Lombok Post
Headline Metropolis

Jagalah Sebelum Mata Air Itu Jadi Air Mata!

SEGARNYA MATA AIR: Sejumlah anak kecil bermain di Kolam Sayung, Lingkungan Karang Tapen, Kelurahan Cilinaya, Kecamatan Cakranegara. Lalu Mohammad/Lombok Post

Kota Mataram diperkirakan memiliki belasan titik mata air. Beberapa di antaranya masih mengeluarkan debit air cukup besar. Walau tak sedikit di antaranya menyusut, mengering.

————————-

SATU titik ada di Kelurahan Sayang-sayang, Kecamatan Cakranegara. Mata air ini disebut Lingkoq Mas. Menutut penuturan warga, mata air ini tidak pernah kering. Saat Lombok Post beberapa waktu lalu mengunjungi tempat ini, mata air ini mengalir jernih.

a�?Sudah lama dimanfaatkan warga,a�? kata Heri salah satu warga punya rumah tak jauh dari Lingkoq Mas.

Tempat itu dijadikan pemandian umum. Selain membangun tembok dan bak untuk menampung air, tak jauh dari tempat itu ada langgar. Jadi setelah membersihkan diri di mata air, masyarakat khususnya yang beragama Islam,A� bisa beribadah di sana.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” post_type=”portfolio” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Dulu airnya sangat besar,a�? kata Hakim, pria sepuh yang tinggal tak jauh dari mata air itu.

Walau sudah tinggal sangat lama di sana, Hakim mengaku tidak tahu, kapan persisnya mata air itu ada. Ia dan warga lainnya tiba-tiba saja telah diwarisi sebuah bak dari bebatuan, sebelum di tembok, yang lalu dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya.

a�?Dulu di sana banyak rumpun bambu dan pohon waru, tapi sekarang tinggal sedikit,a�? tuturnya.

Dirambahnya rumpun bambu dan pepohonan lain, di sekitar Lingkoq Mas ternyata berpengaruh pada debit air yang keluar. Hakim bercerita dulu Lingkoq Mas airnya sangat besar. Sampai meluber ke mana-mana. Tapi kini, airnya mengecil. Bahkan tidak mampu melewati bibir bak.

a�?Kecuali kalau musim hujan,a�? jelasnya.

Tak jauh dari mata air Lingkoq Mas ada mata air Lingkoq Nunang. Letaknya di Lingkungan Rungkang Jangkuk. Debit air yang dikeluarkan mata air ini, lebih besar. Bahkan mata air ini telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sejumlah warga.

a�?Airnya tidak pernah habis,a�? salah seorang warga yang tengah memanfaatkan air untuk keperluan mencuci.

Beralih dari kawasan Sayang-Sayang ke Sekarbela. Warga di sini bahkan hanya sedikit memanfaatkan PDAM untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Mereka telah punya mata yang tak pernah kering. Salah satunya di Masjid Al Raisyiah, Karang Pule, Sekarbela.

Salah satu pria sepuh berusia 85 tahun yang ditemui Lombok Post beberapa waktu lalu, Haji Sohri menuturkan mata air itu mulai ditemukan sekitar abad ke 17 masehi.

a�?Penemunya Maulana Saikh Gauz Abdurrazak,a�? cerita Sohri merujuk pada kisah yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Sejak itu kawasan yang konon dulu kering kerontang, berubah jadi basah. Warga-warga yang menggalir sumur, tidak perlu sampai puluhan meter menggali. Cukup hanya beberapa depa, biasanya lapisan tanah sudah basah dan megeluarkan air bersih.

a�?Rasa dan bersihnya tak jauh beda dengan air PDAM,a�? ulasnya.

Mata air dengan volume besar, ada juga di Sayung, Lingkungan Karang Tapen, Kelurahan Cilinaya, Kecamatan Cakranegara. Bahkan UPTD Laboratoium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram sudah turun memantau langsung salah satu mata air ini.

a�?Itu salah satu yang terbesar,a�? kata Kepala UPTD Laboratorium Lingkungan Salikin.

Pihak Lingkungan Hidup tengah gencar mendata potensi mata air di Kota Mataram. Salikin mengatakan pendataan belum tuntas. Namun ia menaksir jumlahnya belasan mata air. Pendataan baru dimulai beberapa minggu kemarin. a�?Semoga minggu depan selesai semua,a�? imbuhnya.

Pendataan penting dilakukan. Untuk mengetahui kondisi dan bagaimana masyarakat sekitar memanfaatkannya. Sehingga ke depan bisa dipikirkan langkah konservasi kelangsungan mata air-mata air di Kota Mataram.

a�?Data rincinya ada di staf saya, masih kita olah berapa jumlahnya, berapa yang masih aktif memancarkan mata air atau yang sudah kering,a�? terangnya.

Mata air yang masih memancarkan air dengan baik harus dipantau secara rutin kondisi dan kualitasnya. Untuk selanjutnya mengetahui langkah apa yang sebaiknya dilakukan, untuk menjaga kelestariannya.

a�?Kemungkinanan akan dibangunkan bangunan pelindung mata air sebagai upaya melakukan konservasi,a�? ujarnya.

Ditanya apakah ada rasa khawatir, suatu saat mata air itu hilang karena masifnya pembangunan? Salikin mengaku pihaknya sudah berpikir ke arah sana. Mau tidak mau semakin tingginya ledakan jumlah penduduk di kota, akan mempengaruhi semakin banyak jumlah hunian di kota.

Pada akhirnya, habitat alam yang mempengaruhi secara langsung mata air di kota seperti pohon-pohon juga akan menyusut. Karenanya banyak mata air yang akhirnya debit airnya menyusut.

a�?Tergantung pada letak dan kondisi mata airnya, makanya salah satu tujuan kita melakukan inventarisasi, supaya dapat tentukan langkah konservasi yang bisa kita usulkan ke depan,a�? terangnya.

Jika mata air ini berhasil di lestarikan dan debit komulatif memungkinkan memenuhi kebutuhan air bersih warga kota, Salikin mengatakan tidak mustahil mengarah ke kemandirian PDAM. Seperti di ketahui saat ini Kota Mataram masih berbagi dengan Pemerintah Lombok Barat untuk pemenuhan air bersih melalui perusahaan PDAM Giri Menang.

a�?Betul, kita ada potensi seperti itu walaupun butuh kajian lebih mendalam untuk memastikannya,a�? jelasnya.

Mata air di Karang Tapen itu dikatakannya salah satu yang terbesar di Kota Mataram. Tetapi Salikin sedikit ragu, jika pada akhirnya nanti di sebelah utara dari mata air, dibangun hotel. Kemungkinan akan berpengaruh pada volume mata air yang saat ini mengalir cukup besar.

a�?Entah akan bertahan berapa lama kalau nanti NCC akan jadi dibangun di sebelahnya, belum lagi akan dibangun juga hotel,a�? cetusnya.

Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram I Gede Wiska, mendukung penuh langkah pendataan mata air ini. Wiska merasa sudah saatnya Mataram melakukan pengkajian potensi alamnya. Sehingga nanti bisa dicari langkah melakukan konservasi atau perlindungan.

a�?Lingkungan hidup saya rasa sudah seharusnya berpikir ke arah itu, untuk mengkonservasi mata air-mata air kita, agar selamat dari pesatnya pembangunan,a�? ujar Wiska.

Lalu langkah yang kedua, setelah melakukan konsevasi, Wiska juga mendorong agar pihak Dinas Lingkungan Hidup melakukan kajian potensi. Seberapa besar kemungkinan mata air itu, menyuplai kebutuhan air bersih di Kota Mataram.

a�?Berapapun hasilnya harus disampaikan, sehingga bisa dipikirkan langkah lanjutan untuk memenuhi kebutuhan yang sisa,a�? jelasnya.

Di Lombok Barat sendiri, lanjut Wiska masih banyak mata air-mata air yang belum dimanfaatkan secara baik oleh perusahaan air minum. Jika mengacu pada Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, pengelolaan air tanah sudah jadi kewenangan pemerintah provinsi.

a�?Dengan kata lain walau mata air berada di wilayah Lombok Barat, jika pemerintah kota punya PDAM sendiri, nanti bisa ajukan izin untuk kelola mata air itu,a�? ulasnya.

Maka kekurangan volume mata air yang bisa dipenuhi dengan mata air di dalam kota, bisa dipenuhi dengan mata air dari sumber-sumber di Lombok Barat. a�?Dengan begitu kita punya harapan untuk berdiri sendiri,a�? ulasnya.

Persoalannya tinggal keberanian dan kemauan Pemerintah Kota Mataram untuk memiliki PDAM sendiri. Sebab jika dipikir-pikir seharusnya pemerintah kota, mampu untuk memiliki perusahaan air minum. Tanpa harus berbagi dengan pemerintah Lombok Barat.

a�?Apalagi seperti di Sekarbela itu, saya dapat informasi dari Tuan Guru Muji, airnya malah gak pernah kering-kering,a�? terangnya.

Jika pemerintah kota berani mengambil langkah besar, maka akan ada banyak manfaat yang didapat dengan memiliki PDAM sendiri. Di antaranya memaksimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga, tidak seperti saat ini, nilai investasi besar, tetapi pemasukan bagi daerah sangat minimalis.

a�?Saya malah baru (kemarin, Red) dapat laporan dari BTN Babakan, warga di sana harus begadang menunggu air datang pada tengah malam,a�? jelasnya.

Selain itu, keluhan kerap datang dari BTN Sweta, dan juga Lingkungan Lendang Lekong, Kelurahan Mandalika, Kecamatan Sandubaya.

a�?Airnya baru datang jam 10 malam. Saya pikir ini tanda PDAM sekarang sudah mulai kesulitan melayani pelanggan, dan kita harus memikirkan langkah selanjutnya,a�? tantangnya.

Senada disampaikan Wiska, Anggota Komisi III lainnya I Ketut Sugiartha juga berharap pemerintah mulai memetakan kondisi geografis daerah kota. Berikut potensi-potensi mata airnya.

a�?Saya rasa inovasi harus mulai dilakukan dari sekarang, lalu setelah itu melakukan studi kelayakan,a�? tantang Sugiarta.

Sehingga puncak di mana tumbuh kembang kota sangat pesat nanti, di mana PDAM Giri Menang sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bersih warga kota, maka pemerintah menurutnya harus sudah siap mandiri.

Soal potensi Sugiartha menilai sangat banyak. Mulai dari mata air-mata air yang saat ini tengah di data oleh Dinas Lingkungan Hidup, sampai mata air dalam bentuk air sungai yang tak pernah kering di kota.

a�?Kalau di tempat lain dengan teknologi, bisa memilah air laut menjadi air baku, kenapa air sungai yang saya rasa harusnya lebih mudah, kita tidak bisa?a�? ujarnya.

Pemkot bisa membuat penampungan-penampungan di hulu sungai. Lalu memasang teknologi untuk melakukan pemilahan air. Ia yakin, ini nanti akan dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga kota. a�?Saya pikir hal ini juga akan dapat mengurangi ancaman banjir, jika kita bisa memanfaatkan air itu untuk kebutuhan sehari-hari,a�? tutupnya.

Pemerintah dalam hematnya memang sudah harus mulai bergerak. Potensi-potensi mata air keburu lenyap karena terlambat melakukan konservasi. Masyarakat pun berurai air mata, karena kesulitan mendapatkan akses air beresih.A� (zad/r3)

 

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost