Lombok Post
Headline Politika

Sejarah Mencatat, Petahana Sering Tumbang

JADI MOTIVASI: Sejumlah baliho bakal calon Bupati Lobar 2018 yang berderatan dipasang masing-masing tim sukses diperbatasan Desa Ombe Baru, kemarin (12/9). DEWI/LOMBOK POST

MATARAM–Empat pilkada serentak yang dilangsungkan di NTB tahun depan menghadirkan sebuah kemiripan. Pilgub NTB, Pilwali Kota Bima, Pilbup Lombok Timur (Lotim), dan Pilbup Lombok Barat (Lobar) sama-sama menempatkan seorang petahana yang akan berlaga.

Uniknya, seluruh petahana itu berangkat dari posisi awal yang sama, yakni posisi orang nomor dua alias wakil. Pilgub NTB ada nama HM Amin, selanjutnya H Arahman Abidin di Kota Bima, dan H Haerul Warisin di Lotim. Bahkan H Fauzan Khalid yang kini menjabat bupati di Lobar sejatinya adalah wakil yang naik karena menggantikan bupati terdahulu yang terbelit kasus.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” post_type=”portfolio” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

“Petahana kuat itu adalah sebuah kewajaran,” analisa Zainal Abidin, Peneliti Poltrust NTB.

Namun yang patut diingat adalah saat pilkada sebelumnya, mereka bukanlah aktor utama kemenangan. Nama tenar TGB HM Zainul Majdi di NTB, HM Qurais Abidin di Kota Bima, HM Ali BD di Lotim, dan H Zaini Arony di Lobar adalah magnet utama kemenangan kala itu. Sehingga petahana kali ini sebenarnya tak bisa jumawa. Mereka bisa saja tersungkur dalam sengitnya pertarungan.

Sejarah di NTB mencatat sejumlah nama petahana yang sejak awal menjabat orang nomor satu bahkan pernah kalah. Gumi Selaparang adalah salah satu contoh daerah pertarungan tersengit. Berulang kali petahana kalah. Pilbup 2013 lalu, Ali BD tercatat sukses mengalahkan H Sukiman Azmi yang tengah menjabat bupati Lotim. Hal tersebut membalas kekalahan 2008 kala Ali yang berstatus petahana justru ditumbangkan Sukiman.

Di Loteng, Suhaili sebelum kini tercatat dua periode memimpin, mampu menumbangkan L Wiratmaja alias Miq Ngoh. Padahal kala itu Suhaili tak didukung Golkar, partai yang menaunginya. Kala itu, Mamiq Ngoh dipersepsikan tinggal dilantik saja, mengingat kekuatan dukungan partai politik dan posisinya sebagai petahana. Tapi jalan ceritanya berbeda.

Lombok Utara juga menyimpan kisah unik.Dalam pilbup terakhir, H Djohan Sjamsu yang sebelumnya menjabat bupati, dikalahkan H Najmul Akhyar, mantan wakilnya. Dalam kasus NTB sekalipun, ada contoh kekalahan petahana. TGB saat maju untuk pertama kali sukses mengalahkan HL Serinata yang tengah menjabat. Hanya mengandalkan duet PBB dan PKS kala itu, TGB sukses menjungkalkan koalisi partai-partai besar.

Padahal dalam berbagai survei, petahana selalu diunggulkan. Posisi yang tengah menggenggam kekuasaan juga menjadi kekuatan lain. Memegang birokrasi dan menguasai anggaran adalah kelebihan seorang petahan. Namun hal itu terbukti bukanlah segalanya.

A�”Kuatnya petahana bukan berarti tak bisa dikalahkan,” kata Zainal.

Terlebih dalam kasus kali ini, petahana yang maju adalah petahana “nomor dua”. Di Kota Bima, Aji Man tak tampak dominan sama sekali. Ada H Lutfi, Anggota DPR RI yang menjadi penantang. Bahkan banyak yang mengatakan posisi penantang kini sangat kuat. Pergerakannya yang memborong partai adalah tanda bahaya bagi petahana.

“Lutfi tidak bisa diremehkan, dia kuat,” kata pakar komunikasi politik UIN Mataram Dr Kadri.

Di Lotim, posisi Warisin tak kalah genting. Ada nama H Sukiman Azmi yang kini muncul sebagai penantang yang sangat diperhitungkan. Daerah terpadat di NTB tersebut juga memunculkan nama HM Syamsul Luthfi, Anggota DPR RI yang mewarisi trah NW Pancor dengan dukungan penuh Demokrat sebagai partai terbesar di sana.

“Saya optimis dengan peluang saya, tak merasa inferior sedikitpun dengan petahana,” kata Luthfi.

Di Lobar posisi Fauzan tampak lebih baik. Dia yang kini menjadi kepala daerah tunggal pascamenggantikan Zaini dan tak menunjuk wakil tampak sangat dominan. Fauzan juga menjadi aktor penting aksi borong partai. Namun para penantang tak menunjukkan sikap minder sedikitpun. Ada sederet nama beken seperti TGH Hasanain, H Izzul Islam, dan Nauvar Farinduan.

A�”Saya tetap maju dengan optimis,” kata Farin, putra mantan bupati Zaini yang digantikan Fauzan.

Di NTB, Amin tampak lebih penuh pertimbangan. Setelah TGB tak lagi bisa maju, Amin tak lantas mengejar posisi nomor satu. Ia tetap mengincar posisi wakil, berpasangan dengan Suhaili.

“Ini pilihan realistis terbaik,” katanya.

Pilihan itu seolah mengkonfirmasi keraguannya akan peluang menang jika memaksakan noner satu. Petahana bukan tak mungkin kalah. (yuk/r4)

 

Berita Lainnya

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Baru Satu Kabupaten Ajukan UMK

Redaksi LombokPost