Lombok Post
Feature Headline

Mengenal Juniawan, Doktor Pertanian Cemerlang asal Lombok

OBAT PISANG: Dr Juniawan menunjukkan obat pisang berbahan nabati temuannya saat pulang ke Lombok, awal Oktober lalu. SIRTU/LOMBOK POST

Penyakit Layu Fusarium adalah penyakit paling menakutkan bagi petani pisang. Bila tanaman pisang sudah terserang, tidak ada ampun, pasti mati. Bertahun-tahun para ahli coba menemukan penawarnya. Tapi tidak ada yang mampu. Sampai akhirnya obat itu ditemukan Juniawan, doktor pertanian asal Lombok yang kini menetap di Malang.

***

PARA petani di Desa Sambelia, Lombok Timur frustasi. Mereka kapok sekapok-kapoknya. Tidak mau lagi menanam pisang. Serangan jamur Fusarium Oxysporum telah menyebabkan semua pohon pisang milik warga mati. Serangan mematikan yang bagi mereka telah menjelma menjadi malapetaka.

Berbagai upaya coba dilakukan tapi tetap gagal. Bahkan oleh para ahli. Rekomendasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dengan menyuntikkan herbisida ke pohon pisang tak membuahkan hasil. Pun dengan cara membakar sekeliling pangkal pohon pisang dengan sekam. Juga gagal total. Tanaman tetap mati. Petani rugi berlipat-lipat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Dan, rupanya tak cuma Sambelia. Penyakit ini merajalela di sekujur Pulau Lombok. Di Lombok Tengah, di Lombok Barat, di Lombok Utara, penyakit ini segera saja menjelma menjadi penyakit paling menakutkan bagi petani.

Yang diserang adalah tanaman pisang yang tumbuh subur. Pisang-pisang yang sedang berbuah. Masyarakat Sasak mengenal penyakit ini dengan Ereng. Banyak menyerang pisang kepok atau a�?Puntik Sabe.a�?

Belakangan akhirnya diketahui, kalau penyakit batang pisang ini merupakan penyakit endemik. Seluruh dunia diserangnya. Baik di Amerika, Amerika Latin, Asia, Afrika bahkan Australia. Tidak ada yang luput dari serangan penyakit Layu Fusarium ini.

Jika jamur itu menyerang, tidak akan ada harapan bagi petani untuk bisa panen pisang. Itu sebabnya Layu Fusarium menjadi penyakit paling menakutkan bagi petani pisang di seluruh dunia.

Gejala penyakit Layu Fusarium pada pohon pisang bisa dilihat dari daun ketiga dan keempat yang berwarna kuning. Batang pohon berwarna cokelat, tapi bagian terdalamnya tetap putih. Karena pelepahnya sudah mati, maka otomatis pohon tidak bisa menghasilkan buah lagi. Tak butuh waktu lama, segera mati.

Kondisi itu kemudian membuat Juniawan terusik. Anak petani dari Desa Ranggagata Lombok Tengah ini tergerak dan memutar otak. Mencari solusi atas penyakit Layu Fusarium yang dihadapi petani. Kebetulan, tahun 2004 kala itu, pria kelahiran 11 Juni 1964 itu tengah menempuh pendidikan S2 di Fakultas Pertanian, Univesitas Mataram.

Riset pun dia mulai. Juniawan yakin tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Hatta Layu Fusarium. Upaya itu dimulai dengan meneliti sembilan jenis tanaman bahan baku fungisida nabati. Di antaranya, daun cengkeh dan bunga cengkeh, lada, sirih, daun salam, jarak pagar, kemangi, dan juga kayu manis. Penelitian itu disokong Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB. Dari semua itu, hanya cengkeh dan daun cengkeh yang paling kuat daya bunuhnya terhadap jamur.

A�Bahan Baku Sederhana

Dari eksperimen itu, ia mencoba mengobati batang pisang yang diserang jamur dengan ekstrak cengkeh. Hasilnya sangat menggembirakan. Selang beberapa lama, semua pohon pisang yang disuntikkan ekstrak cengkeh tersebut kebal dari jamur. Sementara pohon pisang yang tidak diberikan obat mati.

A�a�?Begitu percobaan itu sukses, para petani senang dan bergairah lagi menanam pisang,a�? kata alumni Sekolah Tinggi Pertanian Malang itu.

Petani di Sambelia pun kembali antusias menanam pisang. Mereka tidak khawatir lagi dengan serangan jamur Fusarium Oxysporum. Bahkan kelompok tani binaannya kini diundang memberikan penyuluhan ke beberapa tempat di Lombok.

Satu masalah pun terpecahkan. Tapi kala itu temuanya masih harus disempurnakan. Sementara dana penelitian yang diberikan BPTP NTB sudah habis, dan ia harus melanjutkan penelitian dengan biaya sendiri. Bagi Juniawan yang hanya PNS biasa, tidak mungkin membiayai sendiri risetnya. Dibutuhkan dana puluhan juta.

Tapi ia tidak kehabisan akal. Juniawan pun mengajukan proposal. Keberuntungan mempermudah jalannya. Ia mendapatkan hibah riset dari Direktorat Pendidikan Tinggi sebesar Rp 100 juta yang diberikan dalam dua tahap. Uang itu digunakannya untuk uji multi lokasi. Karena obat temuannya harus diuji di beberapa lokasi berbeda agar layak dikembangkan.

Juniawan harap-harap cemas. Jika di lokasi lain obat pisang temuannya itu tidak berhasil, maka penelitian bisa dianggap gagal. Uji multi lokasi itu dilakukan selama dua tahun, dari tahun 2006 hingga 2007. Hasilnya pun menggembirakan. Ia pun bisa bernapas lega karena eksperimen berhasil. Obat pisang bisa digunakan di semua lokasi. Hingga akhirnya pada tahun 2010, obat pisang Juniawan dipatenkan.

a�?Mengapa saya patenkan? Karena ini penyakit yang sangat ditakuti di dunia dan itu belum ada obatnya,a�? ujar bapak dua anak itu.

Ia tidak ingin karyanya diklaim orang luar, apalagi sampai mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia untuk mengatasi penyakit pisang. Artinya, selain menyelamatkan karya cipta, ia juga ingin menyelamatkan potensi alam Indonesia.

Penggunaan bahan alami seperti cengkeh bukan tanpa alasan. Juniawan ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kakayaan alam Indonesia sangat mahal dan sangat bermanfaat. Ia juga ingin membuat teknologi pertanian yang efekif dan efisien. Bahan bakunya mudah ditemukan dan hasilnya pun efektif.

a�?Obat ini murah meriah, terjangkau oleh petani karena kita tahu petani pisang bukan orang yang kaya,a�? ujar pegawai yang kini bekerja sebagai Widyaiswara Ahli Madya di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang itu.

Tapi sayang, di Lombok ia tidak bisa mengembangkan obat pisang temuannya. Sampai akhirnya Ia pindah ke Malang tahun 2012 silam. Dari kota Apel itulah, Juniawan bisa mengembangkan obat itu, dan memproduksi dalam jumlah banyak.

Obat Pisang yang diberi merek a�?OPISa�? itu kini telah banyak dimanfaatkan petani dari berbagai daerah di Indonesia, seperti di Pulau Jawa hampir semua memakai produknya. Mulai dari Lumajang, Kediri, Banyuwangi, Jember, Wonosobo, Magelang, Karang Anyar Jawa Tengah.

a�?Di Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan sebagainya sudah pakai ini juga,a�? kata doktor Ilmu Hama Penyakit Tumbuhan Universitas Brawijaya itu.

Dijual dengan Harga Murah

Untuk mempermudah penyebutan, obat itu diberi nama a�?OPISa�?. Singkatan dari Obat Pisang. Obat itu dibuat dalam bentuk bubuk dan dikemas dalam botol kecil. Harganya pun sangat murah. Hanya Rp 25 ribu per botol, sehingga sangat mudah dijangkau petani. Bahkan bila tidak ingin membeli, petani juga bisa membuat sendiri di rumah.

a�?Saya tidak mengejar untung, yang penting petani bisa mendapatkan obat dengan mudah,a�? katanya saat ditanya apakah tidak takut hasil risetnya digunakan para petani tanpa membeli obatnya.

Cara penggunaannya sangat sederhana. OPIS diencerkan 10 kali menggunakan air bersih, baru kemudian diambil dan disuntikkan pada pangkal batang pisang. Pohon pisang yang disuntikkan itu harus berumur di atas empat bulan, dengan tinggi sekitar 1,5 meter, dan cukup satu kali suntikan. Bagi pohon pisang yang terserang jamur Fusarium Oxysporum di bawah 75 persen, Ia jamin pohonya bisa hidup sampai berbuah.

a�?Buahnya juga layak untuk dikonsumsi,a�? katanya.

Bagaimana dedaunan bisa menjadi obat yang manjur? Juniawan memberikan bocoran cara kerja obatnya. Ia menjelaskan, semua bahan baku yang digunakan mengandung bahan aktif eugenol, yang bekerja secara sistemik dengan merusak dinding sel jamur. Apabila dinding sel jamur terkena senyawa egenol maka dinding selnya akan bolong. Sehingga keseimbangan dari sel itu akan terganggu. Akhirnya terjadi lisis, dimana cairan sel jamur terpompa keluar sehinga sel menjadi kempes dan mati.

a�?Eugenol itu bayak bisa didapatkan dari cengkeh, daun salam, daun duwet (juwet), kemangi, sirih dan sebagainya,a�? terangnya. (SIRTUPILLAILI, Mataram/r8)

 

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost