Lombok Post
Feature Headline

Cerita Dibalik Jembatan Gantung Peninggalan Belanda di Gerung

HARUS DIPELIHARA: Seorang pria membawa makanan ternaknya melintasi jembatan peninggalan Belanda di Gerung, Lombok Barat, beberapa waktu lalu. Meskipun sudah tua, jembatan ini masih menjadi akses penting bagi masyarakat meskipun harus mengantri karena jalannya hanya cukup untuk satu motor. IVAN/ LOMBOK POST

Jembatan gantung peninggalan Belanda itu masih kokoh. Tidak seperti orang-orang yang dulu mengerjakannya. Tapi, beberapa dari mereka ternyata masih hidup. Di telinga mereka, masih terngiang yel-yel para pekerja. Berikut Laporannya.

***

Hoa�� Hadiyanga�� Kancrut..!. Suara para pekerja menggema. Seluruh warga dusun Kelebut mendengarnya. Itu yel-yel. Juga aba-aba. Penyemangat. Ketika tenaga manusia bersatu untuk menarik tiang besi seberat ratusan ton.

Setiap hari teriakan para pekerja itu terdengar. Karena setelah berdiri, tiang besi terjatuh kembali.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Begitulah Inaq Sani, warga Dusun Kelebut, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Lobar,A� mengawali ceritanya. Ia merupakan saksi sejarah jembatan gantung peninggalan kolonial yang konon dibangun pada tahun 1932 tersebut.

Waktu itu Inaq Sani baru saja menikah muda. Ia tidak ikut bekerja. Tapi suaminya punya andil luar biasa. Selain suaminya, ratusan pekerja didatangkan Belanda. Termasuk dari Jawa. Begitu ramai. Tapi pengerjaannya membutuhkan waktu yang lama. a�?Lebih dari satu tahun,a�? kata inaq Sani, sembari memandang ke arah jembatan.

Tak jauh dari rumah Inaq Sani, Lombok Post menemui Inaq Sukiyah. Ia pun memulai ceritanya dengan yel-yel yang tak pernah berhenti menggema di telinga. a�?Hoa�� Hadiyanga�� Kancrut..!,a�? kata inaq Sukiyah, sambil memperagakan para pekerja menarik tambang, saat mereka menaikkan tiang.

Inak Sukiyah juga ikut bekerja. Tapi tidak mengucapkan yel-yel. Karena dia tidak menarik tambang. Melainkan mengangkut tanah dan pasir.

Ia mengatakan, saat-saat itu merupakan zaman yang sulit bagi warga pribumi. Makan dari singkong dan ubi. a�?Berbeda dengan sekarang,a�? kata Inaq Sukiyah, dengan tubuh yang sudah membungkuk.

Ia menerima upah sebesar dua sampai tiga sen perhari. Tidak lebih.

Keadaan semakin sulit karena tiang jembatan tak juga berdiri. Menurut kepercayaan pada waktu itu, setiap pembangunan jembatan membutuhkan tumbal. Kepala sapi. Para pekerja menanam puluhan kepala sapi di kedua ujung jembatan.

Tapi kepala sapi tak mempan bagi jembatan gantung itu. Tiang masih rubuh. Pekerja mulai mengeluh. Teriakan terus menggema. Akhirnya, jembatan itu dipikir meminta tumbal lebih. a�?Kepala manusia,a�? kata Inak Sukiyah, mengecilkan suaranya yang sudah parau karena faktor usia.

Ada beberapa kepala manusia yang ditanam. Kedua ujung jembatan ada. Semua pekerja mengetahui penanaman kepala manusia tersebut. Tumbal. Dan jembatan gantung itu pun akhirnya berdiri dengan tarikan tangan ratusan manusia. Yang terjajah.

Setelah jadi, warga pun diajak berpesta. Selamatan, dan syukuran. a�?Kita dibagikan roti sama Belanda,a�? kata Inaq Sukiyah.

Tapi kebahagiaan atas jadinya jembatan itu tak lama. Beberapa tahun kemudian Jepang datang. Menurut Inak Sukiyah, kedatangan Nipon merupakan malapetaka paling berbahaya bagi warga pribumi.

Beberapa kali Jepang datang dan menjatuhkan bom ke jembatan tersebut. Ingin merusaknya. Merusak jembatan gantung peninggalan Belanda. Agar penderitaan bertambah. Dan tak ada lagi yang bisa dikenang darinya. a�?Waktu suara bom terdengar, kita semua sembunyi dalam kali,a�? kenang Inaq Sukiyah.

Jembatan gantung yang membutuhkan tumbal tersebut, kini hanya bisa dilewati sepeda motor dan pejalan kaki. Selain itu, anak-anak muda menggunakannya sebagai tempat berfoto ria di hari minggu. Mereka berfoto, tanpa mengetahui sejarah bagaimana ratusan pekerja dari Indonesia membuatnya.

Ho.. Hadiyanga�� Kancrut..! Apalagi kata itu. Mereka pasti tak pernah memikirkan bagaimana jembatan gantung dibangun dengan tenaga manusia. Tak ada mesin. Hanya yel-yel. Dan tumbal dari kepala sapi. Juga manusia.

Barangkali tumbal yang paling berarti bagi jembatan gantung itu bukan itu. Tapi justru yel-yel yang masih menggema. Di kepala Inaq Sani dan Sukiyah. (Fatih Kudus Jaelani, Giri Menang/r5)

Berita Lainnya

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost