Lombok Post
Metropolis

Sawah Menyempit, Target Selangit!

GARAP SAWAH: Sebuah traktor tengah membajak sawah di kawasan Karang Pule, Sekarbela, Kota Mataram, kemarin (6/10). Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM-Revisi Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Mataram masih dalam proses di Kementerian ATR/BPN. Tetapi sudah bisa dipastikan bakal berdampak pada Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Pemkot bahkan mematok lahan pertanian yang tersisa hingga tahun 2031 hanya 424,51 ha.

Tetapi menariknya walau luas lahan pertanian sudah sejak lama, masif mengalami alih fungsi lahan ternyata target hasil panen terus menanjak dalam setiap tahun. a�?Kita sekarang ditarget bisa berproduksi sebesar 30 ribu ton,a�? kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli.

Ia juga mengaku heran dengan target yang terus menanjak. Sebab konsekwensi logisnya, seiring dengan alih fungsi lahan, harusnya target bisa turun. Tetapi Mutawalli kemudian menduga ini tidak lepas dari keberhasilan melampaui target pada tahun lalu.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Tahun lalu kita ditargetkan 28 ribu ton dan itu terlampaui, ya ini alasan dinaikannya target tahun ini,a�? jelasnya.

Ia belum bisa memastikan apakah target ini bisa tecapai atau tidak. Yang jelas saat ini lanjut dia, petani di Kota Mataram tengah memasuki masa tanam padi. Beberapa lahan pertanian sudah nampak mulai digarap.

Pemkot Mataram lanjut dia mensupport melalui pengenalan tekonologi dan distribusi pupuk.

a�?Kabarnya di dareah lain pupuk subsidi sudah mulai langka. Tetapi karena Kota Mataram ini kecil, distribusinya lancar dan tidak ada masalah,a�? sebutnya.

Terpisah Ketua Pansus RTRW Kota Mataram HM Nur Ibrahim menyebut pengerucutan porsi LP2B sudah jadi keniscayaan bagi daerah metropolitan seperti Kota Mataram. Sektor jasa dan perdagangan tumbuh subur di kota dan memberi dampak signifikan bagi perekonomian masyarakat.

a�?Karena itu kita tentu harus beri ruang bagi iklim investasi yang sangat sehat ini,a�? kata Nur.

Konsep Mataram Metro juga mengharuskan nantinya kebutuhan pangan kota, bisa ditunjang oleh dareah sekitar. Sehingga persoalan pemenuhan pangan, tidak menjadi persoalan utama yang harus dipikirkan warga kota.

a�?Tetapi kawasan hijau termasuk LP2B ini bukan berarti akan kita hapus semua. Ada kita siapkan sekitar 424,51 ha,a�? tandasnya.

Di tempat terpisah, Salah seorang petani asal Sayang-Sayang Sutrio mengatakan, ada kecendrungan petani kota saat ini orientasinya tidak lagi pada kebutuhan memenuhi pangan. Tetapi lebih pada provit dan peluang.

a�?Tidak semua lahan saya tanami padi, tetapi sebagian saya tanami cabai,a�? jelasnya.

Tanam cabai lebih menguntungkan. Sedangkan padi, sudah kebutuhan sudah banyak ditopang oleh daerah sekitar. Seperti Lombok Tengah, Lombok Barat, KLU dan Lombok Timur.

a�?Kalau harga beras hampir sama. Ya kadang kita nanam tujuannya untuk pemenuhan kebutuhan keluarga. Selebihnya baru di jual,a�? tandasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost