Lombok Post
Headline Metropolis

Banjir dan Longsor Ancam NTB

MULAI MUSIM HUJAN: Seorang anak di Kota Mataram kemarin bermain hujan. Sejaka beberapa hari terakhir, hujan lebat sudah mulai mengguyur beberapa wilayah di Pulau Lombok. Ini artinya, potensi banjir dan tanah longsor juga mulai mengancam. Dwi Ariani for Lombok Post

Musim hujan telah datang. Tapi NTB belum bebas dari potensi bencana. Setelah beberapa bulan dilanda kekeringan, kini banjir dan longsor berpotensi mengancam. Tanda-tanda itu mulai dirasakan warga di beberapa wilayah NTB.A�A�A�A�

***

Cuaca sudah diprediksi. September lalu Badan Menteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan tiga bulan lamanya NTB tidak akan dilanda hujan. Tapi kini hujan lebat sudah turun. Bahkan terjadi banjir di beberapa lokasi.

Seperti di Lombok Tengah, banjir merendam beberapa rumah warga di Lingkungan Wakul Kelurahan Renteng dan Desa Aikmual Kecamatan Praya setelah hujan lebat melanda seharian.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Di Mataram pun demikian. Genangan terjadi di beberapa titik jalan meski tidak terlalu parah. Pemandangan yang lumrah setiap memasuki musim hujan karena lubang pengering tidak berfungsi maksimal.

Banjir di Praya dan genangan di Mataram menjadi peringatan awal, bahwa potensi banjir sudah nampak. Jika curah hujan tinggi dikhawatirkan bencana banjir seperti di Sambelia Lombok Timur dan longsor di Lombok Barat akan terulang. Sebab dalam satu tahun terakhir belum ada upaya signifikan yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi bencana tersebut.

Perbaikan tanggul sungai dan saluran drainase perkotaan tidak banyak yang dilakukan, di sisi lain penebangan liar atau illegal logging terus terjadi yang membuat wilayah hutan semakin gundul. Bukan tidak mungkin banjir besar masih akan terjadi.

Joko Raharjo, prakirawan BMKG BIL menjelaskan, berdasarkan analisa dinamika atmosferA� per tanggal 8 Oktober, saat ini angin baratan mulai menguat, sebaliknya angin timuran mulai melemah mendekati normal klimatologisnya. Dampaknya potensi pembentukaan awan hujan meningkat, sehingga peluang hujan meningkat.

Sementara untuk angin gradien, terdapat beberapa area bertekanan rendah sebelah utara Australia, memicu terjadinya wilayah pertemuan angin di sebelah selatan NTB. Kondisi itu menyebabkan perlambatan kecepatan angin di wilayah NTB, khususnya Lombok. Perlambatan angin mengakibatkan peningkatan jumlah uap air, dan pembentukan awan hujan di sekitarnya.

Diperkirakan awal musim hujan akan terjadi akhir Oktober. Dimulai dari wilayah Lombok bagian barat.

Pada masa transisi menuju musim ujan, berpotensi terjadinya hujan lebat disertai petir dan angin kencang. a�?Untuk itu, masyarakat kami imbau lebih waspada ketika beraktivitas di luar,a�? katanya.

Beberapa potensi bencana akibat hujan lebat, diantaranya genangan air, banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Diprediksikan tiga hari ke depan masih berpotensi terjadinya hujan lebat disertai angin kencang di wilayah Lombok dan Sumbawa bagian barat.

A�Masih Siaga Kekeringan

Meski demikian, hingga saat ini NTB masih berstatus siaga darurat kekeringan. Pembagian air pun masih dilakukan Tanaga Dinas Sosial NTB dengan mendroping enam mobil tangki air bersih ke wilayah Jerowaru yang terus dilanda kekeringan. Demikian juga dengan BPBD NTB yang telah kadung mendapatkan dana tidak terduga sebesar Rp 2,5 miliar untuk mengatasi kekeringan.

Kepala Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB H Muhammad Rum menjelaskan, meski terjadi hujan, tetapi sifatnya parsial. Tidak merata di semua wilayah. Baginya, hingga kini belum ada peristiwa banjir. Kalaupun ada, peristiwa di Praya menurutnya itu hanya genangan.

Karenanya, pembagian air juga masih terus dilakukan. Kalaupun hujan sudah turun, sifatnya hanya membahasi tanah. Belum membuat sumur-sumur warga terisi air.

a�?Warga masih membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari dalam bentuk air bersih,a�? ungkapnya.

Namun demikian, ia tidak menampik jika potensi banjir sangat mungkin terjadi. Beberapa peristiwa yang terjadiA� akhir-akhir ini menjadi peringatan bahwa saluran drainase di kabupaten/kota tidak berfungsi maksimal.

Karena itu, ia meminta kepada pemerintah kabupaten kota untuk memperbaiki saluran drainase di masing-masing daerah. a�?Masih ada waktu, mumpung musim hujan masih pemanasan, diimbau kepada seluruh pemda memastikan drainasenya berfungsi,a�? imbuhnya.

Pemerintah tidak boleh lengah, meski masih fokus mengatasi kekeringan, namun bahaya bencana banjir juga harus tetap diantisipasi dengan memaksimalkan potensi yang ada. Menurutnya, jika curah hujan tinggi seperti tahun 2016 lalu, maka bukan tidak mungkin bencana banjir skala besar bisa terjadi.

a�?Karena dalam satu tahun terakhir, kita belum banyak melakukan upaya antisipasi,a�? tuturnya.

Peran aktif pemerintah daerah baginya sangat menentukan. Baik dari sisi anggaran maupun upaya-upaya antisipasi di lapangan. Jangan sampai terlalu banyak mengharapkan bantuan dari luar yang membuat penanganan menjadi lemban. (ili/r5)

 

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost