa Laut dan Wisata Kuliner.

“Festival Budaya Malamoi 2017 diharapakan dapat menjadi destinasi baru wisata Nasional di wilayah Indonesia Timur,” ujar Wawan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik dan mendukung pelaksanaan Festival Budaya Malamoi 2017. Tone-nya sangat positif. Dia yakin, kegiatan ini akan menambah ragam atraksi di Indonesia bagian timur, khususnya Papua Barat.

“Selama ini Papua Barat dikenal dengan wisata baharinya yang begitu indah. Tapi di luar itu juga ada keragaman budaya yang sangat menarik untuk dijelajahi. Festival Budaya Malamoi salah satunya. Menjadi acara yang tepat untuk mengenal keragaman di tanah Papua,” kata Menpar Arief Yahya. (*)

Berita Lainnya

Juara Lagi, NTB Raih Destinasi Wisata Halal Terfavorit 2018

Redaksi Lombok Post

Pascagempa, Malaysia Bantu Pemulihan Pariwisata NTB

Redaksi Lombok Post

Bandini Riverside Cottage, Sensasi Ketenangan Jadi Suguhan Utamanya

Redaksi Lombok Post

Nanang Samodra Melenggang ke DPR RI

Redaksi Lombok Post

Diboyong Kemenpar, JFC Sukses Pikat Hati Travel Bloger Asal Dubai

Redaksi Lombok Post

Fitri Carlina Ceritakan Pariwisata Banyuwangi Lewat Video Clip Terbarunya

Redaksi Lombok Post

Ini Dia Dukungan BRI untuk ViWI 2018 di Rakornas IV Pariwisata

Redaksi Lombok Post

Halaltraveling, Halalkan Gaya Hidupmu

Redaksi Lombok Post

NTT Expo 2017, Happy Ending Crossborder Atambua 2017

Redaksi Lombok Post